Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Klaim Penyelesaian Perang Rusia-Ukraina Makin Dekat
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di Gereja St. John's. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Donald Trump mengklaim penyelesaian perang Rusia-Ukraina semakin dekat setelah berbicara dengan Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskyy melalui panggilan telepon pekan lalu.
  • Trump berencana melanjutkan negosiasi damai yang sempat tertunda karena fokus Amerika Serikat pada konflik Iran, sementara Rusia dan Ukraina menyambut baik inisiatif tersebut.
  • Meskipun ada rencana negosiasi ulang, kedua negara masih saling serang; serangan udara Rusia menewaskan 15 orang di Kyiv, sedangkan Ukraina menyerang kilang minyak besar di Omsk.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim penyelesaian perang antara Rusia dan Ukraina semakin dekat. Klaim tersebut disampaikan Trump usai dirinya berbincang dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, melalui panggilan telepon pada pekan lalu.

“Ini adalah salah satu hal yang menurut saya kita semakin dekat dengan penyelesaiannya (perang Rusia dan Ukraina). Ini lebih dekat dari yang disadari orang-orang. Presiden (Vladimir) Putin ingin ini berakhir. Saya akan mengatakan itu dengan sangat tegas. Presiden (Volodymyr) Zelenskyy juga menginginkan ini berakhir,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Senin (6/7/2026), seperti dikutip The Strait Times

1. Trump akan melanjutkan negosiasi damai Rusia dan Ukraina

ilustrasi negosiasi damai (pexels.com/Markus Winkler)

Saat menelepon Putin dan Zelenskyy, Trump menyampaikan bahwa dirinya akan melanjutkan proses negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina. Sebab, negosiasi Rusia dan Ukraina sudah tertunda selama berbulan-bulan karena AS fokus pada perang Iran. Moskow dan Kyiv tidak bisa melanjutkan negosiasi tanpa kehadiran Washington. Sebab, AS berperan sebagai mediator utama antara Rusia dan Ukraina. 

Negosiasi damai terakhir yang dilakukan Rusia dan Ukraina terjadi pada 17 dan 18 Februari lalu. Kala itu, kedua negara melakukan negosiasi damai tahap ke-3 di Jenewa, Swiss.  Namun, upaya itu masih belum mampu menghasilkan perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Sebab, kedua negara masih saling serang hingga saat ini. 

2. Rusia dan Ukraina menyambut baik niat Trump untuk melanjutkan negosiasi

potret bendera Rusia dan Ukraina (unsplash.com/Zulfugar Karimov)

Niat Trump untuk melanjutkan negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina ini disambut baik oleh kedua negara. Rusia dan Ukraina menyatakan siap untuk melanjutkan negosiasi damai agar perang bisa segera berakhir. Kendati demikian, belum ada info lebih lanjut kapan Trump akan memulai kembali negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina.

“Presiden Donald Trump ingin berada di tempat di mana ada kesuksesan. Itu terkait dengan banyak hal. Tidak hanya dengan kepribadiannya, tetapi juga dengan pemilihan umum (parlemen AS) yang akan datang, dengan statusnya, dan dengan keyakinannya tentang bagaimana perang ini dapat diakhiri,” ujar Zelenskyy. 

3. Rusia dan Ukraina masih baku serang hingga saat ini

Sebuah bangunan tempat tinggal di Kota Kyiv, Ukraina, hancur akibat serangan Rusia. (pexels.com/Алесь Усцінаў)

Hingga saat ini, Rusia dan Ukraina masih terlibat baku serang. Serangan terbaru Rusia ke Ukraina terjadi pada Senin kemarin. Kala itu, Rusia meluncurkan serangan udara besar-besaran ke ibu kota Ukraina, Kyiv, hingga menewaskan 15 orang. Sementara itu, 56 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. 

Pada waktu yang sama, pasukan militer Ukraina juga meluncurkan serangan rudal ke kilang minyak terbesar Rusia di Negara Bagian Omsk. Serangan itu menyebabkan kerusakan yang sangat parah. “Terjadi benturan yang diikuti kebakaran di wilayah (kilang). Besarnya kerusakan sedang diverifikasi. Ini adalah kilang terakhir dari 11 produsen bensin terbesar di Rusia yang terkena dampak,” kata seorang pejabat Ukraina anonim dalam sebuah pernyataan di Facebook, seperti dikutip The Moscow Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article