Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Fakta Unik Coober Pedy, Kota Sunyi yang Ternyata Bergelimang Opal
tambang batu opal Coober Pedy (Frans-Banja Mulder, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons)
  • Penduduk Coober Pedy hidup di rumah bawah tanah untuk menghindari suhu ekstrem gurun yang bisa mencapai 50 derajat Celsius, menciptakan gaya hidup unik dan menarik wisatawan dunia.
  • Nama Coober Pedy berasal dari frasa bahasa Aborigin 'kupa piti' yang berarti lubang air milik pria kulit putih, disepakati sebagai nama resmi wilayah pada tahun 1920.
  • Kota ini menjadi pusat penambangan batu opal terbesar di dunia, menyuplai hingga 80 persen pasokan global dan sering dijadikan lokasi syuting film Hollywood berkat lanskap tandusnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah hamparan gurun pasir yang sangat gersang di wilayah pedalaman Outback Australia Selatan, berdiri sebuah pemukiman tidak biasa bernama Coober Pedy. Sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1915 oleh rombongan pencari emas, tempat ini telah menarik perhatian dunia karena hampir seluruh kehidupan warganya berlangsung di bawah permukaan tanah.

Penduduk setempat terpaksa memindahkan rumah, toko, hingga rumah ibadah mereka ke dalam gua buatan demi menghindari sengatan suhu ekstrem yang bisa menembus 50 derajat Celsius saat musim panas. Gaya hidup unik tersebut akhirnya berhasil menjadikan kawasan sunyi ini sebagai salah satu destinasi wisata paling tidak lazim yang diminati oleh pelancong mancanegara.

1. Penduduk membangun rumah di bawah tanah demi menghindari cuaca ekstrem

kamar bawah tanah Coober Pedy (Kerry Raymond, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Suhu udara di kawasan Outback Australia terkenal sangat tidak bersahabat bagi ketahanan fisik manusia. Saat musim panas tiba, merkuri pada termometer di daerah ini sering kali melonjak hingga melebihi angka 50 derajat Celsius. Kondisi alam yang sangat gersang tersebut akhirnya memaksa masyarakat setempat untuk memutar otak agar bisa terus bertahan hidup dengan nyaman.

Mereka akhirnya memilih untuk memahat bukit-bukit batu pasir guna menciptakan ruang tempat tinggal yang teduh. Rumah bawah tanah yang disebut dengan istilah dugout ini terbukti sangat efektif menjaga suhu ruangan tetap stabil di angka 23 hingga 25 derajat Celsius. Kini, tidak hanya tempat tinggal pribadi saja yang berada di dalam tanah, melainkan juga hotel, gereja, perpustakaan, hingga kedai kopi.

2. Suku asli Aborigin melahirkan nama kota ini lewat istilah lokal

potret papan nama Coober Pedy (eyeintim, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Sebelum kedatangan para penambang dari benua Eropa, suku asli Aborigin sudah mendiami wilayah gurun kering tersebut sejak ribuan tahun silam. Ketika para pendatang kulit putih mulai menggali lubang-lubang besar untuk mencari batu permata, penduduk asli terus mengamati aktivitas yang tidak biasa ini. Mereka pun mulai menyebut tingkah laku para pendatang baru tersebut dengan sebuah frasa dalam bahasa lokal mereka.

Ungkapan tersebut berbunyi kupa piti yang secara harfiah memiliki arti lubang air milik pria kulit putih. Para penambang pendatang kemudian menyerap pelafalan frasa tersebut ke dalam bahasa Inggris hingga akhirnya bergeser menjadi kata Coober Pedy. Nama unik hasil pergeseran lidah ini secara resmi disepakati sebagai nama wilayah tersebut pada tahun 1920 yang lalu.

3. Wilayah gersang ini menyuplai sebagian besar batu opal untuk pasar dunia

tambang batu opal Coober Pedy (Frans-Banja Mulder, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons)

Coober Pedy bukanlah sekadar kota bawah tanah sepi yang minim dengan aktivitas ekonomi yang menghasilkan uang melimpah. Kota kecil di tengah kepungan gurun pasir ini sebenarnya memegang peranan yang sangat vital dalam rantai perdagangan batu mulia di tingkat global. Penemuan cadangan mineral berharga di tempat ini pertama kali terjadi secara tidak sengaja oleh seorang remaja laki-laki bernama Willie Hutchison.

Sejak penemuan bersejarah itu, wilayah ini berkembang dengan sangat pesat menjadi pusat penambangan batu opal terbesar di bumi. Diperkiraan sekitar 70 hingga 80 persen dari total pasokan batu opal berkualitas tinggi di pasar internasional berasal dari perut bumi kota kecil ini. Fakta tersebut membuat Coober Pedy dijuluki secara internasional sebagai ibu kota batu opal dunia oleh para pencinta perhiasan mewah.

4. Sutradara Hollywood kerap memilih lanskap kering ini sebagai latar film

Coober Pedy (qwesy qwesy, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons)

Permukaan luar dari wilayah Coober Pedy menyajikan pemandangan alam yang sangat gersang, berdebu, dan hampir tidak ditumbuhi oleh pepohonan hijau sama sekali. Bentang alam yang dipenuhi oleh sisa-sisa bukit galian tambang ini memberikan atmosfer visual yang terasa sangat asing seperti di luar angkasa. Keunikan visual yang sangat dramatis ini rupanya sukses menarik perhatian besar dari industri perfilman dunia, terutama dari produser Amerika Serikat.

Sejumlah karya layar lebar bergenre fiksi ilmiah yang sangat populer seperti film Mad Max Beyond Thunderdome menggunakan kawasan sunyi ini untuk proses syuting mereka. Para kru film menyukai bentang alam tandus ini karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya besar demi menciptakan visual planet mati melalui teknologi CGI. Hingga hari ini, para wisatawan yang datang berkunjung masih bisa melihat beberapa properti film yang sengaja ditinggalkan di sana.

Melihat keunikan gaya hidup di bawah tanah serta sejarahnya yang sangat dinamis, Coober Pedy berhasil membuktikan bahwa keterbatasan alam bukanlah sebuah penghalang bagi manusia untuk terus bertahan hidup dan berkreasi. Kota kecil di pedalaman Australia ini akan selalu menjadi destinasi yang memukau bagi siapa saja yang ingin merasakan petualangan magis di dalam perut bumi yang sunyi namun bergelimang batu mulia berkilau.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article