Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Ubah Istilah Artificial Intelligence Jadi Super Intelligence

3 min read
Trump Ubah Istilah Artificial Intelligence Jadi Super Intelligence
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Darron Birgenheier via commons.wikimedia.org/Darron Birgenheier)
  • Donald Trump menandatangani perintah eksekutif pada 29 September 2026 untuk mengganti istilah artificial intelligence menjadi super intelligence di pemerintahan AS.
  • Kementerian, organisasi, dan badan federal diwajibkan memakai istilah serta teknologi SI dalam korespondensi resmi, komunikasi publik, dokumen kebijakan, dan materi nonhukum.
  • Gedung Putih menyebut perubahan ini mencerminkan klaim Trump bahwa AS memimpin kecerdasan super; sebelumnya ia juga mengusulkan perubahan nama Danau Ontario dan Selat Hormuz.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah menandatangani perintah eksekutif kepada para jajarannya untuk mengubah istilah artificial intelligence (AI) menjadi super intelligence (SI). Perintah tersebut ditandatangani pada Selasa (29/9/2026) kemarin. 

Perintah ini mewajibkan seluruh kementerian, organisasi, dan badan-badan yang ada di Pemerintahan AS untuk menggunakan teknologi SI dalam berbagai aktivitas. Beberapa di antaranya, seperti korespondensi resmi, komunikasi publik, pembuatan dokumen kebijakan, dan pembuatan materi nonhukum lainnya. Selain itu, mereka juga diminta untuk berhenti menggunakan istilah AI dan menggantinya dengan istilah SI dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

  1. 1. Trump mengklaim AS adalah pemimpin perkembangan AI

    Kecerdasan buatan.
    ilustrasi AI (unsplash.com/Igor Omilaev)

    Dalam pernyataannya, Gedung Putih menjelaskan, perubahan istilah AI menjadi SI ini bertujuan untuk menyesuaikan istilah tersebut dengan AS. Sebab, Trump mengklaim Negeri Paman Sam merupakan negara pemimpin perkembangan AI yang kini sudah menjadi teknologi super yang semakin mendominasi berbagai lini kehidupan manusia.

    “Amerika Serikat adalah pemimpin dunia dalam kecerdasan super. Pemerintah federal harus menggunakan nama yang mencerminkan janji dan peluang penuh dari teknologi ini. Presiden Trump telah mengambil tindakan tegas untuk memastikan bahwa Amerika memimpin dan menang dalam kecerdasan super dan bahwa semua warga Amerika mendapat manfaat dari kecerdasan super dan manfaat ekonominya yang sangat besar,” bunyi pernyataan resmi Gedung Putih di laman resminya.

  2. 2. Trump sering mengubah nama dan istilah penting

    Danau Ontario.
    potret Danau Ontario (truthsocial.com/@realDonaldTrump)

    Trump sendiri memang terkenal sering mengubah nama dan istilah penting yang sudah dikenal luas dunia memakai istilahnya sendiri. Pada Agustus lalu, misalnya, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengubah nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika. Padahal, wilayah danau tersebut bukan hanya dikuasai oleh AS, melainkan juga oleh Kanada. Sekitar 55 persen wilayah danau itu juga merupakan wilayah Kanada.

    Aksi ini akhirnya dikecam oleh Perdana Menteri Kanada, Mark Carney. Dalam pernyataannya, Carney mengatakan bahwa berdasarkan sejarah, Danau Ontario sudah bernama Danau Ontario. Nama itu sudah dipakai sejak dahulu kala sehingga tidak bisa diubah lagi. Oleh karena itu, Carney menganggap perubahan nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika sebagai tindakan yang melanggar hukum.

    “Nama Danau Ontario berasal dari kata Wendat Ontari'io yang berarti ‘Danau itu indah, danau itu besar’. Kita tahu, bahwa Amerika (Serikat) sedang berubah. Hubungan perdagangan mereka, kebijakan luar negeri mereka, monumen nasional mereka, nama-nama tempat di danau mereka,” tulis Carney di media sosial X dikutip The Hill. 

  3. 3. Trump mengusulkan perubahan nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump

    Peta Selat Hormuz yang sudah jadi wilayah teritorial Amerika Serikat.
    Peta Selat Hormuz yang sudah jadi wilayah teritorial Amerika Serikat. (truthsocial.com/@realDonaldTrump)

    Pada awal September lalu, Trump juga mengusulkan perubahan nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump. Sebab, Presiden AS ke-45 dan ke-47 itu mengklaim Selat Hormuz kini sudah sepenuhnya dikuasai oleh AS, bukan Iran. Padahal, dalam praktiknya, selat tersebut hingga saat ini masih berada dalam pengawasan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

    “Sekarang, setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengganti nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump? Seperti Amerika sendiri, situasinya akan lebih panas dari sebelumnya!” tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social dilansir Al Jazeera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More