Lingkaran Batu Senegambia, khususnya Lingkaran Batu Kerr Batch, sebuah monumen megalitik yang terletak di Divisi Sungai Tengah Gambia. (commons.wikimedia.org/Ikiwaner)
Hingga saat ini, para arkeolog dan ahli sejarah masih belum tahu pasti suku mana yang membangun monumen megalitik ini. Misteri ini sulit terpecahkan karena tidak ada satu pun suku modern di sana yang memiliki cerita penuturan turun-temurun tentang leluhur mereka sebagai pembangunnya. Meski begitu, struktur batu ini punya banyak kemiripan dengan tradisi pemakaman kuno milik beberapa suku lokal seperti suku Serer, Konyagui, dan Bassari.
Seorang sejarawan terkenal bernama Cheikh Anta Diop menduga kuat kalau suku Serer adalah dalang di balik pembangunan monumen ini. Cerita rakyat dari suku Wolof dan Fula juga mendukung teori tersebut dengan menyebut suku Serer sebagai arsiteknya. Namun uniknya, suku Serer sendiri justru percaya bahwa batu-batu itu dibangun oleh kelompok misterius terdahulu yang mereka sebut sebagai orang-orang Sose.
Teori lain menyebutkan bahwa pembangun aslinya adalah suku kuno yang perlahan tergeser ke arah selatan akibat kedatangan suku-suku modern. Salah satu kandidat kuatnya adalah suku Bassari yang saat ini tinggal di wilayah Senegal bagian tenggara. Sampai sekarang, suku Bassari ternyata masih menjaga tradisi mengubur tokoh penting mereka di dalam gubuk batu dengan cara yang sangat mirip dengan situs lingkaran batu ini.
Meskipun penciptanya masih menjadi teka-teki, Lingkaran Batu Senegambia tetap menjadi peninggalan sejarah luar biasa yang membuktikan kehebatan peradaban Afrika kuno. Warisan dunia yang begitu berharga ini menjadi pengingat bagi kita semua akan kayanya sejarah kemanusiaan yang harus terus dijaga dan dilestarikan.