Mesra dengan Netanyahu, Trump: Saya Tak Percaya Siapa pun di Politik

- Donald Trump menyatakan tidak memercayai siapa pun di dunia politik, meski menegaskan hubungan personal dan diplomatisnya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap sangat baik.
- Trump mengonfirmasi adanya permintaan dari Israel agar ia membantu kampanye Netanyahu menjelang pemilihan legislatif Israel pada 27 Oktober 2026, saat kerja sama militer kedua negara disebut solid.
- Trump meyakini perundingan Washington dan Teheran segera mengakhiri perang Iran, menurunkan harga minyak dan BBM global, serta menepis spekulasi penggunaan senjata nuklir AS.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan tidak memercayai siapa pun dalam dunia politik. Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat (16/10/2026) saat menanggapi pertanyaan mengenai hubungannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dalam wawancara dengan Newsmax, Trump menegaskan bahwa prinsip itu berlaku umum bagi para pelaku politik internasional.
“Saya tidak mempercayai siapa pun, sejujurnya. Di dunia politik saya tidak mempercayai siapa pun,” katanya, dikutip dari Times of India.
Pernyataan ini muncul menjelang pemilihan legislatif Israel pada 27 Oktober 2026 di tengah spekulasi keterlibatan Washington. Meski begitu, Trump menegaskan hubungannya dengan Netanyahu tetap berjalan sangat baik, baik secara personal maupun diplomatis.
1. Trump mengonfirmasi permintaan Israel untuk membantu kampanye Netanyahu

Presiden AS Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) bersalaman saat menggelar konferensi pers bersama di East Room, Gedung Putih, Washington, D.C., pada 15 Februari 2017. (The White House from Washington, DC, Public domain, via Wikimedia Commons) Trump mengungkapkan adanya permintaan dari pihak Israel agar ia terlibat dalam kegiatan kampanye Netanyahu. Mengutip WION News, ia ditanya mengenai kesediaannya membantu pimpinan Israel tersebut, yang selama ini kerap menonjolkan kedekatannya dengan pimpinan AS.
Sikap skeptis Trump terhadap para politisi menjadi sorotan karena disampaikan bersamaan dengan penegasannya bahwa hubungan serta kerja sama militer kedua negara tetap solid dan berhasil dalam menghadapi Iran.
2. Trump memprediksi perang Iran segera berakhir

potret bom Massive Ordnance Air Blast (MOAB) GBU-43/B yang dijuluki mother of all bombs (Fl295 at English Wikipedia, public domain, via Wikimedia Commons) Trump memperkirakan konflik militer dengan Iran bakal segera berakhir seiring berjalannya perundingan antara Washington dan Teheran. Ia meyakini penyelesaian konflik dapat dicapai dalam waktu dekat dan akan membawa dampak positif bagi perekonomian global.
Berakhirnya perang diprediksi memicu penurunan tajam harga minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM). Di sisi lain, Trump menepis spekulasi penggunaan senjata nuklir oleh AS karena negaranya memiliki persenjataan konvensional yang besar dan efektif, termasuk GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) atau "induk bom".
Bom konvensional ber pemandu GPS tersebut dikembangkan oleh Laboratorium Riset Angkatan Udara AS bersama kontraktor pertahanan Dynetics. Senjata itu dirancang untuk menghancurkan area luas, seperti jaringan gua dan kompleks terowongan, namun Trump menegaskan bahwa bom tersebut bukanlah senjata nuklir.
3. Trump meyakini perundingan AS dan Iran mengakhiri perang

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art) Trump menekankan keyakinannya bahwa proses negosiasi diplomatis yang sedang berlangsung akan segera menghentikan konflik militer AS-Iran dan meredakan ketegangan di Timur Tengah.
“Perang Iran akan segera berakhir. Perang ini akan segera berakhir,” tegasnya.
Penyelesaian konflik Iran menjadi salah satu fokus Washington di tengah dinamika politik kawasan menjelang pemilu legislatif Israel. Trump optimis bahwa penghentian perang ini akan langsung diikuti oleh penurunan harga energi global.





















