Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

4 Alasan Ilmiah Mengapa Sebagian Kucing Sangat Pemilih pada Makanan

4 Alasan Ilmiah Mengapa Sebagian Kucing Sangat Pemilih pada Makanan
ilustrasi kucing minum air (pexels.com/Maria Luiza Melo)
Intinya Sih
  • Kucing dikenal sangat selektif terhadap makanan karena faktor biologis dan evolusioner, termasuk kepekaan indra penciuman yang tinggi dalam menilai aroma serta kualitas makanan sebelum dikonsumsi.
  • Sebagai karnivora obligat, kucing membutuhkan nutrisi dari protein dan lemak hewani; ketidaksesuaian komposisi makanan dapat membuat mereka menolak atau kehilangan nafsu makan.
  • Pengalaman makan sejak kecil, tekstur, dan suhu makanan turut memengaruhi preferensi kucing; mereka cenderung menyukai aroma kuat serta tekstur yang sesuai dengan kebiasaan awalnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyak pemilih kucing yang mungkin pernah mengalami situasi pada saat hewan peliharaan yang menolak untuk makan, meski sudah terlihat lezat atau bahkan pemilihan makanannya juga cukup mahal. Perilaku ini kerap membuat kucing dianggap manja, padahal ada faktor biologis dan evolusioner yang turut mempengaruhi kebiasaan makan mereka.

Dibandingkan banyak hewan peliharaan lain, kucing memang kerap memiliki preferensi tersendiri terkait makanan yang cukup spesifik. Ada berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa indra, pengalaman hidup, hingga kebutuhan biologis kucing ternyata memiliki peran yang sangat besar untuk menentukan makanan apa yang mereka sukai atau hindari.

1. Indra penciuman kucing sangat sensitif

ilustrasi kucing (pexels.com/Oleksandra Derkach)
ilustrasi kucing (pexels.com/Oleksandra Derkach)

Kucing mengandalkan indra penciuman lebih banyak daripada indera pengecap pada saat mereka memilih makanan. Sebelum makan, biasanya kucing akan mulai mengendus makanannya terlebih dahulu untuk menilai apakah memang aroma tersebut sesuai dengan yang mereka anggap aman atau justru sebaliknya.

Kemampuan mencium yang sangat tajam dapat membantu kucing untuk mendeteksi apakah ada perubahan kecil pada kualitas makanannya. Aroma yang sedikit berbeda akibat perubahan bahan, penyimpanan yang kurang tepat, hingga suhu makanan yang tidak sesuai akan membuat kucing dengan mudah kehilangan selera untuk makan.

2. Kucing merupakan karnivora obligat

ilustrasi kucing dan tikus (pexels.com/Melih Akkus)
ilustrasi kucing dan tikus (pexels.com/Melih Akkus)

Secara biologis, kucing memang termasuk ke dalam hewan karnivora obligat yang membutuhkan nutrisi tertentu yang secara umum berasal dari daging. Sistem metabolisme mereka berkembang dengan cara memanfaatkan protein hewani sebagai sumber energi utama, sehingga tubuh mereka pun cenderung memiliki kebutuhan yang berbeda jika dibandingkan dengan hewan omnivora.

Dikarenakan alasan tersebut, maka wajar apabila kucing mungkin lebih tertarik pada makanan dengan kandungan protein atau lemak hewani yang jauh lebih tinggi. Jika ternyata makanan mereka memiliki komposisi yang tidak sesuai dengan kebutuhan biologisnya, maka kucing mungkin akan rentan menunjukkan respons berupa penolakan atau terlihat kurang bernafsu untuk makan.

3. Pengalaman makan saat masa kecil sangat berpengaruh

ilustrasi kucing
ilustrasi kucing (pexels.com/FOX ^.ᆽ.^= ∫)

Penelitian perilaku hewan menunjukkan bahwa pengalaman makan yang dialami mereka pada masa awal kehidupan ternyata bisa mempengaruhi preferensi makanan pada saat sudah dewasa. Anak kucing yang terbiasa mengonsumsi jenis makanan tertentu biasanya akan lebih menerima makanan dengan aroma dan tekstur yang sama di kemudian hari.

Sebaliknya, kucing yang sejak kecil hanya mengenal sedikit variasi makanan biasanya akan lebih berhati-hati terhadap makanan baru yang diperolehnya. Fenomena ini ternyata dikenal sebagai food neophobia, yaitu kecenderungan untuk menghindari makanan yang dianggap asing atau yang belum pernah dikonsumsi sebelumnya.

4. Tekstur dan suhu makanan mempengaruhi nafsu makan

ilustrasi kucing makan (unsplash.com/am)
ilustrasi kucing makan (unsplash.com/am)

Selain aroma dan rasa, tekstur makanan juga turut memiliki peran penting dalam menentukan apakah memang kucing mau makan atau tidak. Ada beberapa kucing yang lebih menyukai makanan basah dengan tekstur lembut, sementara ada pula yang lebih nyaman mengonsumsi makanan kering dengan sensasi renyah pada saat digigit.

Suhu makanan bisa mempengaruhi ketertarikan kucing terhadap makanan tersebut. Makanan yang terlalu dingin biasanya akan menghasilkan aroma yang lebih lemah, sedangkan makanan yang sedikit hangat justru akan mengeluarkan aroma yang lebih kuat dan sangat menarik bagi indra penciuman kucing.

Sikap pemilih terhadap makanan pada kucing sebetulnya bukan sekadar perilaku manja, melainkan hasil dari berbagai faktor biologis dan evolusioner yang cukup kompleks. Berapa hal di atas soalnya bisa menjadi penyebab utama dari perilaku pilih-pilih makanan yang ditunjukkannya. Dengan memahami alasan-alasan ilmiah tersebut, maka pemilih kucing bisa lebih mudah dalam menyesuaikan pola pemberian makanan agar tetap sesuai dengan kebutuhan mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More