Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Unjuk Rasa Pendidikan di Belgia Ricuh, 195 Orang Ditangkap Polisi
ilustrasi bendera Belgia (unplash.com/Patrick Robert Doyle)
  • Polisi Belgia menangkap 195 orang setelah demonstrasi menolak reformasi pendidikan dan pemotongan anggaran ricuh di Brussels serta Liege pada 17 Oktober 2026.
  • Di Brussels, 150 orang ditangkap; kericuhan melibatkan barikade, pelemparan benda, dan pembakaran, menimbulkan kerusakan pusat kota serta melukai lima polisi.
  • Di Liege, 45 orang ditangkap setelah aksi yang awalnya damai berkembang menjadi vandalisme, blokade jalan, dan penembakan mortir kembang api; polisi memakai gas air mata dan meriam air.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepolisian Belgia menangkap 195 orang pada Sabtu (17/10/2026) ketika unjuk rasa menentang kebijakan pendidikan dan pemotongan anggaran berubah menjadi ricuh. Demonstrasi yang memicu kericuhan di Brussels dan Liege ini direspons aparat kepolisian Belgia dengan mengerahkan gas air mata serta meriam air untuk membubarkan kerumunan massa dan memulihkan ketertiban.

Keterangan resmi mengenai penangkapan tersebut disampaikan pihak kepolisian pada Minggu (18/10/2026). Kericuhan ini merupakan bagian dari gelombang unjuk rasa mahasiswa dan kelompok pemuda yang memprotes rencana reformasi pendidikan serta pemangkasan belanja publik.

1. Kericuhan dan barikade massa di ibu kota Brussels

ilustrasi unjuk rasa (unsplash.com/James Eades)

Di Brussels, kepolisian melaporkan sebanyak 150 orang ditangkap dalam rangkaian aksi unjuk rasa. Jumlah penangkapan di ibu kota tersebut terdiri dari 118 penahanan administratif dan 32 penangkapan yudisial. Pihak berwenang menyatakan bahwa sebanyak 15 anak di bawah umur termasuk di antara mereka yang ditangkap melalui prosedur yudisial.

Berdasarkan pernyataan kepolisian yang dilansir TRT World, penangkapan yudisial di ibu kota berkaitan dengan dugaan tindak pelanggaran hukum. Dugaan pelanggaran tersebut meliputi pelemparan benda ke arah petugas kepolisian, tindakan melawan saat ditangkap, serta pembakaran yang disengaja. Penyelidik kepolisian masih terus mengidentifikasi para tersangka sehingga angka penangkapan tersebut masih berpotensi berubah.

Otoritas setempat menyebutkan bahwa kericuhan tersebut menimbulkan kerusakan signifikan di kawasan pusat kota Brussels. Selain itu, lima petugas kepolisian mengalami luka-luka ringan saat bertugas meredam kericuhan. Para demonstran di Brussels juga memanfaatkan skuter listrik serta material konstruksi untuk membangun barikade jalan ketika ketegangan meningkat.

2. Bentrokan, mortir kembang api, dan blokade di Liege

ilustrasi unjuk rasa ricuh (pexels.com/Maurício Mascaro)

Aksi unjuk rasa di Liege berujung pada penangkapan sebanyak 45 orang menurut laporan kantor berita Belga. Rincian penangkapan tersebut mencakup 40 orang yang dikenai penahanan administratif—termasuk 12 anak di bawah umur—serta lima orang yang menghadapi penangkapan yudisial. Para demonstran terlibat dalam aksi vandalisme serta menyalakan api di area publik pada Sabtu petang.

Dilansir TRT World, sekitar 50 pengunjuk rasa berkumpul di Place Saint-Lambert dan menembakkan mortir kembang api ke arah Prince-Bishops' Palace. Petugas kepolisian merespons dengan menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kerumunan massa. Saat tindakan pembubaran berlangsung, orang-orang di lokasi meneriakkan tuntutan agar rekan-rekan mereka yang ditahan segera dibebaskan, sebelum situasi akhirnya mereda menjelang malam.

Demonstrasi di Liege mulanya berlangsung damai ketika antara 200 hingga 250 orang berkumpul di luar stasiun kereta api Guillemins sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Massa kemudian melakukan longmars menuju Place Saint-Lambert dan menggelar aksi duduk yang sempat memblokir lalu lintas bus. Para pengunjuk rasa setelah itu memblokir ruas jalan dekat Le Cadran, termasuk akses jalan raya menuju Burenville, serta membangun barikade menggunakan pembatas jalan.

3. Gelombang aksi bermula dari Prancis sejak 1 Oktober

bendera Prancis (unsplash.com/Anthony Choren)

Rangkaian kericuhan di Belgia ini merupakan bagian dari gelombang mobilisasi yang dipimpin kalangan pelajar. Gerakan demonstrasi tersebut awalnya bermula di Prancis yang dipicu oleh penolakan terhadap kondisi pendidikan. Aksi protes ini kemudian meluas ke wilayah Belgia yang berbahasa Prancis sejak 1 Oktober.

Demonstrasi-demonstrasi sebelumnya di Belgia juga telah berujung pada banyak penahanan demonstran, dengan sejumlah tersangka kemudian dimasukkan ke tahanan praperadilan. Bentrokan tersebut terjadi di tengah penolakan mahasiswa dan kelompok pemuda terhadap rencana reformasi pendidikan dan pemangkasan belanja publik oleh pemerintah, sementara kepolisian menyatakan penyelidikan atas rangkaian insiden terbaru ini masih terus berlangsung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article