Sebagai hewan yang berbahaya dan mematikan, ada banyak mitos bertebaran mengenai ular berbisa. Semua mitos tersebut menyebar dengan cepat di kalangan masyarakat. Salah satu mitos tentang ular berbisa terpopuler menyatakan kalau kobra bisa bergoyang mengikuti alunan musik. Di sisi lain, ada yang menganggap kalau ular berbisa pasti punya kepala segitiga.
5 Mitos tentang Ular Berbisa yang Tak Terbukti Secara Ilmiah

- Tidak semua ular berbisa berbahaya bagi manusia; efek gigitannya bervariasi dari ringan hingga fatal tergantung jenis dan kekuatan bisanya.
- Ciri fisik seperti kepala segitiga atau pupil vertikal tidak selalu menandakan ular berbisa, karena tiap famili memiliki karakteristik berbeda di berbagai wilayah.
- Banyak mitos tentang ular berbisa, termasuk kobra yang dianggap menari mengikuti musik dan warna tubuh tertentu, terbukti tidak akurat secara ilmiah.
Mitos terkait ular berbisa punya pupil mata vertikal juga merebak di banyak daerah. Ada juga mitos yang menganggap kalau semua ular berbisa pasti berbahaya dan mematikan. Mau tahu kenyataan dan fakta di balik semua mitos tersebut? Yuk, simak kebenaran dan penjelasan ilmiahnya lewat artikel berikut.
1. Semua ular berbisa berbahaya

Laman National History Museum menjelaskan kalau tak semua ular berbisa berbahaya bagi manusia. Pasalnya, gigitan ular berbisa memiliki efek yang berbeda, seperti efek ringan, menengah, hingga fatal. Berdasarkan kekuatan bisanya, ular berbisa dibagi menjadi berbisa rendah, menengah, dan tinggi. Contoh ular berbisa redah adalah Ahaetulla prasina (ular pucuk) yang tidak berbahaya. Di sisi lain, Boiga (ular kucing) berbisa menengah dan gigitannya hanya menyebabkan bengkak atau demam. Sementara itu, ular kobra, taipan, dan ular laut masuk jenis berbisa tinggi yang mampu membunuh.
2. Ular berbisa dicirikan dari kepala segitiga

Berkembang mitos kalau ular berbisa bisa dikenali dari kepala berbentuk segitiga. Menariknya, mitos ini hanya setengah salah. Penjelasannya, ular kepala segitiga biasanya merujuk pada spesies dari famili Viperidae. Semua spesies Viperidae adalah ular berbisa tinggi dan berbahaya. Namun, tak semua ular berbisa merupakan famili Viperidae. Artinya, banyak ular berbisa yang kepalanya tak berbentuk segitiga.
Laman Lincoln Park Zoo menerangkan kalau ciri fisik, bentuk kepala, atau bentuk tubuh tak bisa menjadi patokan tingkat bahaya ular. Untuk mengidentifikasi ular berbisa atau tidak, kamu harus paham soal morfologi, jenis, hingga keberagaman spesies ular. Menariknya, mitos ular berbisa berkepala segitiga bisa valid di Amerika Utara. Sebab, kebanyakan ular berbisa di sana berasal dari famili Viperidae.
3. Ular berbisa punya pupil vertikal

Mitos ini serupa dengan mitos tentang ular berbisa berkepala segitiga. Jika diaplikasikan di Amerika Utara, maka mitos ini cukup valid. Pasalnya, pupil vertikal merupakan salah satu ciri khas utama dari famili Viperidae yang berbisa dan populasinya sangat melimpah di benua tersebut. Namun, ular berbisa lain seperti dari famili Elapidae tidak memiliki pupil vertikal.
Contohnya, laman African Snakebite Institute menjelaskan bahwa di Afrika ada banyak ular berbisa tinggi dan berbahaya dengan pupil bulat. Sebab, keberagaman ular berbisa di Afrika sangat berlimpah. Afrika dihuni oleh berbagai jenis ular, entah itu dari famili Viperidae, Elapidae, hingga Colubridae. Lagipula, bentuk pupil menandakan kemampuan penglihatan dan kebiasaan, bukan kandungan bisa.
4. Ular kobra menari mengikuti alunan musik

Di banyak negara Asia seperti India, kobra yang merupakan ular berbisa sering dijadikan pertunjukan. Biasanya kobra akan dikeluarkan dari sebuah wadah, seseorang akan memainkan seruling, dan nantinya ular tersebut akan "menari" mengikuti alunan musik tersebut. Namun, hal tersebut tak sepenuhnya benar karena gerakan "menari" kobra tidak dipengaruhi oleh musik.
Dilansir A-Z Animals, tarian kobra yang bergerak ke kanan dan kiri sebenarnya mengikuti pergerakan seruling yang dimainkan. Sejatinya ular sendiri tidak punya telinga sehingga tak bisa mendengar alunan musik dari seruling. Kobra yang berdiri dan mengembangkan tudung juga bukan isyarat untuk menari. Menurut Indian Times, hal tersebut adalah posisi siaga di mana ular sudah siap untuk menyerang.
5. Ular berbisa punya warna yang tidak mencolok

Lagi-lagi mitos ini hanya berlaku dan valid jika diterapkan di wilayah Amerika Utara. Di sana, Viperidae yang merupakan ular berbisa hanya memiliki warna gelap seperti cokelat, abu-abu, atau hitam. Di sisi lain, ular berwarna hijau, merah, atau kuning umumnya adalah ular tikus atau ular rumput yang kecil dan tidak berbahaya. Namun, di belahan dunia lain hal tersebut tidak berlaku.
Dilansir The Orianne Society, salah satu ular berbisa tinggi dengan warna adalah ular karang. Ular tersebut berukuran kecil hingga sedang dan umumnya punya tubuh berwarna merah, kuning, jingga, hingga biru. Warna cerah tersebut disebut kolorasi aposematik yang ditunjukan untuk memperingati predator. Ular welang, weling, dan viper pohon yang berbisa juga banyak yang punya warna cerah.
Berbagai mitos tentang ular berbisa hanya didasarkan pada informasi yang minim. Contohnya, mitos tersebut berangkat dari kesalahpahaman, ketidaktahuan, serta informasi yang hanya cocok diterapkan di satu daerah. Maka dari itu, kita harus cermat dan jangan termakan oleh semua mitosnya. Agar terhindari dari ular berbisa, kamu harus memahami lingkungan dan spesies ular yang ada di sekitar.

![[QUIZ] Kami Bisa Tahu Sifat Aslimu dari Benda Langit yang Kamu Pilih](https://image.idntimes.com/post/20240402/denis-degioanni-9wh624alfqa-unsplash-2018ca5434f21e23a695b8e1f5ff0b85.jpg)
















