Jaksa Antikorupsi Guatemala Ditembak Mati Saat Nonton Laga Sepak Bola

- Jaksa antikorupsi Guatemala Juan Francisco Solorzano Foppa ditembak mati oleh orang tak dikenal saat menonton sepak bola di Campo Marte, Guatemala City, pada 17 Oktober 2026.
- Seorang yang duduk dekat Foppa turut tertembak. Polisi menangkap dua tersangka berusia 30 dan 18 tahun, sementara investigasi menduga sedikitnya empat pelaku terlibat.
- Presiden Bernardo Arevalo menolak kekerasan politik dan menjanjikan hukuman bagi pelaku. Foppa dikenal selama 12 tahun melawan impunitas, termasuk menyelidiki skandal korupsi La Linea.
Jakarta, IDN Times - Jaksa Antikorupsi Guatemala, Juan Fransisco Solorzano Foppa ditembak mati oleh orang tak dikenal saat menonton pertandingan sepak bola. Insiden mengerikan ini terjadi di kompleks olahraga Campo Marte, Guatemala City pada Sabtu (17/10/2026).
Guatemala sudah dirundung masalah keamanan dalam beberapa bulan terakhir. Pada awal 2026, negara Amerika Tengah itu sudah menetapkan keadaan darurat selama 30 hari dalam rangka melawan geng kriminal Barrio 18 dan Mara Salvatrucha (MS-13).
1. Seorang ikut tertembak dalam insiden pembunuhan berencana

ilustrasi penembakan (unsplash.com/nampoh) Kementerian Publik Guatemala pada Senin (19/10/2026), mengatakan bahwa Solorzano Foppa bukanlah satu-satunya korban dalam insiden pembunuhan berencana tersebut. Namun, seorang yang duduk di dekat Foppa juga ikut tertembak sebagai korban kolateral.
Otoritas setempat menekankan bahwa investigasi masih berlanjut dan sudah mendapat dukungan teknis dari rekan internasional. Kebijakan ini berdasarkan kerangka mekanisme kerja sama untuk memperkuat kapabilitas untuk mengklarifikasi kasus kekerasan.
Tak lama, polisi Guatemala sudah menangkap dua orang yang diduga tersangka pembunuhan berusia 30 dan 18 tahun. Salah satu terduga pelaku tersebut diketahui pernah menjadi anggota tentara Guatemala pada 2017-2019.
Dilansir Democrata, polisi menyebut bahwa setidaknya ada empat orang yang menyamar menggunakan baju olahraga. Berdasarkan investigasi awal, beberapa pelaku diduga menjadi bagian dari struktur organisasi kriminal.
2. Presiden Guatemala minta berhenti gunakan kekerasan dalam pemilu

Presiden Guatemala, Bernardo Arevalo (tengah). (Gobierno de Guatemala, Public domain, via Wikimedia Commons) Presiden Guatemala, Bernardo Arevalo memperingatkan penggunaan politik untuk membunuh Solorzano Foppa. Ia mendesak semua pihak untuk tidak menggunakan kekerasan untuk kepentingan politik.
“Kami akan melakukan apapun untuk mengatasi kasus kriminalitas mengerikan in dan pelaku yang bertanggung jawab akan mendapatkan hukuman yang setimpal,” paparnya, dikutip dari Prensa Libre.
Meskipun demikian, Arevalo membantah akan adanya penetapan keadaan darurat menyusul pembunuhan kepada Solorzano Foppa. Menurutnya, tidak ada kondisi yang dapat menghambat investigasi ini.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengungkapkan kecaman atas pembunuhan Solorzano Foppa. Menurutnya, jaminan keamanan kepada tokoh antikorupsi dan pembela hak asasi manusia (HAM) harus ditegakkan.
3. Solorzano Foppa sudah melawan impunitas di Guatemala

ilustrasi bendera Guatemala (pixabay.com/ottogarcia) Solorzano Foppa sudah ikut melawan impunitas di Guatemala selama 12 tahun terakhir. Awalnya, ia bergabung menjadi kepala Direktorat Analisis Kriminalitas untuk mengungkap organisasi kriminal di Guatemala.
Dilansir The Latin Times, pada 2016, ia ditunjuk untuk menjadi Kepala Pengawas Administrasi Pajak Guatemala (SAT). Sementara, pekerjaan paling berpengaruhnya saat menginvestigasi skandal La Linea, kasus jaringan suap dan korupsi besar di bea cukai dan kecurangan pajak.
























