Selat Bab al-Mandab (Earth Science and Remote Sensing Unit, NASA Johnson Space Center, Public Domain, via Wikimedia Commons)
Penasihat risiko dari lembaga Basha Report yang berbasis di Amerika Serikat, Mohammed al-Basha, menganalisis arah pergerakan militer kelompok tersebut. “Mereka mengincar Bab al-Mandab,” kata Mohammed al-Basha.
Dia menambahkan, kalkulasi taktis kelompok tersebut di balik serangan terbarunya. “Kelompok Houthi merasa bahwa jika mereka merebut Bab al-Mandab atau Pelabuhan Mokha, mereka akan berada dalam posisi kekuatan yang lebih baik untuk bernegosiasi dengan pemerintah dan pihak Saudi,” tambah Basha.
Selat Bab al-Mandab menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania melalui Terusan Suez menuju Samudra Hindia, sehingga menjadi rute transit vital bagi pengiriman minyak Arab Saudi. Jalur perairan sempit ini kian krusial setelah pasokan minyak dari Teluk hampir sebagian besar terhenti akibat tindakan Iran yang memblokade Selat Hormuz. Milisi Houthi sendiri terus mengacaukan lalu lintas pelayaran di Laut Merah lewat serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di perairan tersebut sejak perang Gaza pecah pada 2023.
Gencatan senjata rapuh yang disepakati pada 2022 antara pemerintah Yaman dan kelompok Houthi runtuh pada Juli setelah milisi tersebut menyambut kedatangan pesawat Iran di Sanaa. Peristiwa itu memicu gelombang pertempuran baru, disusul pengumuman blokade maritim oleh Houthi terhadap Arab Saudi serta serangan terhadap armada kapal dan wilayah Saudi. Rentetan eskalasi ini membuat Yaman, yang telah terjerat konflik saudara selama lebih dari satu dekade, kian terseret ke dalam perang kawasan Timur Tengah yang lebih luas.