Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Spesies Burung Rangkong dari Genus Anthracoceros, Apa Saja?

5 Spesies Burung Rangkong dari Genus Anthracoceros, Apa Saja?
enggang tangling (commons.wikimedia.org/Vikas patil photography)
Intinya Sih
  • Genus Anthracoceros mencakup lima rangkong Asia: enggang tangling, kangkareng perut putih, kangkareng hitam, rangkong palawan, dan enggang sulu, dengan ciri, habitat, serta sebaran berbeda.
  • Enggang tangling bersifat omnivor di India-Sri Lanka, sementara kangkareng perut putih dan kangkareng hitam pemakan buah yang berperan menyebarkan biji di habitatnya.
  • Rangkong palawan berstatus rentan dengan perkiraan 20.000–49.999 individu pada 2021, sedangkan enggang sulu kritis; survei 2019 mencatat sekitar 27 individu liar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Burung rangkong atau enggang merupakan spesies burung yang sangat khas. Burung tersebut mudah dikenali dari ukurannya yang besar, paruh panjang, dan kehadiran "ornamen" atau tanduk di atas paruhnya. Burung rangkong juga dibagi menjadi beberapa genus. Nah, salah satunya adalah genus Anthracoceros.

Genus Anthracoceros tersebar luas di berbagai wilayah Asia, hidup di hutan yang lebat, bahkan ukurannya terbilang besar. Tiap spesies juga memiliki keunikan tersendiri yang tercermin dari ciri fisik, kebiasaan, reproduksi, hingga hubungan dengan lingkungannya. Lantas, apa saja spesies burung rangkong dari genus Anthracoceros? Berikut daftar lengkapnya.

1. Enggang tangling (Anthracoceros coronatus)

enggang tangling
enggang tangling (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Laman Birda menjelaskan bahwa enggang tangling merupakan omnivor. Makanan utamanya mencakup buah-buahan, mamalia kecil, serangga, reptil, dan burung lain. Lebih lanjut, tanaman fig atau pohon ara menjadi salah satu makanan yang paling sering ia konsumsi, khusuanya di luar musim kawin. Ketika musim kawin tiba, pilihan makannya bisa berubah.

Penyebaran enggang tangling sendiri tak terlalu luas karena hanya mencakup wilayah India dan Sri Lanka. Spesies dengan panjang maksimal 65 centimeter tersebut umumnya bisa dijumpai di hutan kering, pepohonan, dan area pemukiman. Ia juga punya warna yang khas, yaitu badan berwarna hitam, sisi sayap berwarna putih, dan warna kuning cerah di paruh serta ornamen atau "mahkota"nya.

2. Kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris)

kangkareng perut putih
kangkareng perut putih (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Dilansir BirdLife DataZone, kangkareng perut putih dapat ditemukan di India, Myanmar, Thailand, Vietnam, Malaysia, Brunei, hingga Indonesia. Ia merupakan spesies rangkong dengan populasi yang stabil dan bukan termasuk hewan terancam punah. Di wilayah penyebaran alaminya, kangkareng perut putih kerap dijumpai di hutan hujan tropis, hutan sekunder, area berkayu, dan kebun.

Kangkareng perut putih termasuk spesies berukuran sedang dengan panjang 55-60 centimeter dan bobot maksimal 1 kilogram. Ia merupakan spesies frugivor atau pemakan buah. Karena kebiasaan tersebut, ia berperan penting sebagai penyebar biji-bijian. Beberapa makanan kesukaannya adalah buah beri, rambutan, palem, dan pepaya. Selain buah, di beberapa kesempatan ia juga akan memangsa hewan kecil seperti serangga, amfibi, ikan, dan reptil.

3. Kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus)

kangkareng hitam
kangkareng hitam (commons.wikimedia.org/William Warby)

Seperti namanya, kangkareng hitam punya tubuh yang dominan berwarna hitam. Warna kuning pucat juga nampak pada hewan ini, tapi hanya di beberapa bagian tubuh seperti paruh, ujung ekor, dan di ornamennya. Menariknya, warna kuning tersebut hanya nampak pada burung jantan. Di sisi lain, burung betina punya tubuh yang seluruhnya diselimuti warna hitam atau abu-abu.

Laman Animalia juga menerangkan bahwa spesies ini sangat selektif soal perkawinan. Sebab, ia hanya akan kawin ketika pasokan makanan di lingkungannya stabil atau melimpah. Sama seperti kangkareng perut putih, burung ini juga merupakan pemakan buah-buahan. Di habitatnya, ia merupakan penyebar biji durian merah (Durio graveolens).

4. Rangkong palawan (Anthracoceros marchei)

rangkong palawan
rangkong palawan (commons.wikimedia.org/shankar s.)

Dilansir iNaturalist, rangkong palawan merupakan spesies berukuran besar endemik Filipina. Ia hanya bisa ditemukan di beberapa pulau, yaitu Palawan, Balabac, Busuanga, Calauit, Culion, dan Coron. Ukurannya juga cukup besar dengan panjang mencapai 70 centimeter dan bobot 750 gram. Karena penyebarannya yang sempit, populasi rangkong palawan mulai terancam. Ia dimasukan ke kategori vulnerable (rentan) dan pada 2021 diperkirakan hanya tersisa sekitar 20,000-49,999 individu di alam liar. Selain penyebaran yang sempit, penurunan populasinya juga dipicu oleh kerusakan habitat dan aktivitas manusia.

5. Enggang sulu (Anthracoceros montani)

enggang sulu
enggang sulu (inaturalist.org/Lorenzo Vinciguerra)

Laman Avibase menerangkan enggang sulu adalah hewan yang setia. Ia termasuk spesies monogamous yang hanya kawin dengan satu pasangan selama hidupnya. Lebih lanjut, burung ini biasanya akan bersarang pada Juni hingga September dan bisa menghasilkan dua butir telur. Spesies ini adalah hewan endemik Kepulauan Sulu di Filipina. Saat ini, ia masuk ke kategori critically endangered (kritis). Survey pada 2019 hanya mencatat sekitar 27 individu yang masih hidup di alam liar. Namun, jumlah tersebut bisa bertambah atau bahkan berkurang seiring berjalannya waktu jika tidak dilakukan upaya konservasi dengan serius.

Semua spesies burung rangkong dari genus Anthracoceros ternyata hidup di Asia, khususnya Asia Tenggara. Mereka juga menjadi hewan yang cukup penting di habitatnya karena punya peran tersendiri. Burung rangkong juga bukan hewan yang berbahaya dan tak merugikan manusia. Karena itu, kamu tak boleh memburu atau mengusik kehidupannya. Sebaliknya, kamu harus melestarikan eksistensi mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More