5 Fakta Herculaneum, Kota Kuno yang Nasibnya Tak Kalah Tragis dari Pompeii

- Herculaneum, kota kuno di kaki Gunung Vesuvius, hancur bersamaan dengan Pompeii pada tahun 79 Masehi dan menyimpan catatan sejarah yang lebih utuh tentang kehidupan warganya.
- Setelah dikuasai Romawi, Herculaneum berkembang menjadi kota peristirahatan mewah bagi kaum aristokrat dengan vila megah, teater, pemandian umum, dan pemandangan laut yang menenangkan.
- Letusan Vesuvius menewaskan warga Herculaneum seketika akibat awan panas ekstrem, namun material vulkanik kedap udara justru mengawetkan artefak organik secara sempurna hingga kini.
Kalau mendengar tentang letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi, pikiran kita pasti langsung tertuju pada Kota Pompeii di Italia. Padahal, ada satu kota kuno lain bernama Herculaneum yang mengalami kehancuran serupa dalam waktu yang hampir bersamaan. Sebagai sesama kota tetangga yang letaknya bahkan lebih dekat dengan kaki gunung, Herculaneum menyimpan catatan sejarah yang tak kalah memilukan.
Meskipun namanya kalah populer dari Pompeii di kalangan awam, situs arkeologi Herculaneum justru menyimpan gambaran yang lebih utuh tentang detik-detik terakhir kehidupan warganya. Tertimbun oleh jenis material vulkanik yang berbeda, kota ini menyimpan berbagai bukti yang membantu para arkeolog mengungkap bagaimana kehidupan penduduknya berakhir hampir dua ribu tahun lalu. Penasaran seperti apa kisahnya? Yuk, simak deretan faktanya berikut ini!
1. Asal-usul nama kota yang lekat dengan mitologi Yunani

Sebelum runtuh akibat bencana, Herculaneum awalnya berdiri di jalur singgah jalan pantai kuno yang menghubungkan Neapolis (Naples modern) menuju Pompeii. Dilansir laman World History Encyclopedia, kota ini dalam kisah mitologinya didirikan langsung oleh pahlawan Yunani, Hercules, saat ia melintas dalam perjalanan pulang dari Iberia setelah menyelesaikan salah satu dari 12 tugas besarnya. Sesuai namanya, tata ruang jalanannya yang teratur juga memperlihatkan adanya keterikatan yang kuat dengan koloni Yunani di Naples.
Sebelum akhirnya dikuasai oleh Romawi, wilayah subur di bawah kaki gunung ini sempat berganti kepemilikan beberapa kali, mulai dari peradaban suku Oscan, Etruscan, Pelasgian, hingga bangsa Samnite. Keberadaan tanah subur di lereng bukit ini sebenarnya tercipta berkat endapan abu dan aliran lava dari erupsi purba Vesuvius ribuan tahun sebelum kota ini berdiri, menjadikannya sumber batuan tuf yang sangat melimpah untuk bahan bangunan warga.
2. Peralihan fungsi menjadi kota peristirahatan mewah

Setelah ditaklukkan oleh Romawi pada Perang Sosial tahun 89 Sebelum Masehi, kota ini berubah status menjadi sebuah municipium. Dilansir laman The Herculaneum Society, keterbatasan area daratan membuat Herculaneum tidak pernah tumbuh menjadi kota perdagangan besar yang padat kendaraan layaknya Pompeii, melainkan menjadi resor liburan yang tenang bagi kaum kaya. Jalanannya yang bersih minim dari bekas gesekan roda kereta memperlihatkan atmosfer kota yang santai, lengkap dengan pemandangan langsung ke arah laut.
Para aristokrat Romawi membangun vila-vila megah bermodel domus yang memiliki keunikan tersendiri berupa balkon lantai dua, taman teras, dan jendela panorama menghadap teluk. Fasilitas kotanya pun dirancang untuk memanjakan para pelancong, mulai dari teater, ruang olahraga (palaestra), kompleks forum, hingga tempat pemandian umum mewah (Terme Suburbane) di dekat Porta Marina yang dinding ruang gantinya dipenuhi dekorasi lukisan dinding eksotis.
3. Detik-detik erupsi yang berbeda nasib dengan Pompeii

Sebelum hancur total, wilayah pesisir ini sempat diguncang gempa hebat bermagnitudo 7,5 pada tahun 62 Masehi yang merusak banyak bangunan umum maupun rumah pribadi. Dilansir laman Britannica, sisa kerusakan akibat gempa tersebut bahkan belum selesai diperbaiki ketika erupsi utama Gunung Vesuvius akhirnya meledak hebat pada tahun 79 Masehi. Pada awal ledakan, arah angin membuat timbunan abu vulkanik pekat dan batu apung (lapilli) sebagian besar jatuh ke arah Pompeii, membuat atap bangunan di sana runtuh perlahan.
Sebaliknya, Herculaneum awalnya hanya menerima lapisan debu tipis yang sempat membuat warganya mengira mereka aman. Petaka sesungguhnya datang beberapa saat kemudian saat kolom awan gas dan material seberat jutaan ton di atas kawah runtuh, meluncurkan aliran awan panas bersuhu ekstrem 400 derajat Celsius langsung ke arah Herculaneum dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Gelombang panas mematikan ini langsung menghanguskan makhluk hidup di jalurnya dalam sekejap mata, jauh lebih instan dibanding proses penimbunan yang terjadi di Pompeii.
4. Penemuan kerangka korban yang mengungkap penyebab kematian

Selama awal penggalian abad ke-18, para peneliti sempat salah mengira bahwa hampir seluruh warga Herculaneum berhasil meloloskan diri karena minimnya temuan jasad di area pusat kota. Dilansir laman City of Herculaneum, asumsi tersebut patah setelah arkeolog mulai menggali area garis pantai kuno yang kini posisinya sudah bergeser akibat perubahan lanskap bumi. Di dalam ruangan lengkung beton tempat penyimpanan perahu (fornici) di tepi dermaga, para peneliti menemukan sekitar 300 kerangka manusia yang menumpuk berdesakan saat mencoba mencari jalan keluar lewat laut.
Temuan kerangka ini memperlihatkan perbedaan yang kontras dengan patung gips jasad korban di Pompeii. Jika warga Pompeii sebagian besar tewas perlahan karena mati lemas akibat menghirup gas beracun di bawah timbunan abu, korban di dalam gudang perahu Herculaneum ini dipastikan tewas instan akibat syok termal dari gas panas. Gelombang awan panas ekstrem langsung membuat jaringan tubuh mereka menguap seketika di dalam ruangan tertutup tersebut sebelum sempat bantuan kapal merapat untuk evakuasi.
5. Proses karbonisasi sempurna yang melindungi artefak organik

Perbedaan material yang menimbun kedua kota ini akhirnya menciptakan kondisi pelestarian yang sangat bertolak belakang. Merujuk kembali pada laman World History Encyclopedia, lapisan batuan tebal kedap udara ini justru menciptakan sistem pengawetan yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan Pompeii yang hanya tertimbun abu longgar. Lapisan tuf pekat ini melindungi seluruh interior isi kota dari pembusukan, penjarahan, serta kelembapan tanah selama hampir dua milenium.
Kini kondisi kedap oksigen tersebut memicu terjadinya karbonisasi sempurna, yaitu mengubah benda-benda organik menjadi arang tanpa merusak bentuk aslinya. Arkeolog berhasil menemukan objek kayu yang mustahil bertahan di Pompeii, mulai dari tangga rumah, tempat tidur, kain, hingga makanan utuh. Salah satu temuan paling memilukan adalah sebongkah roti arang di dalam oven yang masih membawa cap stempel Latin asli berbunyi "CELERIS Q GRANI VERI SER" yang berarti "Dibuat oleh Celer, budak dari Quintus Granius Verus".
Herculaneum memang berakhir akibat salah satu letusan gunung berapi paling dahsyat dalam sejarah. Namun, material vulkanik yang menimbunnya justru membantu mengawetkan berbagai jejak kehidupan Romawi kuno hingga dapat dipelajari saat ini. Beragam temuan arkeologi dari kota ini pun terus memberikan gambaran baru mengenai kehidupan masyarakat sebelum letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi.



















