5 Fakta Hiu Penjemur, Spesies Unik dengan Masa Hamil hingga 3 Tahun

- Hiu Penjemur dikenal sebagai ikan terbesar kedua di dunia dengan sifat tenang, memiliki ritual kawin unik berbentuk lingkaran yang berfungsi sebagai proses pemilihan pasangan.
- Spesies ini memiliki masa kehamilan hingga tiga tahun dan hanya melahirkan sedikit anak, membuat populasinya rentan terhadap ancaman aktivitas manusia.
- Meskipun bermulut besar dan bergigi banyak, Hiu Penjemur makan secara pasif dengan menyaring plankton di permukaan laut serta berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem samudra.
Bertemu hiu dengan mulut terbuka lebar di tengah laut mungkin terdengar menakutkan bagi sebagian orang. Hiu Penjemur (Cetorhinus maximus) atau Basking Shark sering dianggap sebagai ancaman karena ukuran tubuhnya yang sangat besar, padahal ikan terbesar kedua di dunia ini merupakan spesies yang tenang saat berenang di samudra.
Meski dikenal karena ukuran tubuh dan mulutnya yang sangat besar, hiu ini menyimpan berbagai keunikan, mulai dari ritual kawin yang tidak biasa hingga masa kehamilan yang bisa berlangsung sampai tiga tahun. Walaupun ukuran tubuhnya sangat besar, cara hidup Hiu Penjemur justru sangat berbeda dari kebanyakan hiu predator lainnya. Penasaran? Berikut beberapa fakta menarik tentang hiu pemilik mulut raksasa tersebut.
1. Punya ritual kawin yang unik mirip kencan singkat

Aspek reproduksi Hiu Penjemur menyimpan fenomena unik yang baru belakangan ini mulai terpecahkan oleh para peneliti. Dilansir laman Kent Wildlife Trust, ilmuwan mengamati perilaku kelompok hiu yang berenang membentuk lingkaran konsentris di perairan Irlandia, yang dikenal dengan istilah torus. Perilaku ini diduga kuat sebagai ritual pemilihan pasangan atau semacam "kencan singkat" antar individu sebelum mereka kawin.
Sebagai hewan yang biasanya hidup menyendiri, ritual berenang melingkar tersebut menjadi momen penting bagi mereka untuk berinteraksi secara sosial. Hiu ini sendiri baru mencapai kematangan seksual pada usia yang cukup lambat, yaitu antara 12 hingga 20 tahun. Penemuan ritual torus ini mematahkan persepsi lama bahwa pergerakan melingkar hiu selalu berkaitan dengan perilaku mengancam, karena dalam kasus ini tujuannya justru untuk keberlangsungan spesies.
2. Masa kehamilan yang sangat panjang

Setelah ritual kawin selesai, hiu betina memulai masa kehamilan yang sangat panjang dan menuntut ketahanan fisik besar. Masih dari laman Kent Wildlife Trust, telur-telur hiu ini berkembang dan menetas di dalam rahim sebelum bayi benar-benar lahir ke laut. Induknya harus menjalani masa mengandung yang diperkirakan mencapai tiga tahun.
Saat lahir, bayi hiu sudah memiliki ukuran yang cukup besar, berkisar antara 1,5 hingga 2 meter. Berbeda dengan jenis lain yang bisa melahirkan banyak keturunan, hiu penjemur biasanya hanya menghasilkan sekitar enam ekor anak dalam satu siklus reproduksi. Jumlah kelahiran yang sedikit serta masa tumbuh kembang yang lambat membuat populasi mereka sangat rentan punah akibat aktivitas manusia.
3. Memiliki ribuan gigi yang tidak berfungsi untuk makan

Setelah membahas cara berkembang biaknya, keunikan lain dari Hiu Penjemur terlihat pada bagian mulutnya. Meskipun memiliki rahang yang sangat lebar, sistem pencernaan Hiu Penjemur tidak melibatkan fungsi gigi secara aktif. Dilansir laman National Geographic, hiu ini memiliki sekitar 1.500 gigi kecil berbentuk kait yang tersusun dalam enam baris di rahang atas dan sembilan baris di rahang bawah. Gigi-gigi berukuran mini tersebut sama sekali tidak digunakan untuk mengunyah atau merobek makanan.
Para ilmuwan meyakini bahwa keberadaan gigi tersebut lebih berkaitan dengan proses reproduksi daripada sistem pencernaan. Bekas luka yang ditemukan pada tubuh hiu betina memberikan petunjuk bahwa hiu jantan kemungkinan menggunakan gigi mereka untuk menahan pasangan saat proses kawin berlangsung. Alhasil, meski terlihat memiliki ribuan gigi, fungsi utamanya murni untuk aspek biologis tertentu dan bukan sebagai alat predator.
4. Cara makan pasif dengan menyaring air laut

Walaupun memiliki ribuan gigi, Hiu Penjemur justru tidak mengandalkannya untuk mencari makan. Sebagai salah satu dari tiga spesies hiu pemakan filter di dunia, Hiu Penjemur mengandalkan sistem penyaringan alami yang sangat efisien. Masih dari laman National Geographic, mereka makan dengan cara membiarkan mulutnya yang lebar terbuka saat berenang untuk menyaring zooplankton menggunakan organ khusus bernama sisir insang atau gill rakers. Organ ini berfungsi menahan makanan agar tidak terlepas keluar melalui celah insang saat air dibuang kembali ke laut.
Berbeda dengan Hiu Paus atau Hiu Mulut Besar yang secara aktif menyedot air, Hiu Penjemur cenderung bersifat pasif dengan membiarkan air mengalir masuk mengikuti arus renang mereka. Dengan kecepatan sekitar dua mil per jam, spesies ini mampu menyaring sekitar 2.000 ton air laut setiap jamnya. Cara makan ini membuat hiu penjemur mampu memenuhi kebutuhan nutrisinya tanpa harus menghabiskan energi besar untuk berburu atau mengejar mangsa.
5. Asal-usul nama dan perilaku berburu di permukaan

Nama "Penjemur" pun melekat pada hiu ini karena kebiasaan mereka yang sering muncul di permukaan air dalam waktu yang lama. Masih dari laman National Geographic, orang-orang di masa lalu menganggap ikan ini sedang menikmati sinar matahari, sehingga mereka mendapatkan sebutan Basking Shark. Padahal, kemunculan mereka di permukaan air berkaitan erat dengan ketersediaan sumber makanan utama mereka.
Hiu ini mengikuti pergerakan plankton yang jumlahnya sangat melimpah di lapisan atas laut, terutama pada musim semi dan musim panas di wilayah perairan yang kaya nutrisi. Meskipun sering terlihat di permukaan, hasil pelacakan satelit terbaru menunjukkan bahwa mereka juga mampu menyelam hingga kedalaman lebih dari 900 meter.
Fakta-fakta tersebut memberi gambaran tentang hiu penjemur sebagai bagian dari kehidupan laut dengan karakter yang berbeda dari gambaran hiu pada umumnya, serta kaitannya dengan keseimbangan ekosistem samudra dan mendukung upaya konservasi di masa depan.


















