Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Burung Hantu dari Genus Ketupa yang Hidup di Thailand
beluk ketupa (commons.wikimedia.org/Santanu Majumdar)
  • Thailand menjadi habitat bagi berbagai burung hantu dari genus Ketupa yang memiliki ciri tubuh besar, bulu cokelat, dan tonjolan seperti tanduk di kepala.
  • Lima spesies utama di Thailand meliputi beluk ketupa, beluk ketupa perut tutul, beluk ketupa cokelat, burung hantu elang bergaris, dan burung hantu elang gelap dengan karakter unik masing-masing.
  • Keberadaan burung hantu Ketupa berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem Thailand sebagai predator alami yang mengontrol populasi hewan kecil dan hama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Burung hantu sangat erat dengan kesan mistis karena suaranya yang menyeramkan dan aktivitasnya di malam hari. Hewan nokturnal tersebut juga merupakan predator ganas, bahkan bisa memangsa tikus hingga ular. Jika diulik penyebaran burung hantu juga luas, bahkan mencapai daerah tropis seperti Thailand.

Di Thailand sendiri ada banyak jenis burung hantu, salah satunya burung hantu dari genus Ketupa. Genus tersebut punya beberapa ciri khas, yaitu badan besar, bulu berwarna cokelat, dan kehadiran "tanduk" di atas matanya. Lantas, apa saja burung hantu dari genus Ketupa yang hidup di Thailand? Cari tahu di bawah ini, yuk.

1. Beluk ketupa merupakan spesies terkecil di jenisnya

beluk ketupa (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)

Ketupa ketupu atau beluk ketupa merupakan spesies yang bisa ditemukan di wilayah Bangladesh, Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Kamboja, Laos, Vietnam, hingga Indonesia. Dilansir Gembira Loka Zoo, spesies ini hidup di rawa, perkebunan, dan hutan. Tak hanya itu, bahkan ia bisa menghuni dataran tinggi dengan elevasi mencapai 1600 mdpl.

Menariknya, beluk ketupa merupakan spesies terkecil di jenisnya, lho. Panjangnya 40-48 centimeter dan bobotnya tak lebih dari 2.1 kilogram. Meski begitu, spesies ini tetap punya ciri khas dari genus Ketupa, yaitu "tanduk" di bagian kepala. Beluk ketupa juga termasuk predator yang tak pilah-pilih makanan. Ia bisa memangsa ikan, reptil, invertebrata, hingga bangkai buaya.

2. Beluk ketupa perut tutul punya suara seperti teriakan manusia

beluk ketupa perut tutul (commons.wikimedia.org/K Shiv Kumar)

Serupa dengan namanya, beluk ketupa perut tutul (Ketupa nipalensis) punya corak tutul berwarna hitam di perutnya. Ukurannya juga cukup besar dengan panjang maksimal 65 centimeter dan bobot mencapai 3 kilogram. Distribusi beluk ketupa perut tutul tak terbatas di Thailand, tapi juga meluas hingga ke Kamboja, India, Myanmar, Sri Lanka, Vietnam, hingga Pegunungan Himalaya.

Laman Birda juga menjelaskan bahwa beluk ketupa perut tutul memiliki suara keras yang serupa dengan teriakan manusia. Suara tersebut punya nada yang naik turun. Di hutan, suaranya akan terdengar menggema dan sangat keras, membuat suasana semakin mencengangkan. Meski begitu, ia bukan hewan yang berbahaya dan cenderung takut dengan manusia.

3. Beluk ketupa cokelat merupakan pemakan hewan air

beluk ketupa cokelat (commons.wikimedia.org/Souvick Mukherjee)

Dilansir Thai National Parks, penyebaran beluk ketupa cokelat di Thailand terpusat di wilayah tengah. Biasanya, hewan dengan nama ilmiah Ketupa zeylonensis ini kerap dijumpai di pegunungan dan hutan serta menghindari area pemukiman yang padat penduduk. Beluk ketupa cokelat sebenarnya merupakan hewan nokturnal, tapi di beberapa kesempatan ia juga akan aktif pada siang hari.

Unggas dengan bentang sayap 1.4 meter ini juga merupakan spesialis pemakan hewan air. Tercatat, makanan favoritnya adalah ikan, katak, dan krustasea seperti kepiting. Ketika berburu, ia akan menangkap mangsa menggunakan cakarnya yang tajam dan kakinya yang sangat kuat. Aktivitas berburunya kerap dilakukan di perairan yang stagnan, berbeda dengan spesies lain yang berburu di perairan deras.

4. Burung hantu elang bergaris cukup aktif pada siang hari

burung hantu elang bergaris (commons.wikimedia.org/John Tan S H)

Laman iNaturalist menjelaskan bahwa aktivitas burung hantu elang bergaris (Ketupa sumatrana) tidak ditentukan dari siang atau malam. Karena itu, ia kerap terlihat beraktivitas pada siang hari, khususnya ketika langit mendung atau berawan. Namun, aktivitasnya akan memuncak saat sore hari. Spesies ini juga hidup cukup dengan manusia karena ia bisa ditemukan di hutan hingga kebun sawit. Tak hanya itu, bahkan burung hantu elang bergaris juga kerap berkeliaran di pinggir jalan sampai area pemukiman. Untungnya, ia tak merugikan, jarang diburu, dan populasinya masih melimpah.

5. Burung hantu elang gelap menghuni enam negara

burung hantu elang gelap (commons.wikimedia.org/Robinhood-birder)

Dilansir Avibase, penyebaran burung hantu elang gelap (Ketupa coromanda) mencakup enam negara, yaitu Brunei, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Thailand. Habitat alaminya adalah hutan hujan tropis dan subtropis yang basah. Tercatat, burung ini kerap ditemukan berbagai daerah dengan elevasi 0 hingga 1600 mdpl.

Burung hantu elang gelap termasuk predator oportunis yang bisa memangsa reptil, ikan, serangga, sampai mamalia kecil. Tak jarang, bahkan ia bisa memangsa burung predator lain yang seperti elang brontok (Nisaetus cirrhatus). Hal tersebut menghukuhkan posisinya sebagai salah satu burung predator ganas yang tak takut untuk memangsa apapun.

Ada banyak spesies burung hantu dari genus Ketupa yang hidup di Thailand dan mereka bisa ditemukan di berbagai tipe habitat. Hal tersebut menunjukkan bahwa Thailand merupakan negara tropis dengan keanekaragaman alam yang luar biasa. Tiap spesies juga memiliki perannya tersendiri di ekosistem, seperti menjadi pembasmi hama hingga pengontrol populasi tikus.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article