Jakarta, IDN Times - Pasukan militer Yaman atau National Resistance Forces dikabarkan terlibat baku serang dengan Houthi di Provinsi Hodeidah. Dilansir Anadolu Agency, bentrokan tersebut terjadi pada Kamis (3/9/2026) kemarin.
Militer Yaman Bentrok dengan Houthi di Hodeidah, Konflik Memanas

- Pasukan National Resistance Forces Yaman dan Houthi terlibat baku serang di Hodeidah selatan saat kelompok itu bergerak menuju Gunung Dabbas.
- Bentrokan berlanjut di Taiz setelah Houthi mencoba menyerang Front Maqbanah dan al-Kadhah serta memblokade jalur Taiz-Mocha; sekitar 50 personel Houthi dilaporkan tewas atau terluka.
- Konflik kembali pecah sejak Juli, meski gencatan senjata disepakati pada 2022, menyusul serangan Houthi di Bab el-Mandeb dan Laut Merah yang mengganggu lalu lintas kapal.
Menurut laporan media militer Yaman, aksi saling serang ini terjadi saat pasukan Houthi sedang menuju ke Gunung Dabbas yang terletak di Hodeidah selatan. Namun, tidak dijelaskan apa tujuan milisi itu menuju ke gunung tersebut.
1. Bentrokan berlanjut di Provinsi Taiz

potret sebuah kota di Provinsi Taiz, Yaman (flickr.com/Rod Waddington via commons.wikimedia.org/Rod Waddington) Alih-alih mereda, bentrokan antara militer Yaman dan Houthi justru berlanjut di Provinsi Taiz pada Jumat (4/9/2026) pagi waktu setempat. Berdasarkan laporan media Yaman, Saba News Agency, sekitar 50 pasukan Houthi tewas dan terluka dalam peristiwa tersebut.
Dalam laporannya, Saba menjelaskan, bentrokan tersebut terjadi usai Houthi berupaya menyerang Front Maqbanah dan al-Kadhah, sayap militer Yaman yang bertugas di Taiz. Saat itu, Houthi juga dikabarkan berupaya memblokade jalan yang menghubungkan Taiz dan Mocha.
2. Konflik antara Yaman dan Houthi makin memanas

potret logo milisi Houthi Yaman (commons.wikimedia.org/hstoops) Aksi saling serang ini membuat konflik Yaman dan Houthi makin memanas. Padahal, Yaman dan Houthi sudah menyepakati gencatan senjata pada 2022 lalu. Ketika itu, gencatan senjata ini menyudahi perang saudara yang terjadi di antara kedua pihak. Sayangnya, perang antara mereka kembali pecah pada Juli lalu. Hal ini dipicu sejumlah serangan Houthi ke Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah.
Yaman tidak suka milisi yang sudah masuk daftar organisasi teroris itu menyerang Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah. Sebab, serangan yang mereka lakukan mengganggu lalu lintas kapal di sana. Merespons hal ini, Yaman melakukan serangan balasan ke Houthi. Inilah yang lantas membuat perang di antaranya kedua pihak kembali meletus.
3. Perang saudara Yaman dan Houthi sudah terjadi sejak 2014

ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Hasan Almasi) Sebagai informasi, perang saudara antara Yaman dan Houthi ini sudah meletus sejak 2014. Dilansir Council on Foreign Relation (CFR), perang ini dimulai ketika Houthi melakukan pemberontakan dan mengambil alih Ibu Kota Yaman, Sanaa. Ketika itu, mereka mendesak Pemerintah Yaman untuk menurunkan harga bahan bakar. Selain itu, milisi tersebut juga menyerukan pergantian rezim Pemerintah Yaman yang kala itu dipimpin oleh Abd Rabbu Mansour Hadi.
Pada awal 2015, Houthi berhasil mengambil alih istana kepresidenan Yaman yang ada di Ibu Kota Sanaa. Hal ini membuat Presiden Hadi mengundurkan diri dari jabatannya. Kemudian, pada awal Maret 2015, Arab Saudi dan koalisi negara-negara Teluk yang dibantu Amerika Serikat (AS) melakukan operasi militer di Yaman untuk membantu memerangi Houthi. Operasi militer itu masih bertahan hingga saat ini.





















