Demonstrasi selalu menjadi bagian penting dari kehidupan demokrasi. Di ruang publik, aksi turun ke jalan kerap dipandang sebagai cara warga menyampaikan tuntutan ketika jalur formal dianggap tidak lagi cukup efektif. Namun, di tengah meningkatnya frekuensi unjuk rasa, muncul pertanyaan yang terus berulang: apakah aksi demonstrasi ideal itu harus tenang atau justru perlu mengusik agar pesannya terdengar?
Perdebatan mengenai demo yang tenang atau mengusik memang tidak pernah benar-benar selesai karena menyangkut cara masyarakat memahami demokrasi itu sendiri. Di satu sisi ada tuntutan ketertiban, sementara di sisi lain terdapat kebutuhan untuk memastikan aspirasi publik tidak tenggelam begitu saja. Lalu, sejauh mana sebuah demonstrasi perlu mengguncang ruang publik agar tetap relevan?
