Sekjen PBB António Guterres kunjungi Pusat Perawatan Ebola Mangina, 2019. (MONUSCO Photos, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)
WHO turut menyoroti lonjakan proporsi kematian pasien akibat Ebola yang terjadi di lingkungan komunitas. Pada rentang 31 Agustus hingga 6 September, proporsi kematian terkonfirmasi di tingkat komunitas menyentuh angka 75 persen. Persentase tersebut melonjak cukup tajam jika dibandingkan dengan catatan dua pekan sebelumnya yang berada pada angka 56,6 persen.
Tingginya angka kematian di komunitas dinilai mencerminkan berbagai kendala dalam penanganan medis di lapangan. Faktor penghambat tersebut meliputi keterlambatan deteksi serta pelaporan kasus, keterlambatan rujukan ke fasilitas perawatan, dan minimnya pengenalan terhadap gejala penyakit. Kendala kondisi geografis, persoalan transportasi, hingga masalah tingkat kepercayaan masyarakat juga turut memperberat situasi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena mengindikasikan penurunan angka kematian pasien secara keseluruhan tidak dapat dipertahankan. "Perbedaan arah tren ini mengkhawatirkan, karena peningkatan kematian di komunitas yang berjalan beriringan dengan penurunan kematian di fasilitas perawatan menandakan penurunan mortalitas sebelumnya tidak bertahan," jelas laporan WHO tersebut.