Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Penyebab Utama Demo Besar-besaran di Eropa, Anak Muda Turun ke Jalan

5 min read
5 Penyebab Utama Demo Besar-besaran di Eropa, Anak Muda Turun ke Jalan
ilustrasi demonstrasi, unjuk rasa, politik, aksi anarkis, bendera Prancis (pexels.com/Omar Ramadan)
  • Gelombang demo di Prancis, Spanyol, Portugal, Italia, dan Albania melibatkan anak muda yang menyoroti sekolah bermasalah, kekurangan guru, serta akses pendidikan dan penerimaan perguruan tinggi.
  • Kenaikan biaya hidup, harga bahan bakar, upah dan pensiun menjadi pemicu meluasnya aksi dari pelajar ke pekerja; sebagian demonstrasi di Italia diwarnai kerusuhan.
  • Harga rumah dan sewa yang melonjak, pengusiran penyewa rentan, serta ketidakpuasan terhadap respons pemerintah membuat tuntutan perlindungan perumahan dan perubahan kebijakan terus berlanjut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gelombang demonstrasi melanda sejumlah negara Eropa, mulai dari Prancis, Spanyol, Portugal, Italia, hingga Albania. Anak muda menjadi salah satu kelompok yang aktif turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap kondisi pendidikan, mahalnya biaya hidup, dan sulitnya mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Aksi yang awalnya dipicu persoalan tertentu kemudian berkembang menjadi protes yang melibatkan kelompok masyarakat lebih luas. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan sosial masih menjadi tantangan serius bagi banyak warga Eropa. Lantas, apa saja penyebab utama demonstrasi besar-besaran tersebut?

  1. 1. Kondisi sekolah yang buruk dan kekurangan guru

    ilustrasi ruang kelas, sekolah, Prancis, Eropa
    ilustrasi ruang kelas, sekolah, Prancis, Eropa (pexels.com/Amaury Michaux)

    Salah satu pemicu demonstrasi di Eropa adalah kondisi pendidikan yang dinilai belum memenuhi kebutuhan siswa. Di Prancis, para pelajar sekolah menengah memprotes jam belajar yang panjang, ruang kelas yang rusak, serta kekurangan guru. Mereka merasa kesulitan mendapatkan pendidikan yang layak ketika fasilitas sekolah dan ketersediaan tenaga pengajar masih bermasalah.

    Persoalan ini semakin serius karena sejumlah siswa dilaporkan kehilangan waktu belajar selama berbulan-bulan akibat posisi guru yang kosong dan belum terisi. Kondisi tersebut dapat mengganggu proses pembelajaran, terutama bagi siswa yang sedang mempersiapkan ujian atau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain masalah di ruang kelas, sistem penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi Prancis juga menjadi sasaran kritik karena dinilai kurang transparan. Para pelajar pun mendesak pemerintah melakukan perbaikan agar mereka mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik dan memiliki kepastian dalam merencanakan masa depan.

  2. 2. Biaya hidup yang semakin membebani masyarakat

    ilustrasi orang tua atau lansia belanja di toko buah, Roma, Italia, Eropa, market, pasar
    ilustrasi orang tua atau lansia belanja di toko buah, Roma, Italia, Eropa, market, pasar (pexels.com/Anastasiya Badun)

    Persoalan ekonomi menjadi alasan lain masyarakat Eropa turun ke jalan. Kenaikan biaya hidup membuat anggaran rumah tangga semakin tertekan, terutama bagi kelompok masyarakat yang penghasilannya sulit mengimbangi kenaikan pengeluaran. Situasi ini mendorong demonstrasi berkembang dari aksi pelajar menjadi gerakan yang melibatkan pekerja dan kelompok masyarakat lainnya.

    Di Prancis, kenaikan harga bahan bakar turut memicu kemarahan publik. Gangguan pasokan energi setelah pengeboman Amerika Serikat yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz disebut ikut memperburuk tekanan harga bahan bakar. Kondisi ini menambah beban masyarakat yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja, bersekolah, atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Konfederasi Umum Buruh atau General Confederation of Labour, salah satu serikat pekerja besar di Prancis, turut mendukung demonstrasi dengan menyuarakan tuntutan penurunan harga, kenaikan upah, dan peningkatan pensiun. Sementara itu, di Italia, tekanan terhadap anggaran rumah tangga juga menjadi salah satu pemicu demonstrasi di Milan. Namun, aksi tersebut kemudian diwarnai kerusuhan, termasuk pelemparan benda ke arah polisi dan pembakaran barikade.

  3. 3. Harga rumah dan biaya sewa yang semakin mahal

    ilustrasi Lisbon, Portugal, Eropa, perumahan, pemukiman penduduk
    ilustrasi Lisbon, Portugal, Eropa, perumahan, pemukiman penduduk (pexels.com/Fausto Ferreira)

    Persoalan perumahan menjadi pemicu penting demonstrasi di Spanyol dan Portugal. Bagi banyak anak muda, memiliki rumah sendiri terasa semakin sulit ketika harga properti meningkat lebih cepat daripada kemampuan mereka mengumpulkan tabungan. Bahkan, biaya sewa tempat tinggal dapat menghabiskan sebagian besar pendapatan bulanan sehingga uang untuk kebutuhan lain semakin terbatas.

    Di Spanyol, demonstrasi pada September dipicu oleh pengusiran seorang perempuan berusia 87 tahun bernama Maricarmen Abascal setelah sebuah dana investasi menaikkan biaya sewanya sebesar 230 persen. Abascal meninggal dunia sekitar dua minggu setelah kejadian tersebut, setelah sempat dirawat di rumah sakit. Peristiwa ini menyita perhatian publik dan memperkuat desakan agar pemerintah memberikan perlindungan lebih baik kepada penyewa yang rentan.

    Para demonstran menuntut pembekuan harga sewa, penghentian pengusiran terhadap kelompok rentan, serta pengaturan penyewaan jangka pendek dan kamar. Masalah serupa juga terjadi di Portugal, tempat harga perumahan meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang 2015–2024, atau sekitar dua kali laju rata-rata Uni Eropa. Ratusan orang berkumpul di Lisbon untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap semakin sulitnya mendapatkan tempat tinggal yang terjangkau.

  4. 4. Ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah

    ilustrasi demonstrasi, unjuk rasa, politik, aksi anarkis, bendera Prancis
    ilustrasi demonstrasi, unjuk rasa, politik, aksi anarkis, bendera Prancis (pexels.com/Alotrobo)

    Demonstrasi di Eropa juga mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap cara pemerintah menangani berbagai persoalan. Ketika masalah pendidikan, perumahan, dan biaya hidup tak kunjung teratasi, kepercayaan publik terhadap kebijakan yang berlaku dapat ikut menurun. Dalam situasi seperti ini, aksi turun ke jalan menjadi salah satu cara untuk mendesak para pengambil keputusan agar lebih serius menanggapi tuntutan masyarakat.

    Di Prancis, demonstrasi yang awalnya berfokus pada masalah pendidikan berkembang menjadi aksi yang lebih besar. Sekitar 500.000 orang dilaporkan turun ke jalan dalam salah satu demonstrasi untuk memprotes kenaikan biaya hidup sekaligus mendukung tuntutan pelajar. Aksi serupa juga berlangsung di Belgia, Portugal, dan Italia, memperlihatkan bahwa keresahan tersebut dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat.

    Di Albania, demonstrasi terhadap Perdana Menteri Edi Rama berlangsung selama beberapa hari dengan tuntutan terkait dugaan korupsi, minimnya lapangan kerja, dan buruknya standar pendidikan. Sementara itu, di Spanyol, parlemen menolak rancangan undang-undang darurat perumahan yang mencakup larangan pengusiran hingga 2030 dan pengaturan penyewaan sementara. Kegagalan tersebut mendorong Perdana Menteri Pedro Sánchez menyerukan perlunya mayoritas progresif yang lebih luas dan mengumumkan pemilihan umum dini pada 29 November.

  5. 5. Tuntutan perubahan yang belum terpenuhi

    ilustrasi demonstrasi, unjuk rasa, politik
    ilustrasi demonstrasi, unjuk rasa, politik (pexels.com/Jean Marc Bonnel)

    Alasan lain demonstrasi terus berlangsung adalah karena sejumlah tuntutan masyarakat belum mendapatkan penyelesaian yang dianggap memadai. Pemerintah Prancis memang telah mengumumkan beberapa langkah untuk merespons protes pendidikan, termasuk penambahan 3.000 guru pengganti dan pelibatan siswa dalam pengambilan keputusan di sekolah. Pemerintah juga membatalkan rencana kenaikan sebagian biaya pendaftaran perguruan tinggi yang sebelumnya diumumkan untuk anggaran tahun berikutnya.

    Pemerintah Prancis turut mengumumkan peningkatan subsidi bensin bagi industri tertentu setelah demonstrasi terkait bahan bakar pada pertengahan September. Meski begitu, langkah tersebut belum tentu langsung menyelesaikan seluruh persoalan biaya hidup. Masyarakat masih menyuarakan tuntutan mengenai upah, pensiun, dan keterjangkauan kebutuhan sehari-hari.

    Di Spanyol, kegagalan pengesahan rancangan undang-undang perumahan memperlihatkan bahwa perubahan kebijakan gak selalu berjalan sesuai harapan demonstran. Aktivis perumahan berjanji melanjutkan tekanan terhadap pemerintah dan mengumumkan rencana pemogokan umum pada 11 November. Sementara itu, di Prancis, Presiden Emmanuel Macron menegaskan perlunya membedakan demonstran damai dari pihak-pihak yang melakukan perusakan dan penjarahan. Perbedaan tersebut penting agar tuntutan masyarakat tetap bisa ditangani tanpa mengabaikan keamanan publik.

    Demonstrasi besar-besaran di Eropa memperlihatkan bagaimana persoalan pendidikan, biaya hidup, perumahan, dan ketidakpuasan politik dapat saling berkaitan. Anak muda menjadi salah satu kelompok yang terdampak karena mereka sedang membangun masa depan, mulai dari menyelesaikan pendidikan hingga mencari pekerjaan dan tempat tinggal mandiri.

    Ketika berbagai kebutuhan tersebut semakin sulit dipenuhi, tekanan sosial pun berpotensi meningkat. Karena itu, penyelesaian demonstrasi gak cukup hanya dengan mengendalikan kerumunan, tapi juga membutuhkan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More