Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Jet d'Eau, Air Mancur yang Jadi Ikon Kota Jenewa
Jet d'Eau, air mancur besar di Jenewa, Swiss, yang terletak di tempat Danau Jenewa bermuara ke Sungai Rhône. (pixabay.com/ChiemSeherin)
  • Jet d’Eau awalnya muncul tahun 1886 sebagai katup pengaman pabrik listrik di Jenewa, lalu berkembang menjadi ikon kota karena keindahan semburan airnya yang disukai masyarakat.
  • Air mancur ini kini mampu menyemburkan 500 liter air per detik hingga setinggi 150 meter dengan dua pompa bertenaga total 1.000 kW dan biaya operasional sekitar 510.000 CHF per tahun.
  • Selain jadi daya tarik wisata, Jet d’Eau juga berfungsi sebagai simbol solidaritas global melalui pencahayaan warna-warni yang menandai dukungan terhadap berbagai peristiwa kemanusiaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jenewa merupakan kota terpadat kedua di Swiss yang terletak di ujung barat daya Danau Jenewa. Saat berkunjung ke sana, kamu akan langsung menyadari keberadaan salah satu landmark paling terkenal di kota ini, yaitu Jet d'Eau alias Pancaran Air. Air mancur ikonik ini bahkan selalu ditampilkan di situs web pariwisata resmi Kota Jenewa sebagai daya tarik utama.

Posisinya berada tepat di titik tempat Danau Jenewa keluar mengalir menjadi Sungai Rhône. Karena ukurannya yang sangat besar, air mancur ini bisa terlihat jelas dari berbagai sudut kota, bahkan dari udara saat kamu terbang di atas Jenewa pada ketinggian sepuluh kilometer.

Tapi, tahukah kamu kalau air mancur megah ini sebenarnya tercipta karena sebuah ketidaksengajaan teknis di masa lalu? Yuk, kita cari tahu sejarah dan fakta menarik di balik pembuatan Jet d'Eau dalam artikel ini!

1. Berawal dari ketidaksengajaan teknis

Wujud pertama dari Jet d'Eau yang diabadikan sekitar tahun 1886. (commons.wikimedia.org/Unknown; the book indicates the author as being anonymous./Scanned from p. 93 of the book "Genève - Passé et présent sous le même angle" by Nicolas Crispini and Jean-Claude Mayor (Slatkine, Geneva: 1991), ISBN 2-05-100893-0. The original printed photo belongs to the collection of the Centre d'iconographie genevoise at the "Bibliothèque de Genève".)

Jet d'Eau sebenarnya sama sekali tidak dibangun untuk menjadi tempat wisata atau penghias kota. Semua berawal pada tahun 1886, ketika sebuah pabrik pembangkit listrik tenaga air dibangun di Usine de la Coulouvrenière untuk mengalirkan energi ke mesin-mesin industri di Jenewa. Saat itu, air mancur ini hanya berfungsi sebagai katup pengaman untuk mengontrol jaringan tenaga hidrolik.

Masalah muncul pada malam hari ketika pabrik-pabrik berhenti beroperasi, karena tekanan air yang terlalu besar menumpuk di dalam sistem mekanis. Untuk meredakan tekanan berbahaya tersebut, para insinyur membuat katup pembuangan yang melempar air ke udara. Semburan katup inilah yang menjadi cikal bakal Jet d'Eau, yang pada waktu itu tingginya baru mencapai sekitar 30 meter.

2. Pindah lokasi demi estetika

Jet d'Eau yang menyemburkan air di atas Danau Jenewa di Swiss. (pexels.com/Liviu Gorincioi)

Melihat masyarakat sangat menyukai pemandangan semburan air tersebut, Pemerintah Kota Jenewa akhirnya memutuskan untuk memindahkan air mancur ke lokasinya yang sekarang di dermaga Eaux-Vives pada tahun 1891. Pemindahan ini bertepatan dengan perayaan Festival Senam Federal serta peringatan 600 tahun Konfederasi Swiss. Momen tersebut sekaligus mengubah fungsi Jet d'Eau sepenuhnya, dari yang tadinya hanya alat pengaman teknis menjadi murni objek wisata karena nilai keindahannya yang diakui.

Kemudian pada tahun 1951, sistem Jet d'Eau diperbarui dengan memasang stasiun pompa modern yang posisinya sebagian terendam di dalam air. Sejak saat itulah, air mancur ini mulai menyedot air langsung dari danau untuk disemburkan ke udara, tidak lagi menggunakan sumber air bersih milik kota seperti sebelumnya.

3. Punya kekuatan mekanis dengan angka teknis yang luar biasa

Jet d'Eau, air mancur besar di Jenewa, Swiss, yang terletak di tempat Danau Jenewa bermuara ke Sungai Rhône. (unsplash.com/Christel F.)

Di balik kemegahannya, Jet d'Eau punya kekuatan mekanis dengan angka teknis yang luar biasa. Dua buah pompa berkekuatan total 1.000 kW menyemburkan sekitar 500 liter air setiap detiknya hingga mencapai ketinggian 150 meter. Air tersebut melesat keluar dari pipa berdiameter 10 sentimeter dengan kecepatan mencapai 200 km/jam, sehingga membuat sekitar 7.000 liter air melayang di udara dalam satu waktu bersamaan.

Untuk mengoperasikan sistem raksasa ini, dibutuhkan daya listrik sebesar satu megawatt dengan biaya operasional mencapai 510.000 CHF per tahun. Menariknya, air mancur ini tidak terlihat bening melainkan berwarna putih pekat. Hal ini terjadi karena adanya pipa khusus yang memasukkan jutaan gelembung udara kecil ke dalam air sebelum ditembakkan, sehingga Jet d'Eau bisa terlihat sangat jelas dari kejauhan.

4. Tidak beroperasi sepanjang waktu

Air mancur Jet d'Eau saat dimatikan. Ini adalah stasiun pompa dan dasar nosel yang sebagian terendam dari Jet d'Eau. (commons.wikimedia.org/Sabas88)

Jet d'Eau tidak menyembur selama 24 jam penuh secara otomatis. Sejak tahun 2003, air mancur ini dijadwalkan untuk terus beroperasi pada siang hari sepanjang tahun. Pengoperasiannya dilakukan secara manual oleh para petugas dari SIG (Services Industriels de Genève), perusahaan utilitas lokal yang memiliki dan merawat monumen ini. Saat ini, ada lima pensiunan SIG yang menjadi sukarelawan untuk mengawasi menara air mancur dan mematikan semburannya jika kondisi cuaca mendadak memburuk.

Petugas akan mematikan air mancur pada malam hari, saat angin bertiup terlalu kencang, atau ketika suhu udara turun mendekati nol derajat. Langkah ini penting karena angin kencang bisa meniup air ke arah kota hingga membasahi jalanan dan perahu, sementara suhu membeku bisa membuat air yang jatuh berubah menjadi es yang licin di area pejalan kaki. Oleh karena itu, bagi kamu yang berjalan di sepanjang dermaga batu menuju dasar air mancur, harap selalu waspada karena sedikit perubahan arah angin saja bisa membuat kamu langsung basah kuyup.

5. Menjadi simbol solidaritas

Pemandangan Jet d'Eau pada malam hari. (commons.wikimedia.org/Aminul Huq)

Warna putih pekat yang khas pada Jet d'Eau tercipta berkat nosel khusus yang mengisi air dengan jutaan gelembung udara sebelum ditembakkan ke langit. Efek ini membuat penampilannya terlihat sangat mencolok dan megah. Saat malam hari, keindahan tersebut semakin bertambah karena air mancur ini sering kali diterangi oleh proyektor lampu warna-warni yang memukau.

Selain untuk urusan estetika, warna pencahayaan ini kerap diganti sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan global atau untuk memperingati hari-hari penting. Sebagai contoh, Jet d'Eau pernah dinyalakan dengan kombinasi warna biru, putih, dan merah sesuai bendera Prancis sebagai bentuk penghormatan setelah serangan teroris di Paris pada tahun 2016 lalu. Di momen lain, air mancur ini juga diubah menjadi warna merah muda sebagai bentuk dukungan terhadap berbagai upaya kemanusiaan.

Jet d'Eau membuktikan bahwa sebuah solusi teknis sederhana bisa berubah menjadi mahakarya yang dikagumi dunia. Air mancur ini bukan sekadar tontonan visual yang megah, melainkan simbol kreativitas dan solidaritas yang terus hidup di tengah kota. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article