Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Ilmiah Genus Rhabdophis, Ular Beracun dari Asia
genus Rhabdophis (inaturalist.org/董俊材)
  • Genus Rhabdophis memiliki bisa yang disuntikkan lewat gigitan sekaligus racun bufotoksin dari kodok beracun, yang disimpan dan dapat dikeluarkan melalui leher saat terancam.
  • Ular kolubrid ini hanya tersebar di Asia, dengan habitat beragam dari hutan hingga permukiman; beberapa spesies hidup di Asia Tenggara dan ada yang endemik Sumatra.
  • Rhabdophis berukuran sekitar 80–130 sentimeter, bercorak beragam dan dapat mengembangkan leher; makanan utamanya kodok, meski juga memangsa kadal, burung, mamalia kecil, dan ikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ular dibagi menjadi beberapa genus, salah satunya adalah genus Rhabdophis. Jika dibandingkan dengan kobra (genus Naja), weling (genus Bungarus), atau mamba (genus Dendroaspis), genus Rhabdophis memang kalah terkenal. Meski begitu, ada banyak fakta ilmiah genus Rhabdophis yang membuatnya lebih unik dari ular lain.

Beberapa faktanya tercermin dari ciri fisik, kandungan bisa, hingga penyebarannya. Contohnya, genus Rhabdophis punya bisa dan racun di tubuh, hanya bisa ditemukan di benua Asia, dan berasal dari famili Colubridae. Mau tahu lebih banyak tentang genus Rhabdophis? Simak artikel berikut, yuk.

1. Genus Rhabdophis punya bisa dan racun sekaligus

genus Rhabdophis (inaturalist.org/Shanelle Wikramanayake)

Biasanya ular hanya memiliki bisa di kantung bisa yang disuntikan lewat taring. Namun, hal yang unik terjadi pada ular dari genus Rhabdophis. Dilansir Hong Kong Hike, genus tersebut memiliki bisa dan racun sekaligus. Dalam hal ini, racunnya berasal dari kodok beracun yang menjadi makanannya. Saat memakan kodok beracun, racun bufotoxin di dalam tubuh kodok akan diolah dan disimpan di kantung racun.

Ketika merasa terancam atau takut, genus Rhabdophis akan mengeluarkan racunnya dalam bentuk cairan berwarna merah atau putih dari sela-sela kulit di leher. Sementara itu, cara kerja bisanya sama seperti ular lain, yaitu disuntikan lewat gigitan. Kebanyakan spesies dari genus Rhabdophis juga termasuk ular berbisa tinggi sehingga gigitannya cukup berbahaya.

2. Genus Rhabdophis hanya ditemukan di benua Asia

genus Rhabdophis (inaturalist.org/John Sullivan)

Laman RepFocus menerangkan bahwa penyebaran genus Rhabdophis mencakup benua Asia. Ada beberapa spesies seperti Rhabdophis subminiatus yang hidup di Asia Tenggara. Di sisi lain, ada juga spesies endemik seperti Rhabdophis akraios yang hanya bisa ditemukan di Pulau Sumatra. Kemudian, ada Rhabdophis bindi dan Rhabdophis chiwen menghuni wilayah Asia Selatan serta timur. Habitat genus Rhabdophis juga bervariasi tergantung spesiesnya. Ada yang hidup di hutan, semak-semak, area lembap, pepohonan, ladang pertanian, rawa, bahkan hingga area pemukiman.

3. Genus Rhabdophis punya warna yang bervariasi

genus Rhabdophis (inaturalist.org/Hao Chun Kung)

Dilansir Ecologyasia, genus Rhabdophis termasuk ular berukuran kecil hingga sedang dengan panjang sekitar 80-130 centimeter. Namun, ukuran bukanlah hal yang menonjol dari reptil tersebut. Jika diperhatikan, tiap spesies dari genus Rhabdophis memiliki ciri fisik, warna, dan corak yang bervariasi.

Ada spesies berwarna hijau terang seperti Rhabdophis plumbicolor. Ada juga spesies berwarna cokelat dengan corak hijau, merah, dan kuning di leher seperti Rhabdophis siamensis, Rhabdophis heleri, dan R. subminiatus. Rhabdophis rhodomelas juga unik karena punya tubuh berwarna jingga dan leher biru. Selain itu, genus Rhabdophis juga akan mengembangkan leher ketika merasa terancam, mirip ular kobra.

4. Kodok merupakan makanan kesukaan genus Rhabdophis

genus Rhabdophis (inaturalist.org/Noah Kirkland)

Berbagai sumber menjelaskan bahwa makanan utama dan kesukaan genus Rhabdophis adalah kodok. Secara spesifik, ia sangat sering memakan kodok beracun seperti kodok buduk dalam rangka mengisi pasokan racunnya. Meski begitu, genus ini juga bisa memangsa hewan lain, seperti kadal, burung, mamalia kecil, hingga ikan. Ketika berburu genus Rhabdophis akan mencari mangsa menggunakan indra penciumannya. Ia juga mampu melumpuhkan mangsanya dengan gigitan berbisa.

5. Genus Rhabdophis adalah jenis ular kolubrid

genus Rhabdophis (inaturalist.org/hermanviv)

Dilansir iNaturalist, genus Rhabdophis masuk ke famili Colubridae. Karena itu, ia diklasifikasikan sebagai jenis ular kolubrid. Tercatat, ada sekitar 2,148 spesies ular kolubrid di dunia yang dibagi dalam 249 genus. Penyebaran ular kolubrid juga sangat luas, mulai dari Eropa, Afrika, Asia, hingga Amerika. Genus Rhabdophis sendiri merupakan jenis ular kolubrid yang cukup unik. Sebab, kebanyakan ular kolubrid adalah spesies tidak berbisa atau berbisa rendah yang tak berbahaya bagi manusia. Sementara itu, genus Rhabdophis termasuk ular berbisa tinggi yang berbahaya.

Itulah berbagai fakta ilmiah genus Rhabdophis yang bisa menambah wawasan sekaligus membuatmu lebih mengenal ular tersebut. Setelah diulik, kamu jadi tahu berbagai hal tentang genus Rhabdophis mulai dari makanan, kebiasaan, ciri fisik, hingga klasifikasinya. Pengetahuan tersebut bisa membantumu dalam mengidentifikasi hingga menghindari konflik dengan genus Rhabdophis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article