Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Lingkaran Batu Senegambia, Monumen Megalitik di Afrika Barat
Lingkaran Batu Senegambia, khususnya Lingkaran Batu Wassu, sebuah monumen megalitik yang terletak di distrik Niani, Gambia, Afrika Barat. (commons.wikimedia.org/Niels Broekzitter)
  • Lingkaran Batu Senegambia di Gambia dan Senegal terdiri dari sekitar 29.000 pilar batu laterit yang membentuk ribuan monumen megalitik, tersebar di lebih dari 2.000 lokasi sepanjang 350 kilometer.
  • Situs ini berfungsi sebagai kompleks pemakaman kuno yang dibangun bertahap sejak abad ke-3 SM hingga abad ke-16 M, dengan temuan kerangka manusia, tembikar, dan bukti ritual pengorbanan.
  • Empat kompleks utama—Sine Ngayene, Wanar, Wassu, dan Kerr Batch—ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 2006, sementara identitas pembangunnya masih menjadi misteri hingga kini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di Afrika Barat, ada situs purbakala yang gak kalah misterius, namanya Lingkaran Batu Senegambia (atau Lingkaran Batu Wassu). Ribuan pilar batu raksasa ini berdiri tegak membentuk lingkaran sempurna di wilayah Gambia dan Senegal. Sampai sekarang, peninggalan kuno ini masih menyimpan teka-teki besar tentang siapa sebenarnya peradaban hebat yang membangunnya ribuan tahun lalu.

Yuk, langsung saja kita intip asal-usul dan fakta menarik di balik Lingkaran Batu Senegambia!

1. Punya skala yang sangat luas

Peta Lingkaran Batu Senegambia di Afrika Barat.. (commons.wikimedia.org/Sémhur/NordNordWest/UNESCO)

Lingkaran Batu Senegambia adalah monumen megalitik yang terletak di Gambia dan Senegal, Afrika Barat. Kumpulan batu unik ini berjejer rapi di sepanjang area utara Sungai Gambia dengan bentangan sejauh 350 kilometer. Keempat kelompok utama yang paling terkenal di kawasan ini adalah Sine Ngayene, Wanar, Wassu, dan Kerr Batch.

Jika dijumlahkan, di seluruh kawasan pelestarian tersebut tertanam sekitar 29.000 tiang batu kuno yang kokoh. Semua batu berukuran raksasa itu terbagi ke dalam sekitar 17.000 monumen purbakala yang sangat mengagumkan. Hebatnya lagi, peninggalan sejarah yang sangat luas ini tersebar di 2.000 titik lokasi yang berbeda.

2. Berfungsi sebagai kompleks pemakaman kuno

Lingkaran Batu Senegambia, khususnya Lingkaran Batu Wassu, sebuah monumen megalitik yang terletak di distrik Niani, Gambia, Afrika Barat. (commons.wikimedia.org/Ikiwaner)

Meskipun fungsi pastinya masih misterius, para ahli menemukan bukti bahwa lingkaran batu ini dulunya dipakai sebagai tempat pemakaman kuno. Proses pembangunannya ternyata tidak sekaligus, melainkan bertahap sejak abad ke-3 SM hingga abad ke-16 M. Di sekitar lokasi, para arkeolog juga banyak menemukan benda bersejarah seperti pecahan tembikar, kerangka manusia, serta barang-barang dari logam.

Menariknya, penggalian di beberapa titik menunjukkan adanya kuburan massal yang isinya tampak dikubur secara sembarangan. Para ahli menduga mereka adalah warga lokal yang meninggal bersamaan akibat wabah penyakit atau gugur dalam peperangan. Bahkan di situs lainnya, ada temuan menyeramkan yang menunjukkan kalau beberapa orang dulunya dikubur hidup-hidup sebagai bentuk ritual pengorbanan.

3. Keahlian memahat batu laterit

Lingkaran Batu Senegambia, khususnya Lingkaran Batu Wassu, sebuah monumen megalitik yang terletak di distrik Niani, Gambia, Afrika Barat. (commons.wikimedia.org/Peter van der Sluijs)

Setiap pilar batu raksasa di situs ini dipahat dari batu laterit, yaitu sejenis batuan kemerahan yang kaya akan kandungan besi. Masyarakat kuno memotong batu-batu ini langsung dari area tambang terdekat menggunakan peralatan besi yang masih sederhana. Hebatnya, mereka berhasil membentuknya secara terampil menjadi tiang-tiang silinder atau segi banyak dengan tinggi rata-rata 2 meter dan berat mencapai 7 ton.

Batu-batu besar ini ditanam tegak membentuk lingkaran dengan diameter antara 4–6 meter di setiap areanya. Penataannya pun bervariasi, mulai dari lingkaran tunggal, lingkaran ganda, hingga tiang yang sengaja dibuat berdiri terpisah sendirian. Tiang batu yang berdiri terpisah ini biasanya disebut sebagai batu frontal, atau disebut batu kecapi jika posisinya sejajar berpasangan.

4. Ditetapkan sebagai situs warisan dunia unesco pada tahun 2006

Lingkaran Batu Senegambia, khususnya Lingkaran Batu Kerr Batch, sebuah monumen megalitik yang terletak di Divisi Sungai Tengah Gambia. (commons.wikimedia.org/Ikiwaner)

Empat kompleks utama di kawasan ini resmi dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2006 lalu. Kompleks terbesar dipegang oleh Sine Ngayene di Senegal yang memiliki 52 lingkaran dan total 1.102 batu berukir. Masih di Senegal, ada situs Wanar yang punya 21 lingkaran batu unik, termasuk batu berbentuk mirip kecapi atau terbelah.

Sementara itu, wilayah Gambia memiliki situs Wassu yang terdiri dari 11 lingkaran dan terkenal karena punya tiang-tiang batu tertinggi. Selain Wassu, Gambia juga memiliki situs bernama Kerr Batch yang terdiri dari 9 lingkaran batu kuno. Menariknya, situs Kerr Batch ini menyimpan satu-satunya batu bercabang dua (bifid) yang pernah ditemukan di daerah tersebut.

5. Identitas sang pembangun masih menjadi misteri

Lingkaran Batu Senegambia, khususnya Lingkaran Batu Kerr Batch, sebuah monumen megalitik yang terletak di Divisi Sungai Tengah Gambia. (commons.wikimedia.org/Ikiwaner)

Hingga saat ini, para arkeolog dan ahli sejarah masih belum tahu pasti suku mana yang membangun monumen megalitik ini. Misteri ini sulit terpecahkan karena tidak ada satu pun suku modern di sana yang memiliki cerita penuturan turun-temurun tentang leluhur mereka sebagai pembangunnya. Meski begitu, struktur batu ini punya banyak kemiripan dengan tradisi pemakaman kuno milik beberapa suku lokal seperti suku Serer, Konyagui, dan Bassari.

Seorang sejarawan terkenal bernama Cheikh Anta Diop menduga kuat kalau suku Serer adalah dalang di balik pembangunan monumen ini. Cerita rakyat dari suku Wolof dan Fula juga mendukung teori tersebut dengan menyebut suku Serer sebagai arsiteknya. Namun uniknya, suku Serer sendiri justru percaya bahwa batu-batu itu dibangun oleh kelompok misterius terdahulu yang mereka sebut sebagai orang-orang Sose.

Teori lain menyebutkan bahwa pembangun aslinya adalah suku kuno yang perlahan tergeser ke arah selatan akibat kedatangan suku-suku modern. Salah satu kandidat kuatnya adalah suku Bassari yang saat ini tinggal di wilayah Senegal bagian tenggara. Sampai sekarang, suku Bassari ternyata masih menjaga tradisi mengubur tokoh penting mereka di dalam gubuk batu dengan cara yang sangat mirip dengan situs lingkaran batu ini.

Meskipun penciptanya masih menjadi teka-teki, Lingkaran Batu Senegambia tetap menjadi peninggalan sejarah luar biasa yang membuktikan kehebatan peradaban Afrika kuno. Warisan dunia yang begitu berharga ini menjadi pengingat bagi kita semua akan kayanya sejarah kemanusiaan yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article