Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Fakta Pompeii, Kota Romawi Kuno di Italia yang Jadi Situs Arkeologi

Reruntuhan Forum Pompeii, sebuah kota Romawi kuno di dekat Napoli, Italia, yang terkenal hancur akibat letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi.
Reruntuhan Forum Pompeii, sebuah kota Romawi kuno di dekat Napoli, Italia, yang terkenal hancur akibat letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. (pexels.com/James Frid)
Intinya sih...
  • Kota Romawi kuno di Campania, Italia, terletak 23 km sebelah tenggara Napoli
  • Pompeii dihuni oleh suku Oscan dan dipengaruhi budaya Yunani serta Etruria sebelum dikuasai Romawi
  • Reruntuhan Pompeii pertama kali ditemukan pada akhir abad ke-16 dan ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1997
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Situs arkeologi merupakan gerbang menuju masa lalu yang menyimpan jejak peradaban manusia untuk dipelajari di masa kini. Di seluruh penjuru dunia, terdapat ribuan situs bersejarah yang menawarkan pesona uniknya masing-masing. Di antara jajaran situs legendaris tersebut, Pompeii di Italia adalah salah satu yang paling ikonik karena kondisinya yang terjaga dengan luar biasa.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat kota yang pernah hilang ini begitu istimewa dibandingkan situs lainnya? Mari kita telusuri deretan fakta tersembunyi dan kisah luar biasa di balik reruntuhan abadi ini dalam artikel berikut!

1. Kota yang berdiri di atas aliran lava

Reruntuhan Pompeii, sebuah kota Romawi kuno di dekat Napoli, Italia, yang terkenal hancur akibat letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi.
Reruntuhan Pompeii, sebuah kota Romawi kuno di dekat Napoli, Italia, yang terkenal hancur akibat letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. (commons.wikimedia.org/my late related person)

Pompeii adalah kota Romawi kuno di Campania, Italia, yang terletak 23 kilometer di sebelah tenggara Napoli, di kaki tenggara Gunung Vesuvius. Kota kuno ini dibangun di atas sebuah tanjung yang terbentuk oleh aliran lava prasejarah di sebelah utara muara Sungai Sarno. Menariknya, nama “Pompeii” berasal dari bahasa kuno Oscan, “pompe,” yang berarti "lima". Istilah ini diyakini merujuk pada komunitas awal yang terdiri dari lima dusun atau kelompok keluarga yang menetap di wilayah Campania, Italia, sekitar abad ke-6 SM, jauh sebelum kota tersebut dikuasai oleh Romawi.

2. Sebelum dikuasai Romawi, kota ini dihuni oleh suku Oscan

Reruntuhan kota kuno Pompeii di Italia, dengan latar belakang Gunung Vesuvius.
Reruntuhan kota kuno Pompeii di Italia, dengan latar belakang Gunung Vesuvius. (commons.wikimedia.org/Glen Scarborough)

Awalnya, wilayah Pompeii dihuni oleh masyarakat suku Oscan dan sempat dipengaruhi oleh budaya Yunani serta Etruria, hingga akhirnya dikuasai oleh suku Samnites pada abad ke-5 SM. Seiring berjalannya waktu, Pompeii mulai masuk ke dalam pengaruh kekuasaan Romawi dan perlahan-lahan berubah menjadi kota yang sepenuhnya bergaya Romawi, mulai dari penggunaan bahasa Latin hingga penerapan arsitektur dan budayanya yang megah.

Kehidupan kota ini mencapai puncaknya sebagai pusat pemukiman yang maju, tetapi segalanya berubah secara drastis pada tahun 79 Masehi. Letusan dahsyat Gunung Vesuvius melontarkan hujan abu dan batu apung yang mengubur seluruh isi kota dalam sekejap. Meski peristiwa tersebut merupakan tragedi besar, timbunan material vulkanik inilah yang justru membuat Pompeii "terjaga" dengan sempurna di bawah tanah selama berabad-abad.

3. Ditemukan kembali pada akhir abad ke-16

Reruntuhan Pompeii, sebuah kota Romawi kuno di dekat Napoli, Italia, yang terkenal hancur akibat letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi.
Reruntuhan Pompeii, sebuah kota Romawi kuno di dekat Napoli, Italia, yang terkenal hancur akibat letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. (pexels.com/Russ Stoneback)

Reruntuhan Pompeii pertama kali ditemukan secara tidak sengaja pada akhir abad ke-16 oleh arsitek Domenico Fontana, tetapi penggalian secara besar-besaran baru dimulai pada tahun 1748. Identitas kota ini baru terungkap sepenuhnya pada tahun 1763 setelah ditemukannya sebuah prasasti yang memastikan bahwa situs tersebut adalah Pompeii. Awalnya, penggalian dilakukan secara sembarangan hingga akhirnya arkeolog Giuseppe Fiorelli mengambil alih pada tahun 1860. Ia membawa perubahan besar dengan mendokumentasikan situs secara rapi, membagi kota menjadi wilayah-wilayah yang teratur, dan menciptakan teknik unik menuangkan semen ke dalam rongga abu untuk membentuk cetakan tubuh para korban.

Memasuki abad ke-20, upaya penggalian semakin intensif, terutama di bawah arahan Amedeo Maiuri yang berhasil mengungkap area luas kota setelah masa Perang Dunia II. Fokus penelitian pun bergeser dari sekadar mencari harta karun menjadi upaya pelestarian sejarah yang lebih mendalam. Hingga tahun 1990-an, sekitar dua pertiga dari wilayah Pompeii telah berhasil digali dan dipetakan. Saat ini, sisa wilayah yang masih tertimbun sengaja dibiarkan tetap terkubur untuk dilindungi bagi penelitian di masa depan sebagai salah satu proyek arkeologi paling berkelanjutan di dunia.

4. Sebelum letusan Gunung Vesuvius, kehidupan di Pompeii sangat modern

Sebagian dari lukisan dinding (fresco) terkenal yang ditemukan di Vila Misteri di Pompeii, Italia.
Sebagian dari lukisan dinding (fresco) terkenal yang ditemukan di Vila Misteri di Pompeii, Italia. (commons.wikimedia.org/Martin Herbst.)

Dilansir National Geographic, sebelum bencana terjadi, Pompeii adalah kota pelabuhan dan pusat perdagangan yang sangat makmur dengan penduduk mencapai 30.000 jiwa. Terletak di tepi Teluk Napoli yang indah, kota ini menawarkan gaya hidup modern pada zamannya, lengkap dengan restoran cepat saji, pemandian umum, hingga teater megah. Di dekatnya, kota Herculaneum juga berdiri sebagai pos perdagangan yang dikagumi karena keindahannya di bawah bayang-bayang Gunung Vesuvius yang tampak tenang.

Meskipun tragedi ini menelan banyak korban, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak warga yang berhasil melarikan diri sebelum kota tertutup abu sepenuhnya. Melalui penelitian bertahun-tahun, para ahli berhasil melacak sekitar 200 penyintas yang membangun hidup baru di kota-kota tetangga yang lebih aman. Beberapa keluarga kaya berhasil menghidupkan kembali bisnis mereka di tempat baru, tetapi bagi keluarga miskin, kehidupan menjadi jauh lebih berat sehingga mereka harus saling bergantung dan mengadopsi anak-anak yatim piatu.

5. Arkeologi Pompeii: Sumber informasi terlengkap tentang peradaban Romawi

Arkeologis dari kota Romawi kuno Pompeii, yang secara khusus diidentifikasi sebagai Taberna Phoebi atau area toko roti.
Arkeologis dari kota Romawi kuno Pompeii, yang secara khusus diidentifikasi sebagai Taberna Phoebi atau area toko roti. (commons.wikimedia.org/Heinrich Stürzl)

Pompeii adalah sumber informasi yang luar biasa mengenai kehidupan sosial, ekonomi, dan politik dunia kuno karena kondisinya yang terawat sangat detail. Di sini, kita bisa melihat langsung bagaimana masyarakat kelas bawah hingga kelas atas menjalani keseharian mereka melalui toko roti yang masih memiliki oven dan roti utuh, pabrik pencucian wol, hingga kedai makanan dan penginapan. Bahkan, sisi religius keluarga Romawi terungkap melalui banyaknya tempat ibadah pribadi di dalam rumah yang ditemukan dalam kondisi baik.

Selain bangunan fisik seperti rumah pribadi, teater, dan amfiteater, Kota kuno ini juga menyimpan "suara" penduduknya melalui berbagai prasasti dan grafiti. Mulai dari pengumuman resmi pemilihan umum dan jadwal pertarungan gladiator, hingga catatan pribadi seperti pesan cinta, hinaan, bahkan coretan alfabet dari anak-anak yang belajar menulis di dinding.

6. Estetika yang lahir dari bencana

Sebuah exedra (ruangan atau ceruk dengan bangku) yang didekorasi dengan Gaya Keempat lukisan dinding Romawi, yang terletak di Rumah Dinding Merah (Casa delle Pareti rosse) di Pompeii. Struktur ini juga dikenal sebagai Tempat Penenunan Stephanus (Fullonica di Stephanus).
Sebuah exedra (ruangan atau ceruk dengan bangku) yang didekorasi dengan Gaya Keempat lukisan dinding Romawi, yang terletak di Rumah Dinding Merah (Casa delle Pareti rosse) di Pompeii. Struktur ini juga dikenal sebagai Tempat Penenunan Stephanus (Fullonica di Stephanus). (commons.wikimedia.org/Mary Harrsch)

"Red Pompeii" adalah istilah yang merujuk pada warna merah tua kecokelatan yang mendominasi dinding vila-vila kuno di Pompeii. Awalnya, warna ini dianggap sebagai pigmen merah mahal seperti cinnabar yang sengaja dipilih untuk menunjukkan kemewahan. Namun, penelitian modern mengungkap fakta mengejutkan bahwa banyak dinding yang sekarang berwarna merah sebenarnya awalnya adalah warna kuning oker. Saat Gunung Vesuvius meletus, gas panas dengan suhu di atas 700°C memicu reaksi kimia pada pigmen besi tersebut, sehingga mengubah warnanya secara permanen dari kuning menjadi merah. Hal ini pun mengubah pemahaman para ahli tentang tampilan asli kota yang ternyata jauh lebih berwarna kuning dibandingkan apa yang kita lihat sekarang.

Meskipun terjadi karena faktor ketidaksengajaan alam, tetapi warna merah ini telah menjadi referensi estetika dan budaya yang sangat berpengaruh sejak penemuan kembali kota kuno ini. Warna "Red Pompeii" menjadi favorit para bangsawan Eropa dan banyak ditiru dalam dekorasi istana, museum, hingga kafe-kafe mewah di Paris dan London pada abad ke-19. Meski sulit dibedakan antara merah yang asli dengan merah yang berubah akibat panas, warna ini tetap menjadi simbol keanggunan gaya Romawi yang abadi dan terus memikat imajinasi para seniman serta arsitek hingga saat ini.

7. Ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO

Sebuah arsip atau ruang penyimpanan, khususnya Forum Granaries (Horrea) di Pompeii, yang sekarang berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai artefak dan cetakan plester terkenal dari para korban letusan Gunung Vesuvius tahun 79 Masehi.
Sebuah arsip atau ruang penyimpanan, khususnya Forum Granaries (Horrea) di Pompeii, yang sekarang berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai artefak dan cetakan plester terkenal dari para korban letusan Gunung Vesuvius tahun 79 Masehi. (commons.wikimedia.org/Rodrigo Silva)

Pompeii, Herculaneum, dan Torre Annunziata secara kolektif ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1997 karena kemampuannya memberikan gambaran lengkap tentang kehidupan Romawi abad ke-1 Masehi. Sementara Pompeii dikenal sebagai kota perdagangan luas dengan bangunan publik megah seperti amfiteater dan forum, Herculaneum menawarkan detail yang lebih intim dan terawat. Karena terkubur oleh material vulkanik yang berbeda, Herculaneum berhasil melestarikan benda-benda organik yang langka, seperti struktur kayu rumah, furnitur, kain, hingga sisa makanan dan gulungan papirus kuno yang masih utuh.

Keistimewaan wilayah ini juga terpancar dari vila-vila mewah di pinggiran kota, seperti Vila Misteri di Pompeii dan Vila Poppaea di Torre Annunziata, yang menampilkan lukisan dinding serta fresko ilusionistik paling indah dari zaman Romawi. Selain arsitekturnya, sisa-sisa manusia yang ditemukan—baik melalui cetakan gips di Pompeii maupun kerangka asli di garis pantai Herculaneum—menjadi sumber data ilmiah yang tak ternilai untuk memahami kesehatan dan gaya hidup masa lalu.

Meskipun sempat terkubur ribuan tahun, Pompeii kini hadir sebagai museum terbuka paling penting yang menghubungkan manusia modern dengan realitas kehidupan bangsa Romawi kuno secara utuh, di mana keberadaannya telah memberikan wawasan luar biasa tentang sejarah. Sayangnya, situs ini juga menghadapi tantangan besar berupa kerusakan akibat cuaca, padatnya wisatawan, dan pertumbuhan tanaman liar. Oleh karena itu, berbagai upaya konservasi dan pemugaran terus digalakkan agar jutaan pengunjung dari seluruh dunia tetap bisa mempelajari dan mengagumi bukti peradaban masa lalu yang sangat langka ini hingga masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Petra, Kota Kuno Yordania yang Dikelilingi Tebing Batu Pasir

02 Feb 2026, 14:49 WIBScience