5 Fakta Leo Szilard, Ilmuwan yang Mendorong Lahirnya Proyek Manhattan

- Leo Szilard mencetuskan konsep reaksi berantai neutron pada 1933, yang menjadi dasar penting pengembangan reaktor dan senjata nuklir.
- Pada 1939, Szilard menyusun draf surat yang ditandatangani Albert Einstein untuk mendesak Presiden Roosevelt memulai riset atom, membuka jalan bagi Proyek Manhattan.
- Di Proyek Manhattan, Szilard membantu merancang Chicago Pile-1 bersama Enrico Fermi, menentang bom atom untuk warga sipil Jepang, lalu beralih ke biologi molekuler.
Nama Leo Szilard memang tidak sepopuler Albert Einstein atau J. Robert Oppenheimer dalam sejarah perkembangan senjata nuklir. Namun, fisikawan kelahiran Hungaria ini memiliki peran penting dalam mendorong pemerintah Amerika Serikat untuk mulai memberi perhatian serius terhadap pengembangan teknologi nuklir pada masa Perang Dunia II.
Berawal dari gagasan tentang reaksi berantai nuklir hingga penyusunan surat yang ditandatangani Einstein untuk Presiden Franklin D. Roosevelt, Szilard turut membuka jalan bagi lahirnya Proyek Manhattan. Berikut lima fakta menarik tentang Leo Szilard, ilmuwan visioner yang turut membuka jalan bagi lahirnya era atom modern.
1. Pencetus ide reaksi berantai nuklir

Gagasan mengenai pelepasan energi dari inti atom pertama kali muncul di pikiran Leo Szilard pada 12 September 1933 saat berada di London. Dilansir laman American Nuclear Society, ide reaksi berantai nuklir ini muncul sebagai tanggapan Szilard terhadap pernyataan Ernest Rutherford yang menyebut pemanfaatan energi atom sebagai hal mustahil. Szilard mulai membayangkan mekanisme ketika partikel neutron dapat dipakai untuk memicu proses pemecahan inti atom yang berulang secara mandiri.
Motivasi Szilard dalam mengembangkan konsep ini juga didorong oleh obsesinya menemukan sumber energi baru bagi perjalanan ruang angkasa di masa depan. Selain itu, sebagai pengungsi dari rezim Nazi Jerman, ia khawatir jika ilmuwan Jerman mengembangkan senjata berbasis fisika nuklir terlebih dahulu. Pemikiran yang muncul di persimpangan jalan Russell Square ini kemudian menjadi dasar ilmiah penting bagi riset atom di era Proyek Manhattan.
2. Menggagas mekanisme reaksi berantai neutron

Szilard paham bahwa kunci utama pelepasan energi atom terletak pada kemampuan sebuah partikel untuk memicu reaksi yang berjalan sendiri. Masih dari laman American Nuclear Society, ia menggagas bahwa jika suatu unsur dapat menyerap satu neutron lalu melepaskan dua neutron tambahan, proses ini akan menciptakan reaksi berantai. Mekanisme tersebut memungkinkan pengumpulan energi yang sangat besar dari pemecahan inti atom yang terjadi berulang.
Gagasan ini membedakan pemikiran Szilard dari ilmuwan lain yang saat itu lebih fokus menggunakan proton. Penggunaan neutron dianggap lebih masuk akal karena partikel ini tidak memiliki muatan listrik sehingga lebih mudah masuk ke dalam inti atom tanpa hambatan tegangan tinggi. Inovasi teoretis inilah yang akhirnya menjadi prinsip kerja mendasar dalam pengembangan reaktor dan senjata nuklir.
3. Inisiatif mendesak pengiriman surat Einstein

Kekhawatiran terhadap kemungkinan Jerman Nazi mengembangkan senjata nuklir mendorong Leo Szilard untuk mendesak pemerintah Amerika Serikat segera mengambil tindakan. Dilansir laman Britannica, ia bersama Eugene Wigner mendatangi Albert Einstein untuk meyakinkan Presiden Franklin D. Roosevelt pada tahun 1939. Szilard sendiri yang menyusun draf surat tersebut agar ditandatangani Einstein sehingga memiliki bobot ilmiah yang kuat di mata pemerintah.
Surat ini berisi desakan agar Amerika Serikat segera memulai riset atom secara besar-besaran demi keselamatan negara. Langkah diplomatik yang diprakarsai Szilard inilah yang menjadi pemicu lahirnya riset atom tingkat tinggi di Amerika Serikat dan membuka jalan bagi terbentuknya Proyek Manhattan. Tindakan tersebut menegaskan peran strategisnya sebagai ilmuwan yang mampu menggerakkan kebijakan politik demi merealisasikan program ilmiah berskala nasional.
4. Peran penting dalam Proyek Manhattan

Setelah riset atom resmi didanai pemerintah melalui Proyek Manhattan, Szilard memegang peran penting di Metallurgical Laboratory Universitas Chicago. Masih dari laman Britannica, ia bekerja sama dengan Enrico Fermi dalam merancang Chicago Pile-1, reaktor nuklir buatan manusia pertama di dunia yang menjadi fondasi teknis utama Proyek Manhattan. Pengembangan reaktor tersebut juga melibatkan Norman Hilberry sebagai salah satu anggota tim. Dalam proyek ini, Szilard bertanggung jawab atas perhitungan distribusi neutron serta mengusulkan penggunaan grafit murni untuk mengendalikan reaksi atom.
Meskipun kontribusi teknisnya sangat besar, hubungan Szilard dengan pimpinan Proyek Manhattan, Jenderal Leslie Groves, sering diwarnai ketegangan akibat perbedaan pandangan mengenai privasi dan kebebasan akademik. Szilard juga menjadi salah satu ilmuwan pertama dalam Proyek Manhattan yang secara terbuka menentang penggunaan bom atom terhadap warga sipil Jepang setelah Jerman menyerah pada Perang Dunia II.
5. Peralihan fokus ke bidang biofisika

Setelah keterlibatannya dalam Proyek Manhattan dan era awal atom, Szilard mengalihkan fokusnya ke biologi molekuler untuk mencari aplikasi sains yang lebih damai. Dilansir laman EMBL, pada musim gugur 1962 ia memprakarsai pembentukan laboratorium biologi molekuler Eropa dengan dukungan ilmuwan seperti Francis Crick dan James Watson.
Pertemuan yang ia dorong di Italia pada 1963 menghasilkan proposal resmi pendirian European Molecular Biology Organisation atau EMBO. Setelah itu, Szilard memusatkan perhatiannya pada riset biologi molekuler sekaligus pengembangan sistem beasiswa bagi peneliti muda di bidang hayati. Atas perannya mendirikan lembaga tersebut, perpustakaan utama EMBL dinamai Leo Szilard sebagai bentuk penghormatan.
Leo Szilard merupakan ilmuwan dengan pandangan jauh ke depan yang mengubah jalan sejarah dunia. Inisiatifnya mendesak pembuatan senjata atom hingga keterlibatan langsungnya dalam Proyek Manhattan membuktikan peran vitalnya sebagai perintis era nuklir modern.



















