Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Kawah Darvaza, Lubang Api Turkmenistan yang Tak Pernah Padam
Kawah Darvaza (commons.wikimedia.org/Benjamin Goetzinger)
  • Kawah Darvaza di Gurun Karakum terbentuk akibat runtuhan lokasi pengeboran era Soviet yang membuka jalur gas alam, menciptakan lubang berapi dengan kedalaman sekitar 30 meter.
  • Penelitian terbaru menunjukkan api Darvaza baru menyala sekitar akhir 1987 hingga awal 1988, berbeda dari kisah populer yang menyebut kebakaran terjadi segera setelah kecelakaan pengeboran tahun 1971.
  • Kawah ini terus melepaskan metana dalam jumlah besar meski nyalanya mulai menurun, dan pemerintah Turkmenistan berupaya mengendalikan aliran gas untuk memadamkan api sepenuhnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah bentang tandus Gurun Karakum, Turkmenistan, terdapat cekungan raksasa yang memancarkan cahaya jingga dari dasar tanah. Tempat itu dikenal sebagai Kawah Darvaza, sebuah lubang berisi banyak titik api yang terus mendapat bahan bakar dari gas alam bawah permukaan. Penampilannya yang menyerupai tungku terbuka membuat kawasan terpencil ini menjadi salah satu pemandangan paling tidak biasa di Asia Tengah.

Kawah Darvaza kerap dijuluki Pintu Neraka karena panas, adanya suara pembakaran, dan nyala apinya tampak mencolok pada malam hari. Namun, kisah terbentuknya tidak sepenuhnya jelas dan penelitian terbaru bahkan mengoreksi waktu dimulainya kebakaran yang selama ini dipercaya. Nyala apinya juga mulai menyusut, tetapi kawah tersebut belum sepenuhnya padam setelah terbakar selama beberapa dekade.

1. Kawah sedalam 30 meter ini pernah dimasuki manusia

Kawah Darvaza (commons.wikimedia.org/Benjamin Goetzinger)

Dilansir dari National Geographic, Kawah Darvaza memiliki lebar sekitar 69 meter dan kedalaman sekitar 30 meter. Ukuran tersebut membuat bagian dasarnya menjadi cekungan luas yang dipenuhi banyak nyala api kecil dari gas yang merembes keluar. Panas pembakaran metana bahkan dapat dirasakan oleh orang yang berdiri di sekitar tepi kawah.

Pada November 2013, penjelajah George Kourounis menjadi orang pertama yang turun ke dasar kawah dalam ekspedisi yang didukung National Geographic. Ia mengumpulkan sampel tanah menggunakan pakaian tahan panas, alat pernapasan, tali khusus, dan sabuk pengaman berbahan Kevlar. Sampel tersebut memperlihatkan keberadaan bakteri yang mampu hidup di dasar kawah dan tidak ditemukan pada tanah di luar cekungan.

2. Terbentuknya berkaitan dengan pengeboran era Soviet

Kawah Darvaza (commons.wikimedia.org/John Pavelka)

Melansir National Geographic, Kawah Darvaza kemungkinan terbentuk setelah tanah di bawah lokasi pengeboran era Soviet runtuh ke dalam rongga bawah tanah. Keruntuhan itu membuka jalur keluarnya gas yang kemudian terbakar di dalam kawah. Gas yang terus merembes menjadi bahan bakar bagi api di berbagai bagian dasar kawah.

Cerita paling populer menyebut para pekerja sengaja membakar gas agar zat berbahaya tidak menyebar ke lingkungan sekitar. Namun, catatan mengenai kejadian awalnya sangat terbatas sehingga waktu keruntuhan dan pihak yang menyalakan api lama diperdebatkan. Ahli geologi menyebut keruntuhan mungkin terjadi pada tahun 1960-an, sedangkan api baru muncul pada tahun 1980-an.

3. Api kemungkinan baru menyala menjelang 1988

Kawah Darvaza (commons.wikimedia.org/flydime)

Berdasarkan penelitian yang dipresentasikan dalam EGU General Assembly 2025, analisis citra Landsat menunjukkan api Darvaza mulai menyala pada akhir 1987 atau awal 1988. Temuan ini berbeda dari narasi populer yang menyatakan kawah langsung dibakar setelah kecelakaan pengeboran pada 1971. Rekaman satelit memberikan petunjuk waktu yang lebih terukur dibandingkan cerita yang beredar tanpa dokumentasi lengkap.

Penelitian tersebut memanfaatkan pita termal dan data radiansi Landsat 4 serta Landsat 5 untuk menelusuri kemunculan panas di lokasi kawah. Hasilnya memperkuat kemungkinan bahwa pembentukan lubang dan penyalaan gas terjadi pada masa yang berbeda. Sejarah Darvaza pun masih dapat berubah ketika bukti penginderaan jauh yang lebih sistematis dianalisis oleh para peneliti.

4. Kawah terus melepaskan metana dalam jumlah besar

Kawah Darvaza (commons.wikimedia.org/Benjamin Goetzinger)

Seperti dijelaskan oleh EGU, Darvaza berada di Cekungan Amu Darya yang menyimpan minyak dan gas alam dalam jumlah besar. Tim peneliti mendeteksi lebih dari 20 pelepasan metana menggunakan instrumen satelit EnMAP, PRISMA, dan EMIT. Laju emisinya diperkirakan berkisar antara 1.000 hingga 3.000 kilogram per jam sehingga jumlah tahunannya mencapai ribuan ton.

Menurut NASA, metana merupakan gas rumah kaca kuat dan menjadi penyumbang pemanasan terbesar kedua setelah karbon dioksida. Satu molekul metana menangkap lebih banyak panas daripada satu molekul karbon dioksida, meskipun masa tinggalnya di atmosfer lebih singkat. Kondisi ini membuat aliran gas yang tidak terbakar di Darvaza tetap penting dipantau ketika luas nyala api berkurang.

5. Upaya pemadaman mulai mengecilkan nyala apinya

Kawah Darvaza (unsplash.com/Ybrayym Esenov)

Radio Free Europe Radio Liberty melaporkan bahwa intensitas api Darvaza telah menurun secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir. Foto yang diambil sepanjang 2025 memperlihatkan hanya beberapa titik api tersisa di lokasi yang sebelumnya dipenuhi banyak nyala. Peneliti dari perusahaan energi negara Turkmengaz menyatakan pengurangan api mencapai hampir tiga kali lipat.

Penurunan itu berkaitan dengan pembukaan kembali beberapa sumur gas di sekitar Darvaza untuk mengalihkan aliran gas dari kawah. Pada Desember 2025, Turkmengaz juga menjelaskan rencana pengeboran sumur baru untuk menghentikan pelepasan gas yang tidak terkendali. Meski demikian, pakar teknik gas menilai kebocoran mungkin tetap terjadi sehingga memadamkan kawah sepenuhnya masih menjadi persoalan rumit.

Kawah Darvaza bukan sekadar lubang api, melainkan hasil pertemuan antara aktivitas pengeboran, cadangan gas bawah tanah, dan proses pembakaran panjang. Penelitian satelit mengubah pemahaman mengenai awal kebakarannya, sedangkan pengukuran metana menunjukkan adanya persoalan lingkungan di balik pemandangan yang dramatis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article