ilustrasi unjuk rasa ricuh (pexels.com/Maurício Mascaro)
Aksi unjuk rasa di Liege berujung pada penangkapan sebanyak 45 orang menurut laporan kantor berita Belga. Rincian penangkapan tersebut mencakup 40 orang yang dikenai penahanan administratif—termasuk 12 anak di bawah umur—serta lima orang yang menghadapi penangkapan yudisial. Para demonstran terlibat dalam aksi vandalisme serta menyalakan api di area publik pada Sabtu petang.
Dilansir TRT World, sekitar 50 pengunjuk rasa berkumpul di Place Saint-Lambert dan menembakkan mortir kembang api ke arah Prince-Bishops' Palace. Petugas kepolisian merespons dengan menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kerumunan massa. Saat tindakan pembubaran berlangsung, orang-orang di lokasi meneriakkan tuntutan agar rekan-rekan mereka yang ditahan segera dibebaskan, sebelum situasi akhirnya mereda menjelang malam.
Demonstrasi di Liege mulanya berlangsung damai ketika antara 200 hingga 250 orang berkumpul di luar stasiun kereta api Guillemins sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Massa kemudian melakukan longmars menuju Place Saint-Lambert dan menggelar aksi duduk yang sempat memblokir lalu lintas bus. Para pengunjuk rasa setelah itu memblokir ruas jalan dekat Le Cadran, termasuk akses jalan raya menuju Burenville, serta membangun barikade menggunakan pembatas jalan.