Kemegahan Istana Versailles di Prancis, yang terkenal dengan arsitektur barok dan taman formalnya yang luas, serta patung Raja Louis XIV yang ikonik di depannya. (unsplash.com/Alexandre Brondino)
Istana Versailles bermula dari sebuah pondok kayu sederhana yang dibangun oleh Raja Louis XIII pada tahun 1623. Terletak sekitar 19 kilometer di sebelah barat Paris, tempat ini awalnya hanya berfungsi sebagai persinggahan sementara agar sang raja tidak perlu menginap di penginapan umum saat sedang berburu. Meski lokasinya strategis untuk hobi berburu sang raja, daerah sekitarnya saat itu masih berupa desa dengan lahan basah dan hutan yang dianggap kurang layak bagi martabat seorang penguasa.
Antara tahun 1631–1634, bangunan ini mulai dipermanenkan menjadi sebuah kastil oleh arsitek Philibert Le Roy. Namun, tempat ini tetap menjadi area privat bagi Raja Louis XIII, ia bahkan melarang istrinya, Ratu Ana dari Austria, untuk menginap di sana. Istana ini baru benar-benar ditinggali oleh keluarga kerajaan dalam keadaan darurat pada tahun 1641, ketika wabah cacar air melanda kediaman utama mereka dan memaksa Louis XIII membawa Louis XIV yang masih kecil untuk mengungsi ke Versailles.
Setelah Louis XIII wafat pada 1643, Versailles sempat terbengkalai selama satu dekade karena pusat kekuasaan pindah kembali ke Paris. Di masa tersebut, Prancis mengalami gejolak politik dan pemberontakan besar yang disebut Fronde. Pengalaman pahit menghadapi pemberontakan di Paris inilah yang kemudian mendorong Louis XIV untuk memerintah secara mandiri. Setelah situasi stabil, ia memutuskan untuk merenovasi dan memperluas kastil Versailles yang sederhana menjadi istana megah sebagai pusat pemerintahan baru yang jauh dari hiruk-pikuk konflik di ibu kota.