Korut Tolak Resolusi IAEA, Sebut Status Senjata Nuklirnya Permanen

- Korea Utara menolak resolusi IAEA yang menuntut denuklirisasi, sementara Kim Yo Jong menegaskan status negaranya sebagai pemilik senjata nuklir bersifat permanen.
- IAEA melaporkan indikasi perluasan pengayaan uranium dan operasi reaktor Korut; Seoul memperkirakan Pyongyang memiliki 80–120 hulu ledak, didukung pendapatan pekerja luar negeri.
- Korut mengecam latihan Freedom Edge AS, Korea Selatan, dan Jepang, lalu meluncurkan rudal balistik jarak pendek serta melanjutkan modernisasi armada dan produksi amunisi.
Jakarta, IDN Times - Korea Utara (Korut) menolak resolusi Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang menuntut pembongkaran program senjata nuklirnya pada Sabtu (19/9/2026). Adik pemimpin Korut Kim Jong Un, Kim Yo Jong, menegaskan status negaranya sebagai negara pemilik senjata nuklir sudah bersifat permanen dan tidak bisa diubah oleh siapa pun.
Pernyataan tersebut merespons resolusi yang disahkan dalam Konferensi Umum IAEA di Wina, Austria. Pyongyang menuduh badan pengawas nuklir PBB tersebut bersikap bias serta hanya melayani kepentingan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.
1. Korut kritik standar ganda IAEA dan tolak denuklirisasi

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons) Kim Yo Jong menuding pandangan bias dan standar ganda IAEA menjadi faktor utama yang merusak sistem nonproliferasi nuklir internasional. Menurutnya, lembaga tersebut sengaja menutup mata terhadap aktivitas militer AS yang dinilai menyebarkan ancaman nuklir.
Pyongyang menyoroti sikap diam IAEA atas penempatan senjata nuklir AS di Eropa dan kesepakatan pencegahan terpadu bersama Korea Selatan serta Jepang. Korut juga mengkritik rencana AS membagikan teknologi kapal selam bertenaga nuklir kepada Korsel.
Di sisi lain, resolusi IAEA mendesak Korut mematuhi kewajiban internasional sesuai mandat Dewan Keamanan PBB dan segera melakukan denuklirisasi penuh. Laporan tahunan IAEA sebelum konferensi memperingatkan adanya indikasi perluasan fasilitas pengayaan uranium dan pengoperasian reaktor nuklir di Korut.
"Kami tidak akan pernah menggadaikan kedaulatan dan hak keamanan kami kepada AS dan Barat dalam keadaan apa pun," tegas Kim Yo Jong, dilansir Yonhap News Agency.
2. Korut diprediksi memiliki hingga 120 hulu ledak nuklir

Bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli) Program senjata nuklir Korut terus berkembang meski menghadapi sanksi ekonomi internasional selama bertahun-tahun. Presiden AS Donald Trump pernah mengungkap bahwa Pyongyang saat ini memiliki 57 senjata nuklir berkekuatan tinggi. Sementara itu, Korsel menaksir Korut memiliki persediaan antara 80 hingga 120 hulu ledak nuklir.
Program nuklir tersebut dilaporkan mendapat sokongan dana dari penempatan tenaga kerja Korut di luar negeri. Temuan Multilateral Sanctions Monitoring Team mengungkap keberadaan jaringan global pekerja migran ilegal yang dimanfaatkan Pyongyang untuk menghindari sanksi PBB.
Laporan itu mencatat sekitar 35 ribu hingga 101 ribu warga Korut bekerja di sektor industri dan perikanan, terutama di Rusia dan China. Pemerintah Korut diprediksi mengumpulkan antara 450 juta hingga 800 juta dolar AS (Rp8-14 triliun) dari para pekerja tersebut sepanjang tahun lalu untuk membiayai program senjata nuklir.
3. Korut kecam latihan militer AS, Korsel dan Jepang

peluncuran rudal dari USS Fitzgerald (DoD photo by U.S. Navy, Public domain, via Wikimedia Commons) Selain mengecam resolusi IAEA, Korut juga mengkritik latihan militer trilateral bertajuk Freedom Edge yang melibatkan AS, Korsel, dan Jepang. Latihan maritim selama lima hari di sekitar Pulau Jeju tersebut dipandang Pyongyang sebagai simulasi perang yang mengancam stabilitas kawasan.
Sehari setelah latihan gabungan itu berakhir, militer Korut langsung merespons dengan meluncurkan sejumlah rudal balistik jarak pendek ke arah laut timur. Rudal-rudal tersebut menempuh jarak sekitar 250 kilometer sebelum jatuh ke perairan.
"Kehendak kami untuk membela kedaulatan akan dinyatakan dalam tindakan yang lebih jelas, dan tidak akan pernah ada perubahan dalam memperkuat penangkal perang nuklir," ujar Kim Yo Jong, dilansir Japan Times.
Di sisi lain, Korut terus memodernisasi armada laut dengan meresmikan kapal perusak kelas 5.000 ton kedua yang dirancang untuk membawa senjata nuklir. Kim Jong Un juga dilaporkan baru melakukan inspeksi tiga hari ke sejumlah pabrik amunisi utama.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















