Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Alesund, Kota Art Nouveau yang Menjadi Ikon Arsitektur Norwegia
Kota Alesund, Norwegia (pexels.com/Ela Yudhanira)
  • Alesund berkembang sebagai kota pelabuhan penting berkat letaknya yang strategis di pesisir barat Norwegia dan menjadi pusat perdagangan hasil laut sejak abad ke-19.
  • Kebakaran besar tahun 1904 menghancurkan ribuan rumah, memicu pembangunan ulang kota dengan material tahan api serta aturan baru dalam tata ruang perkotaan.
  • Pembangunan kembali melahirkan arsitektur bergaya Art Nouveau berpadu unsur budaya lokal, menjadikan Alesund ikon arsitektur unik dan warisan bersejarah Norwegia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Norwegia terkenal dengan keindahan alam fjord yang megah dan area pegunungannya yang dramatis. Namun, negara ini juga memiliki sebuah kota yang dikenal karena arsitektur bergaya Art Nouveau. Kota tersebut adalah Alesund, sebuah kota di pesisir barat Norwegia yang dibangun kembali setelah kebakaran besar pada 1904. Deretan bangunan bergaya Art Nouveau membuat Alesund menjadi salah satu kawasan arsitektur paling unik di Eropa.

Pembangunan kembali kota setelah kebakaran melahirkan tata kota yang berbeda dari kebanyakan wilayah di Norwegia. Gaya Art Nouveau diterapkan pada sebagian besar bangunan sehingga membentuk identitas arsitektur yang masih bertahan hingga sekarang. Yuk, simak lima fakta sejarah tentang keunikan arsitektur Kota Alesund berikut ini!

1. Letak strategis yang mendorong perkembangan kota pelabuhan

Kota Alesund, Norwegia (pexels.com/Ramon Perucho)

Sebelum dikenal karena arsitekturnya yang seragam, Alesund berkembang sebagai permukiman pesisir berkat letaknya yang strategis di Pulau Norvoya dan Aspoya. Dilansir laman Kupi, posisinya di pintu masuk jaringan Storfjord memberikan perlindungan alami dari badai samudra sekaligus memudahkan akses ke jalur pelayaran internasional. Kondisi tersebut membuat kawasan ini berkembang menjadi titik penting bagi aktivitas perdagangan hasil laut.

Letak yang menguntungkan tersebut mendorong masyarakat setempat memperjuangkan hak perdagangan mandiri agar tidak lagi bergantung pada pedagang dari daerah lain. Alesund kemudian memperoleh status kota pasar pada 1848 yang membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Setelah itu, gudang penyimpanan dan permukiman baru mulai bermunculan di sepanjang kawasan pelabuhan.

2. Pertumbuhan ekonomi didukung ekspor ikan kod asin

Clipfish atau ikan kod yang dikeringkan dan diasinkan (commons.wikimedia.org/Sharon Hahn Darlin)

Perkembangan Alesund semakin pesat berkat melimpahnya hasil laut di pesisir barat Norwegia. Dilansir laman The Hidden North, masyarakat setempat memanfaatkan kedekatan dengan kawasan penangkapan ikan di Samudra Atlantik untuk menghasilkan clipfish atau ikan kod yang dikeringkan dan diasinkan. Industri ini berkembang pesat hingga melibatkan banyak perempuan dalam proses pengolahan dan penggaraman ikan di kawasan dermaga.

Industri perikanan kemudian membawa Alesund menjadi salah satu pusat ekspor produk laut terbesar di dunia pada akhir abad ke-19. Hubungan dagang pun terjalin dengan berbagai negara, termasuk Spanyol, Portugal, dan Brasil. Pertumbuhan ekonomi tersebut ikut mendorong pembangunan deretan rumah dan gudang kayu di sekitar pelabuhan.

3. Kebakaran besar mengubah wajah kota

Proses pembangunan kembali Alesund setelah kebakaran besar pada 1904 (commons.wikimedia.org/Unknown author)

Kepadatan permukiman kayu yang tumbuh seiring perkembangan ekonomi akhirnya memicu bencana besar pada awal abad ke-20. Masih dari laman The Hidden North, kebakaran hebat melanda Alesund pada malam 23 Januari 1904 setelah api berasal dari sebuah pabrik pengalengan ikan. Tiupan angin kencang membuat kobaran api dengan cepat menghanguskan lebih dari 850 rumah dan menyebabkan sekitar 10.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Setelah kebakaran tersebut, pemerintah daerah menerapkan aturan baru mengenai pembangunan kota. Bangunan di kawasan inti tidak lagi diperbolehkan menggunakan material kayu untuk mengurangi risiko kebakaran serupa. Sebagai gantinya, proses pembangunan kembali memanfaatkan batu bata, beton, dan batu alam yang lebih tahan terhadap api.

4. Gaya Art Nouveau dipadukan dengan unsur budaya lokal

The Art Nouveau town of Alesund (commons.wikimedia.org/Holger Uwe Schmitt)

Pembangunan kembali Alesund melibatkan puluhan arsitek muda lulusan Jerman. Merujuk kembali pada laman Kupi, mereka menerapkan gaya Art Nouveau atau Jugendstil yang dikenal melalui fasad asimetris, menara berpuncak runcing, dan garis-garis lengkung. Dalam waktu sekitar tiga tahun, lebih dari 350 bangunan baru berhasil didirikan dengan gaya arsitektur yang seragam.

Para arsitek juga memadukan gaya tersebut dengan berbagai ornamen khas Norwegia, seperti ukiran bermotif mitologi Nordik dan wajah troll. Perpaduan unsur Art Nouveau dengan budaya lokal membuat Alesund memiliki karakter arsitektur yang berbeda dari kota-kota lain di Norwegia. Kawasan bersejarah ini pun dikenal sebagai salah satu koleksi bangunan Art Nouveau paling utuh di Eropa sekaligus menjadi ikon arsitektur Norwegia.

5. Bantuan dari Jerman mempercepat pemulihan kota

Monumen Wilhelm II di Alesund sebagai penghormatan atas bantuan Jerman setelah kebakaran 1904 (commons.wikimedia.org/Ryan Hodnett)

Pembangunan ratusan bangunan baru dalam waktu singkat tidak lepas dari bantuan dari luar negeri. Dilansir laman 3D Sons of Norway, Kaisar Wilhelm II dari Jerman yang kerap berkunjung ke kawasan fjord segera mengirim empat kapal berisi bantuan logistik setelah kebakaran terjadi. Bantuan itu meliputi obat-obatan, pakaian, peralatan pertukangan, hingga barak sementara bagi para korban.

Dukungan logistik dan tenaga kerja dari luar membantu mempercepat pemulihan administrasi serta kegiatan ekonomi di Alesund. Industri perikanan pun kembali beroperasi setelah kawasan pelabuhan selesai dibangun ulang. Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah setempat mengabadikan nama Kaisar Wilhelm II sebagai nama salah satu jalan di pusat kota.

Kebakaran besar pada 1904 mengubah arah perkembangan Alesund sekaligus membentuk identitas kota yang dikenal hingga sekarang. Berkat proses pembangunan kembali dengan gaya Art Nouveau, Alesund memiliki kawasan arsitektur yang berbeda dari kebanyakan kota di Norwegia. Perpaduan sejarah, tata kota, dan nilai arsitekturnya membuat Alesund menjadi salah satu kota dengan warisan Art Nouveau paling lengkap di Eropa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article