Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bentrokan di Penjara Sri Lanka Menewaskan 25 Orang

Bentrokan di Penjara Sri Lanka Menewaskan 25 Orang
ilustrasi penjara (unsplash.com/Emiliano Bar)
Intinya Sih
  • Kerusuhan besar di Lapas Negombo, Sri Lanka, menewaskan 25 orang dan melukai sekitar 100 lainnya setelah bentrokan antarkelompok tahanan pecah saat jam sarapan.
  • Penyelidikan awal menunjukkan kerusuhan dipicu perebutan pengaruh antar-faksi kartel narkoba, dengan korban luka dirawat di Rumah Sakit Negombo dan beberapa dirujuk ke Colombo.
  • Pemerintah mengerahkan pasukan keamanan serta membentuk tim investigasi independen untuk mengusut insiden, sambil menghadapi desakan reformasi sistem peradilan akibat kelebihan kapasitas penjara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kerusuhan antarkelompok melanda sebuah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di wilayah pesisir Negombo, Sri Lanka, pada Senin (6/7/2026). Insiden tersebut mengakibatkan sedikitnya 25 orang tewas dan sekitar 100 orang lainnya luka-luka.

Otoritas keamanan setempat segera mengambil tindakan darurat untuk mengendalikan situasi di dalam fasilitas penahanan. Saat ini, pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap pemicu utama serta dalang di balik bentrokan tersebut.

1. Kronologi kerusuhan massal antartahanan saat jam sarapan

Ilustrasi penjara. (unsplash.com/Matthew Ansley)
Ilustrasi penjara. (unsplash.com/Matthew Ansley)

Bentrokan di fasilitas yang menampung sekitar 2.400 narapidana ini bermula dari ketegangan fisik pada Minggu sore. Perselisihan melibatkan kelompok tahanan dengan vonis tetap melawan kelompok tahanan titipan sementara.

Situasi memuncak menjadi kerusuhan massal pada Senin pagi saat para tahanan sedang menyantap sarapan. Mereka menyerang menggunakan senjata tajam dan mencoba mendobrak pintu gerbang utama untuk melarikan diri.

Penyelidikan awal menunjukkan kekerasan dipicu oleh perebutan pengaruh antar-faksi pendukung kartel narkoba. Mereka saling menyerang menggunakan senjata rakitan serta senjata api yang dirampas dari petugas penjaga.

2. Proses penanganan medis di rumah sakit

ilustrasi penjara (freepik.com/fab
ilustrasi penjara (freepik.com/fab

Insiden ini menewaskan 25 orang yang terdiri dari narapidana dan beberapa petugas sipir yang terjebak di tengah massa. Proses evakuasi berjalan lambat karena aparat harus memastikan kondisi keamanan di dalam blok sel terlebih dahulu.

Sebanyak 100 korban luka dievakuasi ke Rumah Sakit Negombo, sedangkan belasan pasien dalam kondisi kritis dirujuk ke pusat medis di Colombo. Korban rata-rata menderita luka tembak, luka sabetan senjata tajam, serta benturan benda tumpul.

"Ada sekitar 100 orang terluka yang dibawa ke rumah sakit ini, dan beberapa di antaranya menderita luka tembak," kata Direktur Rumah Sakit Negombo, Dr. Pushpa Gamlath.

Kerusuhan juga meluas ke blok perempuan setelah para tahanan melakukan aksi protes di atas atap. Beberapa di antaranya terluka karena sebagian struktur atap bangunan runtuh.

3. Pengerahan aparat keamanan untuk mengendalikan situasi penjara

Ilustrasi penjara (unsplash.com/engin akyurt)
Ilustrasi penjara (unsplash.com/engin akyurt)

Pemerintah Sri Lanka mengerahkan helikopter militer, pesawat tanpa awak (drone), serta pasukan komando kepolisian untuk mengepung seluruh kompleks penjara. Langkah ini berhasil mengendalikan keadaan dan mencegah aksi melarikan diri massal.

Kementerian Kehakiman langsung membentuk tim investigasi independen untuk mengusut tuntas insiden ini. Pemerintah berkomitmen menindak tegas setiap kelalaian prosedur penjagaan yang memicu kerusuhan.

"Latar belakang mereka sebagai narapidana atau anggota kelompok kriminal tidak penting saat ini, karena fokus utama kami adalah adanya korban jiwa," ujar Menteri Kehakiman Sri Lanka, Harshana Nanayakkara, dilansir Al Jazeera.

Peristiwa ini kembali memicu sorotan publik dan lembaga kemanusiaan terkait masalah kelebihan kapasitas di penjara Sri Lanka. Reformasi sistem peradilan kini didesak secara menyeluruh agar insiden serupa tidak terulang kembali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More