Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gerakan Kecoak dan Pelajaran Demokrasi bagi Indonesia

Gerakan Kecoak dan Pelajaran Demokrasi bagi Indonesia
Pelajar bersorak merayakan pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan, di Amritsar, Sabtu (25/07/2026) dalam gelombang protes oleh Gerakan Kecoak atau Cockroach Janta Party (CJP). (Photo by NARINDER NANU / AFP)
Intinya Sih
  • Gerakan Cockroach Janta Party di India mengubah ejekan terhadap anak muda menjadi tuntutan akuntabilitas pendidikan dan reformasi ujian, hingga pemerintah merespons dengan pengunduran diri menteri serta langkah perbaikan.
  • Artikel menyoroti bonus demografi Indonesia sebagai peluang yang bergantung pada pendidikan berkualitas, lapangan kerja, dan kesempatan luas; tanpa itu, frustrasi generasi muda dapat menjadi beban sosial, ekonomi, dan politik.
  • Demokrasi dinilai perlu menyediakan dialog harian melalui parlemen, media independen, masyarakat sipil, kampus kritis, dan oposisi sehat agar kritik generasi muda tersalurkan damai menjadi kebijakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada satu pelajaran penting dari India yang patut diperhatikan oleh Indonesia. Bukan tentang kecoak melainkan tentang demokrasi. Tentang bagaimana sebuah bangsa merespons suara generasi mudanya.

Gerakan Cockroach Janta Party (CJP) lahir bukan dari ruang rapat partai politik, melainkan dari sebuah penghinaan. Sekelompok anak muda yang frustrasi terhadap pengangguran, kebocoran ujian nasional, dan buruknya tata kelola pendidikan disebut seperti “cockroach” atau kecoak. Alih-alih tersinggung lalu diam, mereka mengambil istilah itu sebagai simbol perlawanan. Mereka mengubah ejekan menjadi identitas, dan identitas menjadi gerakan nasional (Reuters).

Yang menarik, gerakan ini tidak berhenti pada kemarahan.

Mereka memiliki tuntutan yang jelas: akuntabilitas terhadap krisis sistem pendidikan dan reformasi penyelenggaraan ujian nasional yang telah merugikan jutaan pelajar. Setelah berminggu-minggu aksi damai, demonstrasi, dan tekanan publik, Perdana Menteri Narendra Modi menerima pengunduran diri Menteri Pendidikan serta mengumumkan langkah-langkah reformasi sistem ujian nasional (Reuters).

Bukan berarti pemerintah kalah. Justru demokrasi yang bekerja.

Seorang pemimpin yang percaya diri tidak melihat kritik sebagai ancaman. Ia melihatnya sebagai sistem peringatan dini. Aspirasi publik bukan musuh pemerintah. Aspirasi publik adalah kompas yang mencegah pemerintah kehilangan arah.

Indonesia memiliki kemiripan yang sangat besar dengan India. Kedua negara merupakan demokrasi terbesar di dunia. Keduanya memiliki populasi muda yang sangat besar. Keduanya sedang menikmati bonus demografi yang akan menentukan wajah ekonomi beberapa dekade ke depan. Bonus demografi sering disebut sebagai hadiah sejarah. Padahal sesungguhnya, ia hanyalah sebuah peluang.

IMG-20260428-WA0044.jpg
Mahasiswa dan Aktivis Sosial Peduli Demokrasi dan Hukum menggelar aksi di sekitar Gedung MK, Jakarta Pusat (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Apabila pendidikan berkualitas tersedia, lapangan kerja tumbuh, dan kesempatan terbuka luas, bonus demografi akan berubah menjadi aset terbesar bangsa.

Namun, apabila jutaan anak muda kehilangan harapan, sulit memperoleh pekerjaan, dan merasa tidak memiliki masa depan, bonus demografi dapat berubah menjadi beban sosial, ekonomi, bahkan politik.

Penduduk muda bukan sekadar statistik. Mereka adalah investasi nasional.

Pelajaran terbesar dari India bukanlah keberhasilan “Gerakan Cockroach”. Pelajaran terbesarnya adalah pentingnya menyediakan saluran aspirasi yang dipercaya oleh generasi muda. Setiap masyarakat membutuhkan mekanisme untuk menyampaikan kritik secara damai, rasional, dan konstruktif. Apabila jalur-jalur tersebut bekerja dengan baik, energi sosial dapat diubah menjadi solusi. Namun, apabila seluruh pintu aspirasi terasa tertutup, tekanan akan mencari jalannya sendiri.

Sejarah menunjukkan bahwa aspirasi yang lama dipendam jarang benar-benar hilang. Ia hanya menunggu momentum untuk muncul dengan kekuatan yang lebih besar. Karena itu, demokrasi tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan pemilu setiap lima tahun. Demokrasi juga harus menyediakan ruang dialog setiap hari.

Di sinilah pentingnya keberadaan parlemen yang efektif, media yang independen, masyarakat sipil yang hidup, perguruan tinggi yang kritis, dan oposisi yang sehat. Oposisi bukan musuh negara. Oposisi adalah salah satu mekanisme agar pemerintah tetap mendengar suara rakyat ketika mayoritas memilih diam.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi tanpa kritik. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang mampu mengubah kritik menjadi kebijakan yang lebih baik. Sejarah Indonesia sendiri telah membuktikan bahwa kekuatan generasi muda bukan sekadar wacana, melainkan fondasi perubahan bangsa.

Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, ketika para pemuda dari berbagai daerah menyatukan tekad: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Dari momentum itulah kesadaran kebangsaan tumbuh, menguat, dan akhirnya menjadi energi kolektif yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan. Peristiwa itu menunjukkan satu hal penting: ketika generasi muda bersatu dalam gagasan, mereka mampu mengubah arah sejarah.

Ada satu pesan yang seharusnya menginspirasi generasi muda Indonesia. Masa depan tidak pernah diberikan. Masa depan selalu diperjuangkan. Bukan dengan kebencian. Bukan dengan kekerasan. Melainkan melalui gagasan, partisipasi, keberanian menyampaikan aspirasi, dan kesediaan ikut membangun solusi.

Negara yang besar bukanlah negara yang berhasil membungkam suara anak mudanya. Negara yang besar adalah negara yang mau mendengarkan mereka. Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia bukan milik para pemimpin hari ini.

Masa depan Indonesia adalah milik generasi yang akan hidup paling lama di dalamnya. Dan tugas setiap generasi bukan sekadar mewarisi masa depan, melainkan ikut menciptakannya.

Ubud, Bali, 28 Juli 2026

Laksamana Sukardi adalah seorang ekonom dan pernah mengabdi kepada negara sebagai Menteri BUMN.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More
Mattiyah Rachmat Gobel

Mattiyah Rachmat Gobel

10 Jul 2026, 11:56 WIB