Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

3 Fakta Zat Kimia di Balik Popcorn Microwave Beraroma Mentega

3 Fakta Zat Kimia di Balik Popcorn Microwave Beraroma Mentega
ilustrasi makan popcorn (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Share Article

Menonton film di rumah atau pun di bioskop, biasanya ditemani dengan semangkuk besar popcorn. Yap, tren anak muda banget. Namun, popcorn lebih dari sekadar camilan film, lho.

Beberapa orang Barat biasanya menyertakan popcorn sebagai taburan untuk ayam goreng, stik pretzel manis dan asin, serta camilan lainnya. Apalagi popcorn terkenal karena aroma semerbak menteganya yang menggoda. Namun, jika kamu terlalu banyak mengonsumsi popcorn microwave (popcorn instan yang dijual di market), kamu ternyata bisa terpapar zat kimia berbahaya. Apa itu ya? Mari kita cari tahu penjelasan lengkapnya!

1. Zat kimia apa yang terdapat dalam popcorn microwave? Dan apa risikonya terhadap kesehatan?

ilustrasi sesak napas
ilustrasi sesak napas (pexels.com/cottonbro studio)

Menurut jurnal yang ditulis oleh David Egilman, dkk., berjudul "Popcorn-worker Lung Caused by Corporate and Regulatory Negligence: An Avoidable Tragedy" (2013), dalam International Journal of Occupational and Environmental Health, pada awal abad ini, karyawan pabrik popcorn microwave menderita penyakit yang dijuluki popcorn lung. Ini adalah penyakit serius yang menyebabkan jaringan parut permanen di paru-paru, mengakibatkan batuk, sesak napas, dan mengi. Diketahui bahwa menghirup diasetil—bahan kimia rasa mentega yang digunakan pada popcorn—adalah penyebabnya.

Alhasil, beberapa produsen popcorn rumahan di AS menghilangkan diasetil dari produk mereka pada tahun 2007 dan menggantinya dengan asetil propionil (2,3 pentanedion). Namun, asetil propionil juga terbukti menyebabkan cedera saluran pernapasan yang parah jika dihirup. Diasetil dan asetil propionil pun menjadi kontroversial karena, meskipun menyebabkan masalah kesehatan serius jika dihirup, keduanya "umumnya dianggap aman" untuk dikonsumsi oleh FDA, menurut National Institute for Occupational Safety and Health.

Hal ini karena keduanya merupakan bahan kimia yang terjadi secara alami dalam makanan dan reaksi kimia selama proses pembuatan kue. Oleh karena itu, keduanya masih digunakan dalam makanan olahan. Sementara itu, NIOSH merekomendasikan pembatasan paparan zat kimia terhadap pekerja hingga 5 bagian per miliar untuk diasetil dan 9,3 bagian per miliar untuk asetil propionil selama 8 jam kerja.

Meskipun mengonsumsinya dianggap aman, zat kimia ini menimbulkan risiko inhalasi yang parah ketika digunakan dalam produk seperti semprotan minyak goreng dan menjadi partikel di udara. Dikutip Newsweek, bahkan hakim memberikan ganti rugi sebesar 25 juta dolar AS atau setara dengan Rp442 miliar pada Februari 2026 kepada seorang laki-laki yang menggugat Conagra Brands pada tahun 2020. Ia mengklaim terpapar diasetil, asetil propionil, dan zat kimia berbahaya serupa saat menggunakan produk Pam sejak tahun 1993. Hal ini menyebabkan kerusakan pada sistem pernapasannya dan masalah paru-paru lainnya. Meskipun Conagra berdalih telah menghilangkan diasetil dari produknya pada tahun 2009, tapi perusahaan tersebut tidak bisa memberikan cukup bukti.

2. Zat kimia perasa mentega bukanlah satu-satunya masalah yang dikhawatirkan dalam popcorn microwave

ilustrasi memakan popcorn
ilustrasi memakan popcorn (pixabay.com/yousafbhutta)

Ada juga zat per- dan polifluoroalkil (PFAS), yang disebut sebagai zat kimia abadi. Zat ini digunakan dalam produk kertas, termasuk kantong popcorn microwave. PFAS berpindah ke minyak pada popcorn, sehingga tanpa disengaja bisa tertelan ke orang yang memakan popcorn tersebut. Nah, karena zat kimia ini larut dalam air dan terurai dengan sangat lambat, zat kimia ini pun tetap ada dan menumpuk di lingkungan dan jaringan tubuh manusia.

Meskipun zat kimia ini ada dalam darah dan jaringan manusia, sebuah studi yang ditulis oleh Herbert P Susmann, dkk., berjudul "Dietary Habits Related to Food Packaging and Population Exposure to PFASs" (2019), yang diterbitkan dalam Environmental Health Perspectives, menemukan bahwa mereka yang secara teratur mengonsumsi popcorn microwave memiliki kadar PFAS yang jauh lebih tinggi di dalam tubuh mereka. Bahkan, peserta penelitian yang mengonsumsi popcorn setiap hari selama setahun memiliki kadar serum hingga 63 persen lebih tinggi.

Masalahnya adalah PFAS punya efek berbahaya, seperti peningkatan risiko kanker, penurunan kesuburan, gangguan sistem kekebalan tubuh, kolesterol tinggi, dan peningkatan risiko obesitas. Meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan, paparan zat kimia ini punya konsekuensi kesehatan yang lebih serius dan berpotensi lebih buruk tergantung pada tingkat toksisitasnya.

3. Popcorn microwave bukanlah satu-satunya makanan yang mengandung zat kimia ini

ilustrasi vape
ilustrasi vape (pexels.com/Renz Macorol)

Sayangnya, penggunaan diasetil, asetil propionil, dan PFAS tidak terbatas pada popcorn microwave aja, nih. Diasetil dan asetil propionil secara alami terdapat dalam makanan seperti makanan yang dipanggang, mentega, kakao, kopi, produk susu, madu, dan beberapa buah dan sayuran. Zat kimia ini juga ditemukan dalam bir dan anggur karena merupakan produk sampingan dari fermentasi. Adapun, diasetil juga terdapat pada (e-liquid) vape untuk memberikan sensasi rasa creamy, mentega, dan buah.

Sementara itu, PFAS tidak hanya terdapat dalam kantong popcorn microwave. Zat kimia ini digunakan untuk membuat pembungkus berbagai jenis makanan, termasuk pembungkus makanan cepat saji dan kotak pengiriman pizza. Selain itu, zat kimia ini juga masuk ke dalam makanan setelah dimasak jika masih menggunakan peralatan masak anti lengket yang terbuat dari bahan kimia tersebut. Menurut U.S. Food and Drug Administration, itulah kenapa beberapa negara bagian di AS melarang distribusi dan penjualan produk yang mengandung PFAS, mulai tahun 2028. Meskipun begitu, beberapa perusahaan telah berhenti menggunakannya.

Namun, PFAS juga berakhir di udara, tanah, dan air di sekitar fasilitas manufaktur dan tempat pembuangan sampah. Yap, hal ini menjadi salah satu dampak dari polusi kimia. Ikan dan hasil pertanian di daerah tersebut menjadi terkontaminasi akibatnya, sehingga sangat sulit untuk menghindari bahan kimia tersebut, nih.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira

Related Articles

See More

5 Fakta Kastil Gravensteen, Kastil Legendaris yang Masih Bertahan

22 Jun 2026, 15:49 WIBScience