Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta China Aster, Bunga Cantik Musim Gugur dari Asia Timur
Bunga China Aster (commons.wikimedia.org/Leo219)
  • China aster (Callistephus chinensis) berasal dari Tiongkok dan Korea, tumbuh liar di lereng berbatu serta lahan terbuka, lalu dibudidayakan sebagai tanaman hias dan bunga potong.
  • Tanaman famili Asteraceae ini menjadi satu-satunya spesies dalam genus Callistephus, tetapi pemuliaan menghasilkan banyak kultivar dengan variasi warna, ukuran, dan bentuk bunga.
  • Pertumbuhan China aster dipengaruhi cahaya, tanah subur berdrainase baik, serta kelembapan; budidayanya juga perlu mewaspadai kutu daun, jamur, dan penyakit virus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

China aster (Callistephus chinensis) merupakan tanaman berbunga dari Asia Timur, khususnya Tiongkok dan Korea. Bunga ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan bunga potong karena memiliki warna yang beragam. Masa mekarnya dapat berlangsung hingga penghujung musim gugur.

Pertumbuhannya dipengaruhi kondisi lingkungan, seperti suhu, cahaya, dan kelembapan tanah. China aster juga memiliki sejarah budidaya panjang serta beragam varietas dengan karakteristik berbeda. Mari simak lima fakta menarik mengenai China aster berikut ini!

1. Berasal dari Asia Timur dan tumbuh di habitat berbatu

Bunga China Aster (commons.wikimedia.org/Rameshng)

China aster (Callistephus chinensis) berasal dari kawasan Asia Timur, terutama Tiongkok dan Korea. Dilansir laman Gardening in South Africa, tanaman ini dapat ditemukan secara liar di lereng berbatu, lahan terbuka, serta area pertanian. Habitat tersebut menjadi wilayah asal sebelum China aster dibudidayakan dan dikembangkan sebagai tanaman hias.

Setelah dibudidayakan, China aster dikembangkan menjadi berbagai kultivar dengan perbedaan ukuran dan warna bunga. Warna bunganya cukup beragam, mulai dari putih, merah muda, merah, ungu, hingga biru. Tanaman ini kemudian tersebar ke berbagai wilayah dengan kondisi lingkungan yang sesuai dan banyak ditanam sebagai tanaman hias maupun bunga potong.

2. Memiliki nama ilmiah yang berkaitan dengan keindahan bunganya

Bunga China Aster (commons.wikimedia.org/Salicyna)

Secara taksonomi, China aster termasuk dalam famili Asteraceae atau Compositae. Dilansir laman Royers Flowers & Gifts, nama genus Callistephus berasal dari bahasa Yunani, yaitu kallistos yang berarti paling indah dan stephus yang berarti mahkota. Nama tersebut berkaitan dengan bentuk bunga yang memiliki susunan kelopak menyerupai mahkota.

Bunga China aster tersusun atas banyak bunga kecil yang berkumpul dalam satu bongkol bunga. Pada varietas tertentu, bagian bunga tersebut berkembang menjadi susunan kelopak yang lebih padat dan berlapis. Perbedaan bentuk dan jumlah kelopak menjadi salah satu karakter yang membedakan berbagai kultivar China aster yang dibudidayakan.

3. Waktu tanam berkaitan dengan durasi pencahayaan

Bunga China Aster (commons.wikimedia.org/Rameshng)

Pertumbuhan dan pembungaan China aster dipengaruhi oleh durasi pencahayaan yang diterima tanaman. Dilansir laman Three Acre Farm, penyemaian benih dapat dilakukan pada awal musim semi agar tanaman memiliki waktu yang cukup untuk tumbuh sebelum memasuki periode dengan siang hari yang lebih panjang. Waktu tanam yang kurang tepat dapat memengaruhi waktu pembungaan dan panjang tangkai.

Selain pencahayaan, China aster membutuhkan tanah yang subur dan memiliki drainase baik. Kelembapan tanah juga perlu dijaga agar tetap sesuai selama masa pertumbuhan. Setelah tanaman mulai membentuk kuncup bunga, pemberian pupuk secara berlebihan sebaiknya dihindari karena dapat mengganggu pertumbuhan bunga.

4. Rentan terhadap hama dan penyakit

Bunga China Aster (commons.wikimedia.org/Salicyna)

Budidaya China aster perlu memperhatikan serangan hama dan penyakit. Merujuk kembali pada laman Gardening in South Africa, tanaman ini dapat diserang kutu daun serta mengalami penyakit yang disebabkan oleh jamur. Kondisi lingkungan yang terlalu lembap juga dapat meningkatkan risiko munculnya beberapa penyakit pada bagian daun dan tanaman.

Sejumlah serangga dapat menjadi pembawa penyakit virus yang menyerang China aster. Bagian tanaman yang terinfeksi perlu segera dipisahkan atau dibuang untuk mengurangi risiko penyebaran. Sirkulasi udara yang baik serta pengelolaan area tanam juga diperlukan untuk menjaga kondisi tanaman dan mengurangi perkembangan patogen.

5. Menjadi satu-satunya spesies dalam genus Callistephus

Bunga China Aster (commons.wikimedia.org/Kor!An)

China aster memiliki posisi yang cukup unik dalam klasifikasi tumbuhan karena Callistephus chinensis merupakan satu-satunya spesies yang termasuk dalam genus Callistephus. Masih merujuk pada laman Gardening in South Africa, genus tersebut hanya mencakup satu spesies yang dikenal, yaitu China aster. Tanaman ini termasuk dalam famili Asteraceae atau Compositae.

Meskipun hanya memiliki satu spesies dalam genusnya, China aster telah menghasilkan banyak kultivar melalui proses budidaya dan pemuliaan tanaman. Kultivar tersebut memiliki perbedaan pada warna, ukuran, serta bentuk bunga. Keberagaman tersebut membuat satu spesies ini memiliki banyak bentuk yang dapat ditemukan sebagai tanaman hias.

Itulah lima fakta tentang China aster (Callistephus chinensis) yang memiliki asal-usul, karakteristik bunga, dan kebutuhan tumbuh yang menarik untuk diketahui. Tanaman asal Asia Timur ini telah dikembangkan menjadi berbagai kultivar dengan warna serta bentuk bunga yang beragam. Perawatan yang sesuai diperlukan agar China aster dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan bunga secara optimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article