Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

3 Fenomena Planet di Langit Juli 2026, Catat Waktunya!

3 Fenomena Planet di Langit Juli 2026, Catat Waktunya!
ilustrasi planet Saturnus (freepik.com/Freepik)
Intinya Sih
  • Pada 13 Juli 2026, Merkurius mengalami konjungsi inferior dan menghilang sementara dari langit karena tertutup cahaya Matahari sebelum muncul kembali di langit fajar.
  • Fenomena konjungsi Bulan dan Venus terjadi pada 17 Juli 2026, terlihat berdekatan di langit barat sekitar pukul 18.05 WIB dan dapat diamati tanpa teleskop.
  • Saturnus memasuki fase gerak retrograde pada 26 Juli 2026, tampak bergerak mundur di langit malam akibat perbedaan kecepatan orbit Bumi dan Saturnus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Langit malam sepanjang Juli 2026 akan dihiasi sejumlah fenomena astronomi yang menarik untuk diamati. Beberapa di antaranya dapat disaksikan dengan mata telanjang, sementara sebagian lainnya lebih mudah terlihat menggunakan teleskop atau teropong. Fenomena-fenomena ini terjadi secara alami akibat pergerakan planet dan benda langit lainnya dalam mengelilingi Matahari.

Bagi pecinta astronomi, momen seperti ini menjadi kesempatan untuk mengamati langit sekaligus memahami bagaimana Tata Surya bekerja. Meski terdengar rumit, sebagian besar fenomena tersebut sebenarnya memiliki penjelasan ilmiah yang mudah dipahami. Lalu, fenomena planet apa saja yang akan menghiasi langit sepanjang Juli 2026? Yuk, simak daftarnya di bawah ini!

1. Merkurius menghilang dari langit untuk sementara

ilustrasi planet Merkurius (dok. NASA/JPL)
ilustrasi planet Merkurius (dok. NASA/JPL)

Pada 13 Juli 2026, Merkurius akan mengalami konjungsi inferior, yaitu saat posisinya berada tepat di antara Bumi dan Matahari. Dilansir dari In-the-Sky, fenomena ini terjadi sekitar setiap 116 hari dan menandai berakhirnya penampakan Merkurius di langit senja sebelum nantinya beralih menjadi objek langit fajar dalam beberapa minggu berikutnya. Saat konjungsi inferior berlangsung, jarak tampak Merkurius dengan Matahari hanya sekitar 4,8 derajat, sehingga planet ini tertutup oleh cahaya Matahari yang sangat terang.

Akibatnya, Merkurius tidak dapat diamati dari Bumi selama beberapa waktu. Menariknya, pada saat yang hampir bersamaan Merkurius juga berada pada titik terdekatnya dengan Bumi, sekitar 0,57 satuan astronomi (AU). Namun, jarak tersebut tidak membuatnya lebih mudah diamati karena sisi planet yang menghadap Bumi hampir tidak menerima cahaya Matahari. Setelah melewati fase ini, Merkurius perlahan akan kembali muncul, tetapi kali ini di langit sebelum Matahari terbit. Fenomena tersebut menjadi bagian dari siklus alami orbit Merkurius yang terus berulang saat mengelilingi Matahari.

2. Konjungsi Bulan dan Venus hiasi langit senja

ilustrasi konjungsi Bulan dan Venus (unsplash.com/Iain Kennedy)
ilustrasi konjungsi Bulan dan Venus (unsplash.com/Iain Kennedy)

Pada 17 Juli 2026, akan terjadi fenomena konjungsi antara Bulan dan Venus, yaitu ketika keduanya tampak berdekatan di langit jika dilihat dari Bumi. Bulan sabit yang baru berusia tiga hari akan berada sekitar 2 derajat di sebelah selatan Venus. Dari Jakarta, fenomena ini mulai dapat disaksikan sekitar pukul 18.05 WIB di langit sebelah barat dan bertahan hingga keduanya terbenam sekitar pukul 20.51 WIB.

Konjungsi ini dapat diamati dengan mata telanjang sehingga tidak memerlukan teleskop, meski binokular dapat membuat tampilan keduanya terlihat lebih jelas. Walau tampak berdekatan, Bulan dan Venus sebenarnya berada pada jarak yang sangat jauh satu sama lain dan hanya terlihat sejajar dari sudut pandang Bumi. Jika cuaca cerah, konjungsi Bulan dan Venus menjadi salah satu fenomena langit yang sayang untuk dilewatkan pada Juli 2026.

3. Saturnus tampak bergerak mundur di langit malam

ilustrasi planet Saturnus (pexels.com/ZCH)
ilustrasi planet Saturnus (pexels.com/ZCH)

Pada 26 Juli 2026, Saturnus akan memasuki fase gerak retrograde, yaitu fenomena ketika planet ini tampak bergerak mundur di langit jika dilihat dari Bumi. Gerakan tersebut sebenarnya hanyalah ilusi optik yang terjadi akibat perbedaan kecepatan orbit Bumi dan Saturnus saat mengelilingi Matahari. Dengan kata lain, Saturnus tidak benar-benar berbalik arah, melainkan hanya terlihat bergerak ke barat dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Ketika fase retrograde dimulai, Saturnus sudah dapat diamati di langit menjelang fajar dan dalam beberapa minggu berikutnya akan semakin mudah terlihat pada malam hari. Fenomena seperti ini merupakan peristiwa yang rutin dialami seluruh planet luar di Tata Surya, seperti Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Bagi pengamat langit, retrograde Saturnus menjadi kesempatan menarik untuk menyaksikan bagaimana perubahan posisi planet dapat dipengaruhi oleh pergerakan Bumi di dalam Tata Surya.

Fenomena-fenomena planet ini menunjukkan bahwa langit malam selalu menyimpan pemandangan menarik untuk diamati. Sebagian di antaranya bahkan bisa disaksikan langsung tanpa bantuan teleskop jika cuaca cerah. Jadi, jangan lewatkan kesempatan mengamati langit di bulan Juli 2026 ini, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira

Related Articles

See More