Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apresiasi Tinggi atas Kemajuan Ilmu Kedokteran
ilustrasi etomidate dalam dunia medis. (pexels.com/Gustavo Fring)
  • J. Soedradjad Djiwandono menceritakan penanganan Myeloma dan pemantauan kondisi kesehatan oleh tim dokter di Singapura dan Jakarta.

  • Pengobatan beralih dari suntikan Dara ke steroid setelah tumor marker menurun, tetapi stagnan pada tingkat yang belum memuaskan.

  • Ia masih menjalani suntikan lanjutan dan pemantauan dokter sebelum keputusan mengenai akhir perawatan diambil.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    J. Soedradjad Djiwandono menjalani pengobatan Myeloma, termasuk suntikan Dara yang kemudian diganti dengan suntikan steroid.
  • Who?
    J. Soedradjad Djiwandono ditangani Dr. Daryl Tan, Dr. Adrian Liew, serta tim dokter di Singapura dan Klinik The Good Practice Kemang.
  • Where?
    Perawatan dilakukan di Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapura, dan Klinik The Good Practice Kemang, Jakarta.
  • When?
    Saat ini ia sudah menerima dua suntikan steroid dan masih akan menerima suntikan berikutnya dalam beberapa hari ke depan.
  • Why?
    Pengobatan diubah karena tumor marker menurun tetapi stagnan pada tingkat yang menurut Dr. Tan masih kurang rendah.
  • How?
    Perawatan dilakukan melalui suntikan steroid, tes darah dan urine, pemantauan ketat, serta koordinasi antara dokter di Singapura dan Jakarta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

J. Soedradjad Djiwandono sedang dirawat karena Myeloma. Dokter memeriksa darahnya dan memberinya suntikan. Dulu ia mendapat Dara, lalu dokter menggantinya dengan steroid. Ia sudah mendapat dua suntikan steroid di Singapura. Ia masih akan mendapat suntikan lagi di Jakarta dan menunggu keputusan dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengalaman ini memperlihatkan adanya kerja sama yang baik antara dokter di Singapura dan Jakarta dalam memantau pengobatan. Komunikasi antar-klinik membantu perawatan tetap berlanjut di dua tempat. Pemantauan rutin, perubahan terapi, dan perhatian dokter terhadap kondisi pasien juga menjadi bagian penting dari ikhtiar yang sedang dijalani.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Beberapa bulan yang lalu, saya menulis sebuah kolom di media mengenai apresiasi pribadi saya terhadap kemajuan ilmu kedokteran dan praktiknya. Hal ini saya alami sendiri dari tim dokter yang menangani saya sejak awal kedatangan saya di Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapura.

Saat itu, Dr. Daryl Tan, seorang ahli Myeloma dan Gangguan Darah, mendiagnosis bahwa jika saya tidak segera melakukan penanganan dalam dua tahun ke depan, saya dipastikan akan menderita Myeloma atau Multiple Myeloma.

Pemahaman saya, sel kanker ini akan menggerogoti sel darah putih yang berakibat pada hilangnya sistem kekebalan tubuh. Dampak selanjutnya adalah gagal ginjal akibat serangan Myeloma tersebut. Mengingat kemungkinan buruk ini, saya pun berkonsultasi dengan Dr. Adrian Liew, seorang Spesialis Transplantasi Ginjal.

Pada tahap ini, Dr. Liew meyakinkan bahwa ginjal saya masih berfungsi dengan sangat baik. Namun, ia menyarankan agar saya menjaga kadar gula darah dengan mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat. Saya juga diminta menghindari semua makanan mentah; lupakan sashimi, sushi, telur mata sapi setengah matang, hingga sayuran mentah.

Selain itu, saya disarankan untuk menurunkan berat badan, meski tidak perlu drastis. Ketika saya melaporkan telah berhasil turun 8 kilogram dalam enam minggu, beliau justru berkata, "Cukup, tolong jangan turunkan lagi berat badannya."

Untuk memantau kadar gula darah secara rutin, saya menempelkan sebuah alat kecil dengan kabel sensor di lengan saya. Alat bernama FreeStyle Libre Link ini terhubung langsung ke ponsel pintar untuk melaporkan kadar gula, dan harus diganti setiap dua minggu sekali. Gawai kecil ini sangat berguna karena saya bisa segera mengoreksi asupan setiap kali angka di layar merangkak naik.

Seperti yang kita tahu, ketika seseorang mengidap diabetes, kondisi kesehatannya akan menjadi sangat rentan. Hal ini dapat dengan mudah melemahkan organ-organ tubuh lainnya hingga akhirnya gagal berfungsi kembali.

Terkait pengobatan kanker, Dr. Tan meresepkan terapi suntik dengan nama yang cukup sulit diucapkan: Daratumumab, atau disingkat Dara. Suntikan ini harus diberikan setiap dua minggu sekali.

Untuk memudahkan proses ini, saya menghubungkan Dr. Tan dengan dokter keluarga kami di Jakarta yang berpraktik di Klinik The Good Practice, Kemang. Dengan skema ini, saya mendapatkan suntikan pertama di Singapura, lalu dua minggu kemudian di Jakarta oleh tim dokter yang terdiri dari Dr. David, Dr. Shendy, dan Dr. Viandini. Klinik di Kemang ini dikelola bersama oleh dokter asal Belanda, Dr. Steven Graff, dan dokter Indonesia, Dr. Asri.

Setiap bulannya, saya tetap harus menjalani tes darah dan urine di Singapura. Kerja sama antar-klinik ini berjalan sangat baik dan para dokter bisa saling berkomunikasi secara leluasa.

Menurut rencana awal, saya membutuhkan sekitar 22 kali suntikan Dara. Seiring berjalannya waktu, tumor marker (penanda kanker) saya memang menurun. Namun, Dr. Tan belum merasa puas karena angkanya stagnan di level yang menurutnya kurang rendah, dan sewaktu-waktu bisa naik kembali. Itu adalah masalah baru yang harus dihadapi dan jujur saja, cukup mengkhawatirkan bagi saya.

Bulan lalu, Dr. Tan menyarankan untuk mengubah pengobatan dari Dara ke suntikan steroid. Saya akan menjelaskannya sesuai dengan pemahaman saya: suntikan steroid ini bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker Myeloma secara langsung dan efektif.

Beberapa minggu lalu, ketika Dr. Tan menyinggung rencana ini, anak saya, Budi, yang ikut mendampingi sesi konsultasi langsung bertanya, "Bisakah kita melakukannya sekarang juga, daripada harus menunggu beberapa minggu lagi?"

Saya tidak ingat persis apa jawaban Dr. Tan saat itu. Namun saat ini, saya sedang berada di Singapura, sudah menerima dua kali suntikan steroid, dan sedang menunggu suntikan berikutnya dalam beberapa hari ke depan. Efek samping yang berbeda memang kadang muncul, tetapi tidak terlalu mengganggu saya. Jadi, saya rasa mengganti Dara dengan steroid adalah langkah yang tepat.

Saya memperhatikan reaksi Dr. Tan saat meninjau hasil tes darah saya; tampaknya ada harapan yang lebih baik bahwa sel-sel Myeloma ini akan lenyap dari tubuh saya. Saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar kasih-Nya turut campur tangan menyukseskan ikhtiar ini.

Terlepas dari apa pun hasilnya, inti dari tulisan ini adalah, dari lubuk hati yang paling dalam saya ingin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Dr. Daryl Tan, Dr. Adrian Liew, Dr. David, Dr. Shendy, Dr. Viandini, Dr. Rio, serta Dr. Graff. Tidak lupa juga kepada seluruh perawat di klinik Dr. Tan di Mount Elizabeth Novena Hospital dan Klinik The Good Practice Kemang. Terima kasih atas segala usaha luar biasa Anda dalam membantu saya, semoga sel jahat Myeloma ini benar-benar terusir dari tubuh saya, dan juga dari tubuh siapa pun yang sedang berjuang mencari pengobatan.

Hari ini adalah hari terakhir saya mendapatkan suntikan steroid di Mount Elizabeth Novena Hospital. Karena Dr. Tan ingin memantau secara ketat, saya harus dirawat inap malam ini. Dr. Tan tampak optimistis bahwa saya sudah bisa diizinkan pulang esok hari.

Saya masih harus menerima suntikan steroid minggu depan dan minggu depannya lagi di Jakarta, sebelum kembali ke Singapura pada akhir bulan. Saat itu tiba, dokter akan memutuskan apakah perawatan ini sudah bisa diakhiri dan menyatakan saya bebas dari Myeloma—sebuah deklarasi yang sangat ingin saya dengar secepatnya, jika Tuhan menghendaki. Mohon doanya.

Saya ingin menutup kolom ini dengan sebuah cerita lucu tentang bagaimana dokter menguji daya ingat saya. Saya diminta mendemonstrasikan apakah saya masih bisa menulis dengan tangan. Saya diberi tiga lembar kertas folio kosong dan diminta menulis beberapa kalimat untuk mengisinya.

Saya melakukannya dengan senang hati, walau sambil berpikir betapa lucunya situasi ini. Di usia senja, sebagai seorang guru besar emeritus, saya harus membuktikan bahwa saya masih bisa melakukan hal sesederhana itu. Tentu saja tulisan itu tampak seperti coretan biasa bagi saya, tapi kenapa tidak? Saya masih banyak menulis hingga saat ini, meskipun semuanya menggunakan laptop.

Pada akhirnya, jika Anda ingin sehat, patuhi saja apa yang disarankan atau dilarang oleh dokter Anda. Itulah pesan moral dari cerita ini. Saya percaya bahwa sikap positif adalah bagian dari obat yang harus kita telan. Tidak ada gunanya mengeluh.

J. Soedradjad Djiwandono

Guru Besar Emeritus Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEB UI), Jakarta.

Curated For You

Editorial Team

Related Article