Referensi
National Aeronautics and Space Administration. Diakses pada Juni 2026. Why Europa?
Nordheim, T. A., Hand, K. P., & Paranicas, C. (2018). Preservation of potential biosignatures in the shallow subsurface of Europa. Nature Astronomy, 2(8), 673–679. https://doi.org/10.1038/s41550-018-0499-8
Reuters. Diakses pada Juni 2026. Study Casts Doubt on Potential for Life on Jupiter's Moon Europa
Smithsonian Magazine. Diakses pada Juni 2026. The Search for Life on Europa Just Got Easier
The Conversation. Diakses pada Juni 2026. The Search for Life Beneath The Ice: Why We’re Going Back to Europa
The Conversation.Diakses pada Juni 2026. NASA Is Launching a Major Mission to Look for Habitable Spots on Jupiter’s Moon Europa
Kenapa Ilmuwan Masih Mencari Kehidupan di Satelit Europa?

- Europa menarik perhatian ilmuwan karena memiliki lautan air asin besar di bawah lapisan es, yang berpotensi menjadi tempat munculnya kehidupan seperti di Bumi.
- Satelit ini mengandung senyawa organik dan unsur kimia penting bagi kehidupan, meski belum ada bukti langsung adanya organisme hidup di sana.
- Pemanasan internal akibat tarikan gravitasi Jupiter bisa menciptakan ventilasi hidrotermal sebagai sumber energi, membuat Europa tetap jadi target utama pencarian kehidupan luar Bumi.
Ketika membahas tentang pencarian kehidupan di luar Bumi, banyak orang langsung membayangkan Mars. Padahal, perhatian para ilmuwan sebenarnya tertuju pada Europa, salah satu satelit alami Jupiter. Bulan es ini dianggap sebagai salah satu tempat paling menjanjikan untuk menemukan kehidupan di Tata Surya, meski hingga sekarang belum ada bukti bahwa makhluk hidup benar-benar ada di sana.
Lalu, apa yang membuat Europa begitu spesial? Mengapa para ilmuwan masih rela menghabiskan waktu bertahun-tahun dan dana miliaran dolar untuk mempelajarinya? Jawabannya ternyata karena Europa memenuhi syarat utama yang diperlukan agar kehidupan bisa muncul.
1. Europa diduga memiliki lautan cair yang sangat besar
Dari luar, Europa tampak seperti bola es berwarna putih dengan banyak retakan kecokelatan di permukaannya. Namun, penampilan itu ternyata menipu.
Selama puluhan tahun, berbagai misi antariksa menemukan bukti kuat bahwa di bawah lapisan es setebal beberapa kilometer terdapat lautan air asin dalam jumlah luar biasa besar. Bahkan, para ilmuwan memperkirakan volume air di Europa mencapai lebih dari dua kali lipat seluruh air laut di Bumi.
Keberadaan air cair menjadi alasan terbesar mengapa Europa begitu menarik. Di Bumi sendiri, hampir di mana pun ada air dalam bentuk cair, selalu ditemukan kehidupan, mulai dari bakteri hingga organisme yang lebih kompleks. Karena itu, jika Europa benar-benar memiliki samudra yang stabil selama miliaran tahun, peluang munculnya kehidupan tentu tidak bisa diabaikan.
2. Europa tampaknya memiliki bahan kimia yang dibutuhkan kehidupan
Air saja tentu belum cukup. Kehidupan juga membutuhkan unsur-unsur kimia sebagai bahan penyusun sel, seperti karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan berbagai senyawa organik.
Kabar baiknya, pengamatan menggunakan teleskop dan wahana antariksa menunjukkan adanya senyawa organik di permukaan Europa. Para ilmuwan menduga material tersebut kemungkinan berasal dari lautan di bawah lapisan es atau terbentuk melalui proses kimia alami di permukaannya. Kalau senyawa organik memang juga terdapat di dalam lautannya, maka Europa memiliki salah satu komponen penting yang dibutuhkan untuk membangun kehidupan.
Meski begitu, keberadaan molekul organik bukan berarti kehidupan pasti ada. Senyawa tersebut hanya menunjukkan bahwa bahan bakunya tersedia, sedangkan apakah bahan itu benar-benar berkembang menjadi organisme hidup masih menjadi misteri yang harus dipecahkan.
3. Ada sumber energi yang dapat menopang kehidupan

Selain air dan bahan kimia, kehidupan memerlukan sumber energi. Di Bumi, sebagian besar makhluk hidup memperoleh energi dari Matahari. Namun, kehidupan ternyata juga bisa bertahan tanpa sinar Matahari sama sekali.
Di dasar samudra Bumi terdapat ventilasi hidrotermal atau hydrothermal vents, yaitu celah di dasar laut yang mengeluarkan air panas kaya mineral. Di sekitar lokasi ini hidup berbagai mikroorganisme, cacing raksasa, kepiting, hingga hewan laut lainnya meskipun tidak pernah terkena cahaya Matahari.
Europa diduga memiliki kondisi serupa. Tarikan gravitasi Jupiter yang sangat kuat terus-menerus menarik dan meregangkan bagian dalam Europa. Proses ini menghasilkan panas melalui gesekan internal, sehingga dasar lautnya mungkin memiliki aktivitas hidrotermal. Jika benar terdapat ventilasi hidrotermal, tempat tersebut bisa menjadi sumber energi yang cukup untuk menopang kehidupan mikroba, bahkan mungkin organisme yang lebih kompleks.
4. Lautan Europa sudah ada selama miliaran tahun
Faktor lain yang membuat Europa sangat menarik adalah usianya. Para peneliti memperkirakan samudra bawah permukaan Europa telah bertahan sekitar empat miliar tahun. Itu berarti lautan tersebut memiliki waktu yang sangat panjang untuk memungkinkan berbagai proses kimia berkembang menjadi bentuk kehidupan sederhana.
Sebagai perbandingan, kehidupan pertama di Bumi juga diperkirakan muncul beberapa ratus juta tahun setelah planet ini terbentuk. Dengan rentang waktu yang hampir sama, tidak mengherankan jika para ilmuwan menganggap Europa layak dijadikan target utama dalam pencarian kehidupan di luar Bumi.
5. Jejak kehidupan mungkin lebih mudah ditemukan daripada yang diperkirakan
Dulu para ilmuwan berpikir mereka harus mengebor lapisan es Europa hingga puluhan kilometer untuk mencari tanda-tanda kehidupan. Tugas seperti itu tentu sangat sulit dilakukan dengan teknologi saat ini.
Namun, penelitian terbaru memberikan harapan baru. Studi menunjukkan bahwa molekul biologis seperti asam amino kemungkinan dapat bertahan hanya beberapa sentimeter di bawah permukaan es, terutama di wilayah lintang menengah hingga tinggi. Artinya, wahana antariksa di masa depan mungkin cukup mengambil sampel dari permukaan tanpa perlu mengebor terlalu dalam. Jika benar demikian, pencarian tanda-tanda kehidupan di Europa akan menjadi jauh lebih realistis dibandingkan perkiraan sebelumnya. (Nature Astronomy, 2016)
Sampai hasil pengamatan dari Europa Clipper benar-benar diperoleh, Europa akan tetap menjadi salah satu tujuan paling menarik dalam eksplorasi luar angkasa. Dengan lautan raksasa yang tersembunyi, keberadaan senyawa organik, serta kemungkinan adanya sumber energi di dasar lautnya, satelit es milik Jupiter ini masih menjadi kandidat terbaik untuk menjawab pertanyaan apakah kita benar-benar sendirian di alam semesta.


















