5 Fakta Puyuh Sengayan, Burung Berjambul Merah yang Gemar Menyuapi Anaknya

- Puyuh sengayan adalah burung kecil berjambul merah dari Asia Tenggara yang hidup di lantai hutan rimbun dan menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan hujan tropis.
- Burung ini berukuran sekitar 25 sentimeter, jantan memiliki bulu hijau metalik dengan jambul merah, sedangkan betina berwarna hijau polos tanpa jambul dan sama-sama bermata serta berkaki merah.
- Populasi puyuh sengayan menurun lebih dari 30 persen akibat kerusakan hutan, kini berstatus rentan menurut IUCN dan masuk daftar Appendix III CITES untuk pengawasan perdagangan internasional.
Puyuh sengayan, atau secara ilmiah disebut Rollulus rouloul, adalah burung kecil dari keluarga Phasianidae yang hidup di hutan Asia Tenggara. Burung ini juga dikenal dengan nama crested partridge karena jambul merah pada pejantannya.
Meski termasuk jenis puyuh, burung ini memiliki ciri khas berupa tubuh yang bulat, ekor pendek, dan terbiasa hidup di lantai hutan yang rimbun. Kehadiran burung ini sering menjadi tanda bahwa sebuah ekosistem hutan hujan tropis masih dalam kondisi baik. Yuk, pelajari lebih lanjut tentang burung kecil satu ini!
1. Perbedaan tampilan burung jantan dan betina

Puyuh sengayan memiliki ukuran tubuh sekitar 25 sentimeter dengan bentuk bulat. Burung jantan mudah dikenali dari bulu hijau metalik, perut biru gelap, dan sayap cokelat, serta jambul merah tinggi di kepalanya. Sementara itu, burung betina memiliki tampilan lebih sederhana dengan bulu hijau tanpa jambul.
Kedua jenis kelamin ini memiliki lingkaran kulit merah di sekitar mata serta kaki merah tanpa taji. Perbedaan fisik ini membantu mereka menyamar di antara tumpukan daun kering di lantai hutan yang lembap.
2. Wilayah tempat tinggal dan penyebaran di Asia Tenggara

Burung ini merupakan penghuni asli hutan hujan dataran rendah di beberapa negara seperti Myanmar bagian selatan, Thailand, Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan. Mereka lebih menyukai hutan rimba yang belum banyak tersentuh manusia, meski terkadang ditemukan di hutan yang sudah pernah ditebang.
Biasanya, puyuh sengayan tinggal di wilayah dengan ketinggian di bawah 1.200 meter di atas permukaan laut. Burung ini tidak berpindah tempat (migrasi) dan cenderung menetap di satu wilayah sepanjang tahun.
3. Jenis makanan yang dicari di lantai hutan

Puyuh sengayan adalah hewan pemakan segala atau omnivora. Mereka mencari makan dengan cara mengais tanah menggunakan kaki untuk menemukan buah jatuh, biji-bijian, serangga seperti semut dan kumbang, hingga siput kecil.
Kebiasaan makan ini membantu menjaga keseimbangan alam karena mereka membantu menyebarkan biji tanaman ke berbagai area hutan. Berbeda dengan jenis puyuh lain yang lebih banyak makan tumbuhan, spesies ini sangat aktif mencari serangga untuk memenuhi kebutuhan proteinnya.
4. Cara unik induk memberi makan anak-anaknya

Puyuh sengayan membuat sarang di tanah menggunakan tumpukan daun kering agar tersembunyi. Burung betina biasanya menghasilkan lima hingga enam butir telur yang akan menetas dalam waktu sekitar 18 hari. Setelah menetas, kedua induk akan bekerja sama merawat anak-anak mereka.
Keunikan burung ini terletak pada cara pemberian makan, di mana induk akan menyuapi anaknya langsung dari paruh ke paruh. Perilaku ini sangat jarang ditemukan pada kelompok burung puyuh lainnya yang biasanya membiarkan anak mencari makan sendiri di tanah.
5. Jumlah populasi yang menurun akibat hutan yang rusak

Saat ini, puyuh sengayan masuk dalam kategori Vulnerable atau rentan dalam daftar merah IUCN. Jumlah populasinya menurun lebih dari 30 persen dalam beberapa tahun terakhir akibat rusaknya hutan untuk lahan pertanian dan penebangan kayu.
Untuk melindungi keberadaan mereka, burung ini dimasukkan ke dalam daftar Appendix III CITES guna memantau perdagangannya secara internasional. Perlindungan kawasan hutan dan pengawasan ketat terhadap perburuan menjadi faktor penting agar burung ini tidak punah di alam liar.


















