Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Fakta Ilmiah dari Cara Burung Terbang dan Mekanismenya

ilustrasi migrasi burung (pexels.com/A. G. Rosales)
ilustrasi migrasi burung (pexels.com/A. G. Rosales)
Intinya sih...
  • Bentuk sayap menciptakan gaya angkat
  • Kepakan sayap menghasilkan dorongan dan stabilitas
  • Struktur tulang ringan dan kuat, otot dada sebagai sumber utama
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kemampuan burung untuk terbang sebetulnya merupakan hasil dari proses adaptasi evolusi yang cukup kompleks. Proses ini pada umumnya melibatkan adanya interaksi antara struktur tubuh, otot, dan juga hukum fisika yang berlaku.

Secara ilmiah ternyata terbang bukan hanya sekadar mengepakkan sayap saja, sebab mekanismenya juga bekerja dengan prinsip aerodinamika yang terukur. SImaklah beberapa fakta ilmiah berikut ini tentang cara burung terbang dan mekanisme di baliknya.

1. Bentuk sayap menghasilkan gaya angkat

ilustrasi burung (pexels.com/Ilo Frey)
ilustrasi burung (pexels.com/Ilo Frey)

Sayap burung pada umumnya memiliki bentuk yang melengkung dan kerap disebut sebagai aerofoil. Bentuk tersebut menciptakan adanya perbedaan tekanan udara di bagian atas dan juga di bagian bawah sayap, sehingga memengaruhi cara terbangnya.

Tekanan yang lebih rendah di bagian atas nantinya bisa menghasilkan gaya angkat. Gaya tersebutlah yang dapat membantu burung untuk bisa terangkat dari permukaan tanah, sehingga bergerak dengan lebih bebas.

2. Kepakan sayap menghasilkan dorongan dan stabilitas

ilustrasi migrasi burung (pexels.com/A. G. Rosales)
ilustrasi migrasi burung (pexels.com/A. G. Rosales)

Kepakan sayap burung bukan hanya bergerak ke atas dan ke bawah, sehingga inilah yang membedakannya. Gerakan tersebut kerap kali membentuk adanya sudut yang bisa menciptakan dorong ke bagian depan.

Dorongan yang ada dapat membantu burung untuk tetap mempertahankan kecepatan ketika terbang di udara. Selain itu, variasi kepakan juga memegang peran penting dalam memastikan keseimbangan terbang burung di udara.

3. Struktur tulang yang ringan dan kuat

ilustrasi burung arctic tern (unsplash.com/Ralph Katieb)
ilustrasi burung arctic tern (unsplash.com/Ralph Katieb)

Tulang-tulang pada burung ternyata hampir sebagian besar berongga dan juga berisikan udara. Struktur ini ternyata bisa mengurangi berat tubuh tanpa mengorbankan kekuatan terbang yang dimilikinya.

Berat yang cenderung ringan ternyata membuat energi yang dibutuhkan burung untuk terbang pun menjadi jauh lebih efisien. Hal ini memungkinkan burung untuk bisa terbang dengan jarak yang jauh sekali pun tanpa masalah.

4. Otot dada sebagai sumber utama

ilustrasi burung camar (unsplash.com/Holger Hubbs)
ilustrasi burung camar (unsplash.com/Holger Hubbs)

Otot dada burung ternyata bisa berkembang lebih besar jika dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya. Otot dada pada burung berfungsi sebagai penggerap utama dari sayap saat terbang, sehingga bisa lebih efektif dan efisien.

Kontraksi otot yang kuat bisa menghasilkan energi yang besar untuk bisa melakukan kepakan sayap. Mekanisme ini sangat memungkinkan burung untuk bisa mengatur kecepatannya dengan efektif, termasuk menentukan ketinggian untuk terbang.

Cara burung terbang merupakan kombinasi sempurna antara struktur biologis dan prinsip fisika yang ada. Setiap bagian tubuh ternyata memiliki peran penting untuk bisa menjaga kemampuan terbang. Cara burung terbang ternyata memiliki mekanismenya tersendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Mengenai Bioluminesensi, Cara Kunang-Kunang Hasilkan Cahaya

02 Feb 2026, 13:59 WIBScience