Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pengaruh Perang Iran terhadap Politik Pemilihan Legislatif Sela AS

Pengaruh Perang Iran terhadap Politik Pemilihan Legislatif Sela AS
Kepulan asap membubung setelah serangan rudal di Teheran, Iran pada 1 Maret 2026. (ATTA KENARE/AFP)

Sepanjang sejarah 100 tahun terakhir, Amerika Serikat tidak pernah “kalah perang” secara militer atau tactical terhadap negara lain. “Kekalahan” AS di Vietnam maupun Afghanistan disebabkan berubahnya sentimen konstituen politik di AS yang menjadi sangat antiperang, sehingga menyebabkan Pemerintah yang berkuasa di AS diganti atau berganti posisi.

Saat perang Vietnam, Presiden Lyndon B. Johnson, dari Partai Demokrat, yang mengeskalasi perang di Vietnam dengan menurunkan pasukan secara besar-besaran digantikan oleh Presiden Richard Nixon tahun 1969, dari Partai Republik, yang secara bertahap mengurangi dan akhirnya menarik mundur seluruh pasukan AS dari Vietnam 3 tahun kemudian. Akibatnya, Pemerintah Viet Cong Vietnam Utara berkuasa atas seluruh Vietnam Selatan, dan kemudian menyatukan dua negara itu menjadi Republik Sosialis Vietnam tahun 1976.

Begitu juga halnya dengan Perang AS di Afghanistan. Mantan Wapres Biden sejak kampanye Pilpres tahun 2019 menghadapi Presiden Trump sudah menjanjikan akan menarik pasukan dari Afghanistan karena misi pasukan itu dianggap sudah tercapai. Dan setelah menang Pilpres itu, Presiden Biden dalam waktu kurang dari 2 tahun memerintahkan penarikan mundur penuh seluruh pasukan AS dari sana, bahkan terkesan secara terburu-buru. Ironi terbesar yang terjadi di Afghanistan bagi AS adalah setelah 20 tahun berperang di Afghanistan melawan rejim Thaliban yang dianggap bertanggungjawab terhadap serangan teroris September Eleven 2001, justru menyaksikan Thaliban kembali berkuasa di Afghanistan bahkan menguasai seluruh peralatan dan instalasi militer yang ditinggalkan AS.

Kedua kasus di atas memberikan rujukan penting. Kekalahan perang AS lebih disebabkan sentimen politik dalam negerinya yang berubah menjadi sangat anti-perang, bukan karena kekalahan pasukannya di medan perang. Lalu bagaimana dengan perang di Iran saat ini?

Peristiwa elektoral terdekat saat ini adalah Pemilihan Sela AS (mid-term election) pada tanggal 3 November 2026, yang akan memilih seluruh 435 anggota DPR (House of Representatives) dan 33 dari 100 senator. Parpol yang menang dalam pemilu sela itu akan menguasai Ketua DPR (Speaker of the House), Ketua-ketua seluruh Komisi, menetapkan Agenda Legislatif, sehingga secara efektif akan menentukan apakah suatu RUU akan lolos atau gugur. Namun satu hal penting yang secara riil tidak dilakukan pada pemilu sela itu adalah: referendum tingkat kepercayaan terhadap Presiden yang sedang berkuasa. Pada tahun ini, justru faktor ini yang akan menjadi penentunya.

Berdasarkan pengalaman selama 40 kali pemilu sela sejak Perang Saudara di AS tahun 1862, parpol pendukung Presiden pertahana kalah 37 kali dan hanya menang 3 kali. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai demokrasi masyarakat AS yang lebih menyukai sistem checkand-balance antara eksekutif dan legislatif, atau dapat juga dianggap sebagai penilaian ketidak-puasan terhadap kinerja Presiden pertahana. Hal itu terjadi karena sejarah yang sama mencatat pada pemilu sela parpol pendukung Presiden secara rata-rata kehilangan sekitar 26 kursi DPR dan 4 kursi senat. Jika hal ini ditempatkan pada posisi Partai Republik saat ini yang hanya mayoritas 3 kursi di DPR dan 6 kursi di Senat, maka Parpol itu sangat rawan terhadap kehilangan mayoritas di kedua lembaga itu.

Dengan latar belakang sejarah itu saja, Presiden Trump dan Partai Republik patut khawatir dengan hasil pemilu sela November mendatang. Apalagi jika Perang di Iran berjalan berkepanjangan. Kenapa?

Faktor-faktor Penentu Pemilu Sela AS Tahun 2026

Pemilu Sela AS November ini seperti yang juga terjadi dalam Pemilu dan Pilpres sebelumnya ditentukan oleh faktor-faktor utama seperti: inflasi dan affordability; harga energi dan BBM; imigrasi; kondisi ekonomi dan lapangan kerja; belanja dan utang pemerintah serta pajak; dan isu-isu sosial utama seperti kesehatan, program sosial, aborsi, keamanan publik, dan isu yang biasanya tidak terlalu mendapat perhatian: politik luar negeri AS.

Dalam konteks itu, perkembangan Perang di Iran sangat berisiko bagi Presiden Trump dan Partai Republik. Apabila perang berakhir dalam waktu singkat sebelum kampanya Pemilu mencapai puncaknya pada Agustus-awal November, maka relevansinya agak terbatas mempengaruhi hasil pemilu. Namun apabila terjadi sebaliknya perang berlangsung panjang, maka dapat dipastikan Partai Republik akan terpukul.

Perang dengan Iran ditransmisikan kepada Pemilu Sela AS melalui beberapa faktor penentu ini:

  1. Harga energi dan BBM akan langsung membebani masyarakat AS. Strategi defensif Trump yang mengatakan bahwa AS saat ini swasembada energi bahkan neteksportir tidak berpengaruh karena minyak produksi dalam negerinya tetap akan mengikuti harga dunia. Tidak ada mekanisme subsidi harga BBM di AS;
  2. Selain harga energi yang secara langsung akan menyebabkan inflasi naik, negaranegara Țeluk Persia (GCC) adalah sumber 30% ammonia dan 50% urea yang diperdagangkan dunia, yang adalah elemen penting produksi pupuk non-organik. Kondisi ini menjadikan faktor inflatoir yang makin besar. Terlebih lagi bagi Partai Republik, yang daerah pertanian perdesaan AS merupakan basis kuat konstituen MAGA/America First pada Pilpres dan Pemilu 2024;
  3. Pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja AS akan melambat, baik karena faktor harga energi dan inflasi tadi maupun Bank Sentral AS yang akan lebih enggan turunkan suku bunga saat risiko inflasi meningkat
  4. Perang yang lama akan meningkatkan belanja pertahanan AS, yang mendongkrak defisit dan utang Pemerintah AS yang sangat tidak populer di masyarakat AS, terutama kalangan pendukung Partai Republik dan Presiden Trump yang menang Pemilu dan Pilpres 2024 dengan janji menurunkan belanja, defisit, pajak maupun utang Pemerintah.

Selain isu-isu yang lazim terjadi saat Pemilu AS itu, perang berkepanjangan akan menimbulkan sentimen anti-Pemerintah karena jumlah korban di pihak AS dan keseluruhan meningkat, sentimen anti-AS dan anti-Trump di dunia akan meningkat tajam yang akan langsung meningkatkan risiko keamanan bagi AS dan warganya, maupun mengurangi dukungan terhadap posisi mereka dalam persaingan geopolitik dan geoekonomi dengan RRT.

Kesimpulan

Semakin lama perang AS dengan Iran berlangsung, maka probabilitas Partai Republik akan semakin tergerus pada pemilu sela mendatang meningkat. Pada gilirannya hal itu akan dipersalahkan kepada Presiden Trump yang melakukan perang ini tanpa konsultasi dengan Kongres. Jika hal ini terjadi, maka dapat diprakirakan akan terjadi kebuntuan sistem legislasi di Kongres, munculnya berbagai proses investigasi, termasuk kasus Epstein, dan maraknya gagasan impeachment terhadap Presiden Trump.

Kondisi paruh kedua Presidensi Trump akan berubah drastis: Gedung Putih menjadi sangat berkurang efektifitasnya, risiko stagflasi AS meningkat dan dominasi AS atas politik dan ekonomi global berkurang.

(Mahendra Siregar merupakan Ekonom, Pemerhati Geopolitik)

Share
Topics
Editorial Team
Mahendra Siregar
Umi Kalsum
Mahendra Siregar
EditorMahendra Siregar
Follow Us

Latest in Opinion

See More

Pengaruh Perang Iran terhadap Politik Pemilihan Legislatif Sela AS

17 Mar 2026, 14:13 WIBOpinion
Benarkah Kuliah Itu Scam?

Benarkah Kuliah Itu Scam?

20 Jan 2026, 12:41 WIBOpinion