7 Fakta Big Ben, Lonceng Besar di Menara Jam Istana Westminster

- Big Ben sebenarnya adalah nama lonceng seberat 13,76 ton di dalam Menara Elizabeth, bukan nama menaranya yang bergaya arsitektur Kebangkitan Gotik dan selesai dibangun tahun 1859.
- Asal-usul nama Big Ben masih diperdebatkan antara Sir Benjamin Hall dan petinju Ben Caunt, sementara loncengnya pernah retak tak lama setelah pertama kali berbunyi pada 1859.
- Jam raksasa ini tetap akurat berkat pengaturan koin penny kuno, bertahan dari serangan bom Perang Dunia II, dan dikembalikan ke warna biru Prusia saat renovasi besar 2017–2021.
Mendengar kata Big Ben, bayangan kita pasti langsung tertuju pada menara jam raksasa yang berdiri megah di pinggir Sungai Thames di wilayah Westminster, London, Inggris. Namun, tahukah kamu kalau nama tersebut sebenarnya sering kali disalahpahami? Lalu, bagaimana asal-usul dan sejarah sebenarnya dari menara ini?
Yuk, kita telusuri bersama fakta-fakta menariknya dalam artikel ini!
1. Big ben sebenarnya nama lonceng, bukan menaranya

Banyak orang mengira Big Ben adalah nama menara jam besar yang ada di London. Padahal, dugaan itu kurang tepat. Nama resmi dari menara tersebut sebenarnya adalah Menara Elizabeth, yang diubah pada tahun 2012 untuk menghormati Ratu Elizabeth II. Sementara itu, mesin jam raksasa yang ada di dalamnya memiliki nama tersendiri, yaitu The Great Clock.
Nama Big Ben sendiri sebenarnya adalah julukan khusus untuk lonceng raksasa yang terletak di dalam menara tersebut. Lonceng besar ini memiliki berat sekitar 13,76 ton. Jadi, saat kita menyebut Big Ben, yang kita maksud secara tepat adalah loncengnya, bukan bangunan menaranya.
2. Asal-usul nama "big ben" yang misterius

Asal-usul nama Big Ben sebenarnya masih menjadi perdebatan karena tidak ada dokumen resminya. Teori pertama menyebutkan nama ini diambil dari Sir Benjamin Hall, Menteri Pekerjaan Umum yang mengawasi pemasangan lonceng tersebut. Teori kedua menduga nama itu berasal dari Ben Caunt, seorang juara tinju kelas berat. Namun, catatan media zaman dulu menunjukkan bahwa nama tersebut lebih kuat merujuk pada Sir Benjamin Hall yang bertubuh sangat tinggi.
Saat ini, masyarakat umum terbiasa menggunakan nama Big Ben untuk menyebut lonceng, jam, dan menaranya sekaligus. Meski begitu, sebutan ini sebenarnya kurang tepat bagi sebagian orang. Untuk menghindari salah paham, para penulis buku biasanya meletakkan nama Big Ben di judul, lalu menjelaskan di dalam isinya bahwa yang mereka bahas mencakup seluruh bangunan menara, jam, beserta loncengnya.
3. Pernah retak tak lama setelah dipasang

Lonceng utama Big Ben memiliki tinggi sekitar 2,2 meter dan diameter 2,7 meter. Lonceng aslinya dibuat pada 6 Agustus 1856 oleh perusahaan John Warner & Sons di Stockton-on-Tees. Lonceng ini kemudian dipasang di menara dan pertama kali berbunyi pada 11 Juli 1859. Namun baru beberapa bulan dipakai, lonceng tersebut mengalami keretakan karena dipukul oleh palu yang terlalu berat.
Untuk mengatasinya, petugas memotong sedikit bagian logam di sekitar retakan agar kerusakannya tidak melebar. Setelah itu, lonceng diputar sedikit supaya palu baru bisa memukul di bagian logam yang masih utuh. Akibat retakan yang sengaja dibiarkan hingga sekarang, Big Ben menghasilkan suara dentangan yang khas dan unik, serta masih terus digunakan sampai hari ini.
4. Akurasinya diatur menggunakan koin kuno

Meski zaman sudah modern, jam raksasa abad ke-19 ini masih menggunakan cara tradisional yang unik untuk mengatur ketepatan waktunya. Petugas memanfaatkan tumpukan koin kuno, seperti koin penny Inggris pra-desimal, yang diletakkan di atas pendulum jam. Menambah atau mengurangi satu koin penny yang tipis ini akan mengubah kecepatan jam sebesar 0,4 detik per hari.
Cara kerjanya cukup sederhana. Menambahkan koin akan mengangkat pusat massa pendulum, sehingga batang pendulum menjadi lebih pendek dan berayun lebih cepat. Selain koin penny kuno, koin lain juga pernah digunakan. Contohnya pada tahun 2009, petugas sempat mengganti tiga koin penny dengan koin peringatan 5 poundsterling untuk menyambut Olimpiade London 2012.
5. Tangguh menghadapi bom perang dunia ii

Pada 10 Mei 1941, serangan udara dari tentara Nazi Jerman merusak dua bagian jam dan atap Menara Elizabeth. Serangan bom ini juga menghancurkan ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat yang berada di dekatnya. Meski mengalami kerusakan akibat perang, jam raksasa tersebut terbukti sangat tangguh karena tetap berjalan akurat dan terus berdentang selama masa pengeboman.
Setelah perang berakhir, arsitek bernama Sir Giles Gilbert Scott merancang bangunan baru setinggi lima lantai untuk memperbaiki kerusakan yang ada. Dua lantai dari bangunan baru tersebut digunakan sebagai ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat yang baru. Ruang sidang ini kemudian resmi digunakan untuk pertama kalinya pada 26 Oktober 1950.
6. Warna asli pelat dan jarum jam menara ini adalah biru prusia

Saat pertama kali selesai dibuat, pelat dan jarum jam menara ini sebenarnya berwarna biru Prusia. Namun, warnanya dicat ulang menjadi hitam pada tahun 1930-an untuk menyamarkan kotoran akibat polusi udara. Warna biru asli tersebut akhirnya dikembalikan saat proyek renovasi besar-besaran tahun 2017–2021, setelah analisis cat menunjukkan bahwa jam ini sudah berganti warna sebanyak enam kali dalam 160 tahun terakhir. Dalam renovasi ini, kaca tua zaman Victoria juga diganti dengan kaca baru buatan Jerman.
Renovasi tersebut sekaligus memperbaiki dampak serangan bom Jerman pada Mei 1941 yang sempat merusak bagian batu, besi hias, dan memecahkan kaca jam bagian selatan. Meski sempat diperbaiki seadanya pada masa perang, perbaikan total baru dilakukan pada renovasi tahun 2017. Saat dibongkar, petugas menemukan bahwa kerusakan menara ternyata lebih parah dari dugaan awal, serta menemukan kandungan asbes dan cat timbal berbahaya yang membuat biaya renovasi membengkak.
7. Dibangun dengan gaya arsitektur kebangkitan gotik

Menara setinggi 96,3 meter ini selesai dibangun pada tahun 1859 dengan gaya arsitektur Kebangkitan Gotik. Bangunannya terbuat dari batu bata yang dilapisi batu kapur kuning, sedangkan bagian ujung atasnya dilapisi ratusan genteng besi. Menara ini berdiri di atas fondasi beton setebal 3,7 meter yang tertanam di tanah tanah liat London. Karena kondisi tanah yang lunak tersebut, menara ini sebenarnya agak miring ke arah barat laut sekitar 23 sentimeter.
Untuk mencapai bagian atas, terdapat total ratusan anak tangga batu dan besi yang harus dilewati secara bertahap menuju ruang jam hingga puncak menara. Di bagian luar, menara ini dihiasi oleh 52 perisai yang menampilkan lambang nasional empat negara Britania Raya, seperti mawar Inggris dan daun bawang Wales. Selain itu, ada juga lambang bersejarah lain seperti buah delima, lambang parlemen, serta lambang kerajaan Prancis kuno.
Sekarang kamu sudah tahu bahwa Big Ben sebenarnya adalah nama lonceng raksasa di dalam menara, bukan nama bangunannya. Jadi, saat melihat keindahan menara jam ini di foto atau mengunjunginya langsung di London, kamu gak akan salah sebut lagi.



![[QUIZ] Dari Jenis Komet Pilihan, Ini Caramu Tinggalkan Kesan pada Orang Lain](https://image.idntimes.com/post/20250121/1000081662-5a4e3a860dbf6ff604dfd0b178ae4525-a13e2e8572f58cdc4ce5a6df9641cf23.jpg)















