5 Keunikan Chameleon Jackson, Bertanduk Tiga seperti Triceratops

- Chameleon Jackson berasal dari Kenya dan Tanzania, dikenal karena tiga tanduk khas pada jantan yang digunakan untuk mempertahankan wilayah di pepohonan.
- Spesies ini hidup hampir sepenuhnya di atas pohon, menggunakan ekor melilit untuk keseimbangan dan menjilat embun sebagai sumber air utama.
- Tidak seperti bunglon lain, Chameleon Jackson melahirkan anak hidup berwarna cokelat yang kemudian berubah hijau, serta berkomunikasi melalui perubahan warna tubuh.
Chameleon Jackson merupakan salah satu spesies bunglon yang paling mudah dikenali berkat penampilannya yang tidak biasa. Reptil bernama ilmiah Trioceros jacksonii ini berasal dari wilayah pegunungan di Kenya dan Tanzania. Bentuk kepalanya yang unik membuatnya tampak berbeda dibandingkan sebagian besar spesies bunglon lainnya.
Keunikan tersebut tidak hanya terlihat dari tanduknya, tetapi juga dari cara berkembang biak, kemampuan hidup di pepohonan, hingga perilaku mempertahankan wilayah. Berbagai adaptasi itu menjadikan Chameleon Jackson sebagai salah satu reptil yang menarik untuk dipelajari dari sudut pandang biologi. Berikut lima keunikan Chameleon Jackson yang membuatnya begitu istimewa.
1. Memiliki tiga tanduk yang mengingatkan pada Triceratops

Chameleon Jackson jantan memiliki tiga tanduk berwarna kecokelatan yang tumbuh di bagian hidung dan di atas kedua mata. Ciri tersebut membuat reptil ini sering dijuluki sebagai bunglon bertanduk tiga karena tampilannya menyerupai dinosaurus Triceratops dalam ukuran mini. Sebaliknya, individu betina umumnya tidak memiliki tanduk.
Menurut San Diego Zoo Animals and Plants, tanduk tersebut bukan sekadar hiasan. Chameleon Jackson jantan menggunakan tanduk tersebut saat mempertahankan wilayah dari pejantan lain. Dalam persaingan tersebut, dua individu dapat saling mengaitkan tanduk lalu saling mendorong di atas dahan hingga salah satunya mundur.
2. Hidup hampir sepanjang waktu di pepohonan

Menurut San Diego Zoo Wildlife Explorers, Chameleon Jackson merupakan penghuni pepohonan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas cabang. Ekor yang dapat melilit membantu tubuhnya tetap stabil ketika berpindah dari satu ranting ke ranting lainnya. Adaptasi tersebut memungkinkan reptil ini bergerak dengan aman di lingkungan yang dipenuhi vegetasi.
Masih berdasarkan San Diego Zoo Wildlife Explorers, cara memenuhi kebutuhan air juga cukup berbeda. Chameleon Jackson tidak biasa meminum air dari genangan. Sebagai gantinya, reptil ini menjilat embun atau tetesan air yang menempel pada permukaan daun.
3. Melahirkan anak hidup, bukan bertelur

Sebagian besar spesies bunglon berkembang biak dengan bertelur. Namun menurut San Diego Zoo Animals and Plants, Chameleon Jackson termasuk sedikit spesies bunglon yang melahirkan anak. Anak-anaknya berkembang di dalam tubuh induk sebelum akhirnya dilahirkan.
Seekor induk dapat melahirkan sekitar delapan hingga tiga puluh anak dalam satu kali kelahiran setelah periode kehamilan 5 hingga 6 bulan. Setelah lahir, anak Chameleon Jackson tidak diasuh oleh induknya. Mereka segera mulai berburu serangga berukuran kecil secara mandiri sejak mampu bergerak.
4. Anak lahir berwarna cokelat lalu berubah menjadi hijau

Warna tubuh Chameleon Jackson muda berbeda dengan individu dewasa. Menurut San Diego Zoo Wildlife Explorers, bayi Chameleon Jackson lahir dengan warna cokelat sehingga tampilannya tidak langsung menyerupai induknya.
Masih berdasarkan sumber yang sama, perubahan warna terjadi seiring pertumbuhan. Sekitar usia empat bulan, tubuhnya berubah menjadi hijau cerah. Perubahan tersebut menjadi salah satu tahapan perkembangan yang mudah dikenali pada spesies ini.
5. Warna tubuh berubah sebagai bentuk komunikasi

Kemampuan mengubah warna memang menjadi ciri khas bunglon, termasuk Chameleon Jackson. Berdasarkan penjelasan San Diego Zoo Animals and Plants, perubahan warna bukan semata untuk menyamarkan diri dengan lingkungan. Warna tubuh juga berfungsi sebagai sarana komunikasi antarindividu.
Menurut San Diego Zoo Animals and Plants, pejantan yang lebih dominan biasanya menampilkan warna yang lebih cerah untuk menarik perhatian betina. Sebaliknya, pejantan yang menunjukkan sikap tunduk cenderung berwarna cokelat atau abu abu. Pada betina, perubahan warna juga dapat menjadi sinyal yang berkaitan dengan kondisi reproduksi.
Chameleon Jackson menunjukkan bahwa adaptasi hewan tidak selalu terlihat pada ukuran tubuh atau kekuatan fisik. Dari tiga tanduknya yang khas, hingga kemampuan berkomunikasi melalui warna menjadikan reptil ini sebagai salah satu spesies bunglon yang paling unik. Berbagai fakta tersebut sekaligus memperlihatkan betapa beragamnya strategi bertahan hidup yang berkembang di dunia reptil.





![[QUIZ] Kami Tahu Cara Kamu Beradaptasi pada Perubahan dari Hewan Purba yang Dipilih](https://image.idntimes.com/post/20220307/a-1-9b3ad9f379c33a673cb97fe2c1b99836-9fb3c2470e164033e49ae8fb0805b3c0.jpeg)















