Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Longgarkan Sikap Soal Nuklir Korut, Beda Total dengan Isu Iran
Kim Jong-Un Bertemu Presiden Donald Trump di Singapura, 12 Juni 2018. (Shealeah Craighead, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Trump menilai nuklir Korut bukan kekhawatiran besar karena hubungan personalnya dengan Kim Jong Un, berbeda dengan sikap tegas AS terhadap program nuklir Iran.
  • Trump berencana bertemu Kim sebelum akhir 2026 saat kunjungan ke China untuk KTT APEC, sambil memangkas durasi latihan gabungan AS-Korsel.
  • Korut terus memperkuat kemampuan nuklir, rudal, serta kerja sama pertahanan dengan Rusia dan China; Pyongyang merespons dingin rencana diplomasi Washington.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menilai kemampuan nuklir Korea Utara (Korut) tak perlu menjadi kekhawatiran karena dirinya memiliki hubungan personal yang baik dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un. Saat memberikan keterangan di Washington pada Selasa (29/9/2026), Trump menyebut perbedaan pendekatan terhadap program nuklir Korut dan Iran dipengaruhi kepemimpinan AS sebelumnya, sekaligus menuding Presiden Joe Biden gagal menangani Pyongyang.

Trump menyebut kapasitas nuklir Pyongyang cukup besar, tetapi kedekatannya dengan Kim dinilai dapat menekan potensi ancaman tersebut.

“Dia tidak menyukai banyak orang lain. Saya adalah satu-satunya orang di seluruh dunia yang dia sukai, dan saya menyukainya. Selama saya ada, dia akan baik-baik saja. Anda tahu kenapa? Karena dia menghormati saya dan dia menyukai saya.” kata Trump, dikutip The Independent.

1. Trump bedakan penanganan nuklir Korut dengan Iran

Presiden AS, Donald Trump (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic, via Wikimedia Commons)

Pendekatan Trump terhadap Korut berbeda dengan sikap tegas AS yang melarang Iran mengembangkan senjata nuklir. Perbedaan kebijakan Washington itu muncul ketika konflik bersenjata AS dan Israel melawan Iran memasuki bulan kedelapan sejak 28 Februari 2026. Iran membantah berupaya membuat senjata nuklir dan mengacu pada perjanjian 2015 yang membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas peringanan sanksi ekonomi, meski Trump meninggalkan kesepakatan tersebut pada 2018.

Terkait jumlah persenjataan, Trump menyebut persediaan senjata Korut cukup besar meski masih berada di bawah milik Washington, berdasarkan laporan Al Jazeera. Angka hulu ledak nuklir Pyongyang juga berbeda dalam sejumlah perkiraan, dengan Trump pernah menyebut 57 hulu ledak. Menteri Pertahanan Korea Selatan (Korsel) Ahn Gyu-back memperkirakan jumlah sebenarnya mencapai 80-120 hulu ledak nuklir.

2. Trump siapkan pertemuan baru dengan Kim

Presiden Donald J. Trump menyalami Kim Jong Un, Pemimpin Partai Buruh Korea, pada Minggu, 30 Juni 2019, ketika keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea. (Foto resmi dari Gedung Putih, diambil oleh Shealah Craighead, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Trump berencana kembali bertemu Kim sebelum akhir tahun ini. Media Amerika yang mengutip sumber anonim melaporkan Trump telah meminta para ajudannya menyiapkan jadwal pertemuan tersebut di sela kunjungannya ke China untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), melanjutkan diplomasi pada 2018 ketika Trump menjadi presiden AS aktif pertama yang bertemu pemimpin Korut sebelum perundingan terhenti pada 2019 akibat tuntutan Washington agar Pyongyang melucuti senjata nuklirnya.

Upaya diplomasi itu juga diikuti Trump dengan memangkas durasi latihan militer gabungan Ulchi Freedom Shield bersama Korsel selama 11 hari. Penyesuaian tersebut dilakukan karena latihan militer dinilai memicu permusuhan dengan Korut sekaligus menambah beban anggaran AS.

3. Korut perluas kapasitas militer dan aliansi pertahanan

ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri)

Di tengah dinamika diplomasi tersebut, Korut terus meningkatkan kapasitas militernya melalui enam kali uji bom nuklir serta pengembangan peluru kendali jarak jauh yang membawa hulu ledak nuklir. Pyongyang juga memperkuat hubungan pertahanan dengan Rusia dan China. Pemimpin Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan Korut telah mengerahkan 8 ribu prajurit untuk membantu Rusia dan menyiapkan 10 ribu tentara tambahan.

Langkah diplomasi Washington tersebut mendapat tanggapan dingin dari Pyongyang, dengan saudari Kim yang berpengaruh, Kim Yo Jong, menyatakan Korut tak akan merespons positif tindakan AS.

“Jika Amerika melihatnya sebagai semacam tindakan niat baik, mereka tidak akan mendapatkan jawaban yang mereka inginkan,” katanya.

Yo Jong mengaku tak mengetahui adanya komunikasi langsung antara Trump dan Kim meski membenarkan bahwa Kim masih menyimpan kesan baik terhadap Trump.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article