Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Negara yang Pernah Menggelar Operasi Besar-besaran Melawan Hewan
Perang Emu (commons.wikimedia.org/Unknown author)
  • Beberapa negara pernah menggelar operasi besar melawan hewan, seperti Australia dengan Perang Emu dan Tiongkok lewat Kampanye Empat Hama yang berujung pada bencana ekologi.
  • Ekuador sukses memulihkan ekosistem Galapagos melalui Proyek Isabela dengan strategi pemburuan kambing liar menggunakan helikopter dan kambing Yudas berpelacak radio.
  • Prancis dan Brasil sempat bersitegang dalam 'Perang Lobster' akibat sengketa hak tangkap laut, namun konflik mereda setelah pengadilan internasional memenangkan klaim Brasil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sejarah mencatat bahwa konflik berskala besar tidak selalu terjadi antar-kelompok manusia atau perebutan kedaulatan wilayah negara. Dalam beberapa kasus ekstrem, pemerintah resmi di sejumlah negara pernah menggelar operasi besar-besaran untuk melawan populasi hewan tertentu. Kebijakan radikal ini biasanya diambil ketika serangan atau lonjakan populasi satwa dianggap mengancam stabilitas ekonomi serta ketahanan pangan nasional.

Pengerahan sumber daya masif hingga senjata taktis ini memicu pertempuran unik yang dicatat secara serius dalam lembaran sejarah modern dunia. Meskipun didukung strategi yang matang, hasil akhir dari perang melawan alam ini sering kali tidak berjalan sesuai dengan rencana awal. Beberapa operasi bahkan harus dihentikan karena dinilai tidak efektif serta memicu ketidakseimbangan ekosistem dalam skala luas. Berikut adalah daftar negara yang pernah melakukannya.

1. Australia - Perang Emu (1932)

Potret tentara Australia menangkap dan memerangi burung emu (commons.wikimedia.org/子ファース)

Krisis lingkungan melanda wilayah Campion, Australia Barat, pada tahun 1932 akibat migrasi massal puluhan ribu burung emu ke pedalaman. Dilansir laman Nomads World, peristiwa ini memicu kerusakan parah pada lahan pertanian gandum yang saat itu sedang lesu akibat krisis ekonomi global. Kawanan burung besar tersebut merusak pagar pembatas lahan, sehingga hama lain seperti kelinci leluasa masuk dan ikut menghancurkan sisa tanaman.

Menteri Pertahanan Sir George Pearce akhirnya setuju mengirim pasukan militer bersenjata dua senapan mesin Lewis di bawah pimpinan Mayor G.P.W. Meredith. Namun, taktik militer konvensional ini gagal total. Kawanan emu sangat cerdik, mereka langsung memecah diri ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk menghindari tembakan. Setelah menghabiskan ribuan butir amunisi dengan hasil yang minim, operasi bersenjata ini resmi dihentikan akibat sorotan negatif media.

Kegagalan ini memaksa pasukan militer ditarik mundur sebelum kawanan burung berhasil dihalau sepenuhnya. Meski sempat ada operasi gelombang kedua yang mengklaim berhasil membasmi hampir seribu ekor emu, secara de facto burung emu memenangkan pertempuran terbuka ini. Otoritas setempat pun akhirnya sadar dan mengubah total strategi manajemen konflik satwa mereka.

2. Tiongkok – Mobilisasi Massa Kampanye Empat Hama (1958)

Poster propaganda dari Kampanye Empat Hama atau Four Pests Campaign (commons.wikimedia.org/Red Cross and the Health Propaganda Office of the Health Department of Fujian Province)

Pemerintah Tiongkok meluncurkan Kampanye Empat Hama (Four Pests Campaign) pada 1958 sebagai bagian dari program sosial-ekonomi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan hasil pertanian. Dilansir laman Think Landscape, kampanye ini menargetkan pemberantasan lalat, nyamuk, tikus, serta burung gereja. Pemimpin Tiongkok saat itu, Mao Zedong, memasukkan burung gereja ke dalam daftar target karena dianggap memakan biji-bijian hasil panen warga.

Dalam operasi besar-besaran ini, seluruh elemen masyarakat dimobilisasi. Warga diminta memukul panci dan drum tanpa henti agar burung gereja ketakutan, terus terbang, lalu mati akibat kelelahan fisik. Ratusan juta burung gereja berhasil dimusnahkan dalam waktu singkat hingga populasinya nyaris punah secara lokal. Namun, operasi masif yang awalnya dianggap sukses besar ini justru menjadi awal dari bencana ekologi mematikan.

Hilangnya burung gereja sebagai predator alami seketika memicu ledakan populasi hama belalang dan ulat secara tak terkendali. Tanpa ada yang memangsa, jutaan belalang menyapu bersih ladang pertanian dan menghancurkan pasokan pangan. Bencana salah sasaran ini akhirnya memicu kelaparan hebat yang merenggut korban jiwa hingga puluhan juta rakyat akibat krisis pangan total.

3. Ekuador – Proyek Isabela di Galapagos (1997–2006)

Kura-kura di Kepulauan Galapagos, Ekuador (commons.wikimedia.org/David Adam Kess)

Ekuador menghadapi ancaman kerusakan ekosistem di Kepulauan Galapagos akibat ledakan populasi kambing liar yang dulunya dibawa oleh para pelaut pada abad ke-19. Dilansir laman Galapagos Conservation, upaya penyelamatan lingkungan berskala besar ini dikenal sebagai Proyek Isabela yang dimulai pada 1997. Kambing-kambing tersebut merusak vegetasi di lereng Gunung Berapi Alcedo, yang merupakan habitat penting bagi kura-kura raksasa Galapagos.

Demi menyelamatkan pulau, otoritas setempat menggelar operasi pemburuan taktis. Mereka mengombinasikan tim penembak jitu darat dengan helikopter untuk melacak dan menembaki kawanan kambing liar dari udara secara masif.

Uniknya, peneliti juga melepaskan ratusan "kambing Yudas" yang telah disterilisasi dan dipasangi kalung pelacak radio. Kambing ini bertugas mencari kelompok liar dan membocorkan lokasi mereka kepada tim pemburu. Proyek restorasi ambisius ini sukses besar membersihkan pulau dari mamalia asing, sehingga vegetasi asli kawasan tersebut perlahan pulih kembali.

4. Prancis dan Brasil – Sengketa Militer "Perang Lobster" (1961–1963)

Pesawat Angkatan Udara Brasil terbang di atas kapal perusak Prancis selama Perang Lobster (commons.wikimedia.org/Marine brésilienne)

Berbeda dengan tiga kasus sebelumnya yang fokus membasmi hewan, operasi militer yang satu ini dipicu oleh perebutan komoditas laut. Dilansir laman Things I Learned Last Night, konflik ini terjadi antara Prancis dan Brasil akibat sengketa hak penangkapan lobster di perairan Amerika Selatan pada awal dekade 1960-an. Masalah dimulai ketika nelayan Prancis mengalihkan wilayah tangkapan mereka ke lepas pantai Brasil. Tak main-main, Prancis mengirim kapal perusak militer untuk mengawal kapal nelayan komersial mereka. Langkah ini langsung direspons Brasil dengan mengerahkan armada perang ke zona sengketa.

Konflik ini juga diwarnai perdebatan hukum yang menggelitik yakni diplomat Prancis mengklaim lobster sebagai ikan karena mereka berenang, sedangkan Brasil menganalogikannya seperti kangguru yang melompat di dasar laut sehingga termasuk kekayaan landas kontinen Brasil. Ketegangan bersenjata ini akhirnya mereda setelah pengadilan internasional memenangkan klaim kedaulatan wilayah laut Brasil, yang memaksa seluruh kapal militer dan nelayan Prancis angkat kaki dari sana.

Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa langkah ekstrem tidak selalu menjadi solusi dalam mengatasi konflik antara manusia dan satwa. Agar tidak menimbulkan masalah baru, setiap kebijakan penanganan satwa sebaiknya mempertimbangkan keseimbangan ekosistem dan didasarkan pada kajian ilmiah yang matang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article