Tidak hanya kehidupan sosialnya yang menarik. Konon katanya burung pelikan termasuk keturunan purba, lho! Nah, dalam artikel ini kita akan membahas lebih dalam seputar karakteristik burung pelikan, kehidupan sosial, dan benarkah mereka keturunan burung purba? Berikut penjelasannya!
5 Fakta Menarik Burung Pelikan, Burung Purba Terbesar di Dunia

- Burung pelikan dikenal sebagai burung besar dengan rentang sayap hingga 3 meter, paruh panjang berkapasitas 13 liter air, dan hidup berkelompok di sekitar perairan.
- Fosil pelikan tertua ditemukan di Prancis berusia sekitar 30 juta tahun, menunjukkan bentuk tubuh dan paruhnya hampir tidak berubah sejak zaman purba.
- Pelikan hidup dalam koloni besar hingga puluhan ribu ekor, bekerja sama saat berburu ikan, serta memiliki ritual kawin unik yang dipimpin oleh betina.
Di tengah perairan yang tenang, burung pelikan hidup dalam kelompok yang sangat besar. Mereka tidak pernah terlihat sendiri, hidupnya selalu berkelompok dalam urusan apapun. Paruhnya terlihat memanjang, memberi kesan eksotis. Sesekali burung-burung besar ini menampilkan tarian indah demi memikat pelikan lainnya.
1. Burung terbesar di dunia

Ukuran burung pelikan sangat besar. Bahkan beberapa spesies memiliki rentang sayap yang membentang sepanjang 3 meter. Ciri khas paling mencolok terlihat pada paruhnya yang panjang dan pipih dengan kantung tenggorokan.
Sebagian besar burung pelikan memiliki warna putih atau abu-abu, dan ujung sayapnya terdapat bercak hitam. Jika diperhatikan, bagian kakinya dipenuhi selaput, hal ini memudahkan pelikan untuk berenang dengan lihai. Beberapa spesies pelikan memiliki ukuran tubuh yang bervariasi. Namun, rata-rata burung pelikan berat tubuhnya bisa mencapai 15 kg dengan panjang tubuh 1 hingga 1,8 meter. Sementara itu, panjang lehernya mencapai 30-40 cm.
2. Keturunan burung purba sejak 30 juta tahun lalu

Dilansir Australian Geographic, fosil pelikan tertua ditemukan di Prancis, dan berasal dari 30 juta tahun yang lalu. Namun yang aneh dari fosil ini adalah sebagian tengkorak, leher, dan hampir seluruh paruh terawetkan dengan sempurna. Adanya fosil tersebut mengungkap bahwa burung pelikan relatif tetap sama selama jutaan tahun, paruhnya berukuran sekitar 30 cm, yang merupakan ukuran rata-rata paruh pelikan di masa sekarang.
3. Pelikan hidup dalam koloni besar

Burung pelikan sangat menyukai tempat yang dekat dengan perairan, seperti danau, sungai, atau pantai. Mereka merupakan makhluk sosial dan hidup dalam kelompok besar. Terkadang kelompok ini cukup besar. Satu kelompok berjumlah lebih dari 1.900 burung.
Saking sosialnya, burung pelikan sering bekerja sama untuk berburu makanan. Kawanan pelikan akan berbaris atau membentuk setengah lingkaran untuk mengepung dan menggiring ikan tepi pantai yang lebih dangkal. Begitu ikan-ikan terjebak, kawanan pelikan ini dengan sigap menyiduknya dengan mengandalkan kantung paruh.
4. Paruhnya dapat menampung 13 liter air

Paruh dan kantung burung pelikan berperan penting dalam mencari makanan. Paruhnya cukup sensitif, yang mana memudahkan burung pelikan untuk menemukan ikan di air keruh.
Paruh ini juga dilengkapi dengan kait di ujung rahang atas, kemungkinan untuk mencengkram makanan yang licin. Saat makanan tertangkap, mereka memanipulasinya di paruh sampai sampai mangsa menundukkan kepalanya ke tenggorokan pelikan. Kemudian hanya dengan sekali sentakan kepala, pelikan sudah menelan mangsanya secara utuh.
Rahang bawahnya terdiri dari dua tulang tipis dan bersendi lemah tempat kantung menggantung. Ketika seluruh paruhnya terentang, maka paruh tersebut dapat menampung 13 liter air.
Diperkirakan paruh pelikan memiliki panjang 40-50 cm. Panjang paruhnya ini bisa lebih panjang daripada panjang tubuhnya sendiri. Tidak heran kalau burung pelikan dinobatkan sebagai burung dengan paruh terpanjang di dunia. Terkadang burung pelikan menengadahkan paruhnya untuk minum dari air hujan yang jatuh ke bumi. Meskipun paruhnya besar, namun temboloknya ini tidak dirancang untuk menyimpan makanan dalam jangka lama hanya dalam jangka pendek saja.
5. Pelikan betina memimpin ritual kawin

Proses berkembang biak burung pelikan dipengaruhi oleh faktor curah hujan. Sebelum melakukan ritual kawin, mereka biasanya berkumpul dalam koloni yang sangat besar, yakni mencapai 40.000 ekor di pulau atau pantai terpencil.
Ritual kawin dimulai dengan seekor betina yang memimpin sekelompok pejantan berkeliling koloni. Selama pengejaran tersebut, para pejantan akan saling bersaing dengan mengayunkan paruh terbuka mereka ke samping untuk menarik perhatian betina. Sesekali pelikan jantan akan melakukan atraksi seperti melempar dan menangkap kembali benda kecil, misalnya seperti ranting atau ikan yang sudah kering.
Tidak hanya pertunjukan unik, burung pelikan juga melakukan gerakan menakjubkan, di mana mereka mengatupkan paruh dengan sangat cepat hingga kantung tenggorokan berkelompok seperti bendera di tiang yang tertiup angin. Persaingan ini berlangsung ketat hingga satu per satu jantan akan gugur karena kelelahan atau kalah saing. Setelah melakukan banyak atraksi demi memikat betina, akhirnya hanya akan ada satu pejantan yang terpilih.
Sebagai penutup, burung pelikan adalah makhluk luar biasa yang memilih hidup dalam kelompok raksasa demi mendapatkan makanan. Burung yang sudah ada sejak 30 juta tahun yang lalu ini juga memiliki pola kawin yang unik dan lagi-lagi mengandalkan kawanannya hingga puluhan ribu burung pelikan.









![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kamu Bisa Time Travel ke Masa Lalu atau Masa Depan?](https://image.idntimes.com/post/20250506/1000008112-a9936ff4ece60dc64a0fc7d3e0c841a5.png)









