Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Assassin Bug, Serangga yang Pakai Mayat Mangsanya sebagai Baju
Acanthaspis petax (flickr.com/H. K. Tang)
  • Assassin bug adalah serangga predator yang menggunakan mulut berbentuk jarum untuk melumpuhkan dan mengisap cairan tubuh mangsanya sebelum memanfaatkan sisa tubuh tersebut sebagai kamuflase.
  • Spesies Acanthaspis petax menempelkan bangkai semut di punggungnya menggunakan cairan lengket, membentuk ransel alami yang berfungsi menyamarkan diri dari ancaman predator seperti laba-laba.
  • Penelitian menunjukkan kamuflase tumpukan bangkai membantu assassin bug bertahan hidup dengan membingungkan predator visual dan bahkan dapat dilepaskan untuk mengalihkan perhatian saat melarikan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Assassin bug merupakan kelompok serangga predator dari ordo Hemiptera yang dikenal karena cara berburu yang efektif. Serangga ini menggunakan mulut berbentuk seperti jarum untuk melumpuhkan mangsa dan mengisap cairan tubuhnya. Sebagian spesies dalam kelompok ini memiliki perilaku yang jauh lebih unik dibanding kebanyakan serangga predator lainnya.

Keunikan tersebut terlihat pada spesies tertentu yang memanfaatkan sisa tubuh mangsanya sebagai penyamaran. Tumpukan bangkai semut yang menempel di tubuhnya membuat assassin bug tampak seperti gumpalan benda mati yang sulit dikenali predator. Perilaku tidak biasa inilah yang menjadikan assassin bug menarik untuk dibahas melalui sejumlah fakta berikut.

1. Menggunakan bangkai semut sebagai penyamaran

Assassin bug (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Dilansir dari National Geographic, salah satu jenis assassin bug yaitu Acanthaspis petax menutupi tubuhnya dengan bangkai semut yang telah dimangsanya. Tumpukan bangkai tersebut dibawa di bagian punggung sehingga membentuk semacam ransel alami. Perilaku ini termasuk bentuk kamuflase yang jarang ditemukan di dunia serangga.

Menurut Insects in Education, serangga ini secara khusus mengumpulkan semut untuk dijadikan penutup tubuh. Setelah semut mati, bagian luarnya ditempelkan ke tubuh hingga membentuk tumpukan yang cukup besar. Kamuflase tersebut membantu assassin bug menyembunyikan keberadaannya dari ancaman predator.

2. Menempelkan mangsa dengan cairan lengket

Assassin bug (commons.wikimedia.org/gailhampshire)

Menurut National Geographic, Acanthaspis petax menghasilkan benang atau cairan lengket dari bagian punggungnya. Struktur lengket tersebut digunakan untuk menahan sisa tubuh mangsa agar tetap melekat saat serangga bergerak. Dengan cara itu, tumpukan bangkai dapat dibawa ke mana pun tanpa mudah terlepas.

Melansir IFLScience, bangkai semut disusun menjadi satu gumpalan yang terkadang lebih besar daripada ukuran tubuh serangganya sendiri. Cairan lengket membantu menyatukan sisa tubuh semut menjadi satu kesatuan yang stabil. Hasil akhirnya menyerupai tumpukan benda mati yang bergerak perlahan di lingkungan sekitar.

3. Kamuflase ini efektif menghindari laba laba

Assassin bug (commons.wikimedia.org/L. Shyamal)

Menurut National Geographic, assassin bug yang mengenakan ransel mayat memiliki peluang jauh lebih kecil untuk dimakan oleh laba-laba dibanding serangga yang tanpa aksesori mengerikan ini. Hal itu terjadi karena laba-laba predator hanya fokus melihat gundukan semut mati di atasnya. Akibatnya, mereka sama sekali tidak menyadari ada serangga yang sedang bersembunyi di balik tumpukan tersebut.

Laba laba tampaknya kesulitan mengenali bentuk tubuh assassin bug yang tertutup tumpukan bangkai. Bentuk aslinya menjadi terpecah sehingga tidak terlihat seperti mangsa yang biasa diburu. Akibatnya, predator lebih sering mengabaikan keberadaan serangga tersebut.

4. Assassin bug adalah pemburu yang mematikan

Assassin bug (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

Menurut National Geographic, assassin bug menggunakan bagian mulut mereka yang seperti jarum suntik untuk menusuk mangsanya. Serangga ini menyuntikkan cairan yang melumpuhkan sekaligus membantu menghancurkan jaringan tubuh mangsa. Setelah itu, cairan tubuh mangsa diisap hingga hanya tersisa bagian luar yang kosong.

Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Insects in Education. Setelah proses pengisapan selesai, yang tersisa hanyalah kulit luar kosong dari semut karena seluruh cairan tubuhnya telah dikuras habis. Sisa-sisa tubuh tersebut kemudian dikumpulkan dan dirakit menjadi ransel jubah mayat di punggung assassin bug.

5. Kamuflase juga membantu membingungkan predator lain

Assassin bug (pexels.com/Dmytro Koplyk)

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Animal Behaviour, beberapa jenis assassin bug menggunakan kombinasi lapisan debu hingga tumpukan benda di punggung sebagai perlindungan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu yang masih memiliki kamuflase lebih sering selamat saat berhadapan dengan predator. Efek perlindungan terutama berasal dari tumpukan yang dibawa di bagian punggung.

Menurut penelitian yang sama, kamuflase tersebut dapat membingungkan predator yang mengandalkan penglihatan. Dalam beberapa situasi, tumpukan di punggung bahkan dapat terlepas sehingga mengalihkan perhatian musuh saat assassin bug melarikan diri. Fungsi ini menjadikan kamuflase bukan sekadar penyamaran, tetapi juga bagian dari strategi pertahanan.

Assassin bug menunjukkan bahwa strategi bertahan hidup di alam dapat berkembang dalam bentuk yang sangat tidak biasa. Mulai dari menempelkan sisa tubuh mangsa di punggung hingga memanfaatkannya sebagai perlindungan dari predator, setiap perilaku tersebut memiliki fungsi yang jelas. Fakta ini menjadikan assassin bug sebagai salah satu contoh kamuflase paling unik yang pernah ditemukan pada serangga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article