Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Usai Gempa Landa Venezuela, Marak Penjarahan di Kota La Guaira
Ilustrasi penjarahan (Unsplash.com/Gabe Pierce)
  • Gempa ganda mengguncang La Guaira, Venezuela, memicu status darurat nasional akibat kerusakan parah dan kekacauan yang melumpuhkan wilayah pesisir dekat Caracas.
  • Aksi penjarahan massal terjadi di toko, apotek, dan rumah warga; masyarakat kehilangan harta benda di tengah krisis ekonomi serta keterlambatan distribusi bantuan.
  • Pemerintah mengerahkan militer untuk menertibkan situasi, namun muncul tuduhan pelanggaran oleh oknum aparat yang memperburuk kepercayaan publik terhadap otoritas keamanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wilayah pesisir La Guaira, Venezuela, dilanda aksi penjarahan massal setelah diguncang gempa bumi ganda berkekuatan besar pada Rabu (24/6/2026).

Pemerintah setempat segera menetapkan status darurat nasional. Langkah ini diambil menyusul kerusakan parah yang melumpuhkan kawasan di dekat ibu kota Caracas tersebut.

Kondisi keamanan yang terus memburuk kini menghambat proses penanganan dampak bencana. Kekosongan hukum di area terdampak memicu maraknya tindakan kriminal. Akibatnya, pencurian massal dilaporkan terjadi di berbagai tempat, mulai dari pusat perbelanjaan hingga kawasan permukiman warga.

1. Penjarahan toko komersial di kawasan Catia La Mar

Aksi penjarahan massal pecah di kawasan pertokoan Catia La Mar sesaat setelah gempa merusak fasilitas umum. Warga mengambil paksa bahan makanan, obat-obatan, hingga barang elektronik dari bangunan yang runtuh.

Sejumlah fasilitas penting seperti jaringan apotek Farmatodo dan deretan toko kelontong habis dijarah. Padamnya aliran listrik dan terhambatnya distribusi bantuan diduga menjadi pemicu aksi ini di tengah krisis ekonomi yang masih berlangsung.

Tragisnya, saksi mata melaporkan bahwa penjarahan tetap terjadi di toko-toko retail tanpa memedulikan keberadaan korban jiwa di sekitarnya.

"Apakah adil jika kita saling memangsa? Mereka bahkan mengambil seluruh kabel dan melangkahi jenazah demi menjarah swalayan itu," ujar Maria Esther Bernal, warga setempat, dikutip dari ABS-CBN.

2. Pencurian harta benda milik korban gempa

Selain pusat perbelanjaan, rumah tinggal warga yang hancur juga menjadi sasaran pelaku kriminal. Kelompok penjarah memanfaatkan situasi evakuasi untuk menggasak harta benda pribadi milik para korban.

Barang-barang seperti pakaian, peralatan rumah tangga, hingga bahan bakar dari kendaraan yang rusak dilaporkan hilang dibawa kabur. Hal ini memicu kemarahan para korban yang saat itu sedang fokus mencari anggota keluarga di balik puing bangunan.

Kehilangan seluruh harta benda membuat kondisi para penyintas di posko pengungsian semakin sulit, terutama karena kurangnya pemenuhan kebutuhan dasar yang memadai.

"Tidak ada apa-apa lagi yang tersisa di sini. Mereka mencuri semuanya, pakaian, sepatu, peralatan makan, panci, hingga gelas kami," kata Zulay de Carvajal, warga setempat.

3. Dugaan pelanggaran hukum oleh oknum keamanan

Menanggapi situasi yang tidak terkendali, pemerintah Venezuela mengerahkan ribuan personel militer dan kepolisian ke La Guaira. Akses menuju wilayah pesisir tersebut kini ditutup total dan memerlukan izin khusus dari otoritas militer di Caracas.

Pengetatan ini dilakukan untuk memulihkan ketertiban sosial sekaligus mengamankan jalur distribusi bantuan logistik. Namun, kebijakan ini menghadapi tantangan baru akibat munculnya tuduhan pelanggaran oleh oknum aparat.

Sejumlah video amatir memperlihatkan dugaan keterlibatan oknum petugas dalam aksi penggeledahan liar di rumah warga. Situasi tersebut akhirnya memicu ketidakpercayaan publik terhadap otoritas keamanan di lapangan.

Pengamat menilai kekacauan pascabencana ini memiliki pola yang serupa dengan tragedi tanah longsor besar yang menimpa Venezuela pada tahun 1999 silam.

"Tidak mengherankan jika kita melihat tiga masalah yang sama seperti saat bencana tanah longsor dulu, yaitu kriminalitas, pelecehan oleh polisi, dan oknum aparat yang ikut menjarah," ungkap Marino Alvarado, mantan koordinator organisasi HAM Provea.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article