5 Fakta Masjid Schwetzingen, Masjid Tertua yang Ada di Jerman

- Masjid Schwetzingen dibangun atas perintah Pangeran Charles Theodore pada abad ke-18 dengan gaya arsitektur campuran Timur dan Barat, serta direstorasi besar-besaran hingga tahun 2007.
- Meskipun disebut masjid, bangunan ini awalnya tidak difungsikan untuk ibadah karena tidak memiliki fasilitas ritual lengkap, namun sempat digunakan salat oleh tawanan perang dan komunitas Muslim.
- Dihiasi prasasti Arab bernilai universal, Masjid Schwetzingen menjadi simbol toleransi dan pencerahan budaya yang kini menjadi daya tarik wisata bersejarah di kompleks Istana Schwetzingen.
Terletak di dalam kemegahan Istana Schwetzingen, sebuah kompleks istana musim panas yang terkenal dengan taman-taman indahnya di Jerman, berdiri sebuah bangunan yang sangat mencuri perhatian, yaitu Masjid Schwetzingen. Meskipun berada di jantung Eropa, bangunan ini menampilkan pesona arsitektur Timur yang megah dan penuh makna, seolah membawa kita melintasi batas budaya dan waktu.
Bentuknya memang menyerupai tempat ibadah, tetapi masjid tertua di Jerman ini sebenarnya menyimpan rahasia unik tentang tujuan awal pembangunannya. Apa itu?
Mari kita telusuri lebih dalam lima fakta menarik Masjid Schwetzingen dalam artikel berikut ini!
1. Dibangun atas perintah Pangeran Charles Theodore

Masjid Schwetzingen, atau Masjid Merah di Schwetzingen dibangun oleh arsitek Prancis, Nicolas de Pigage, atas perintah Pangeran Charles Theodore dengan gaya campuran yang meniru arsitektur Ottoman. Proses pembangunannya dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembuatan "Taman Turki" pada tahun 1776, lalu diikuti pembangunan masjid pada 1779, hingga akhirnya menara-menaranya tuntas pada tahun 1795. Meskipun saat itu pusat pemerintahan telah pindah ke Munich, proyek ini tetap dijalankan dengan biaya yang sangat fantastis, sehingga menjadi bangunan paling mahal di seluruh area taman tersebut.
Seiring berjalannya waktu, kompleks istana ini terus dirawat dan dipugar agar tetap sesuai dengan desain aslinya. Proyek restorasi besar-besaran dimulai pada tahun 1990-an dan baru selesai pada tahun 2007 dengan dukungan dana yang sangat besar dari negara bagian Baden-Württemberg. Pemerintah setempat menginvestasikan dana hingga jutaan Euro untuk memperbaiki bagian luar, lorong, hingga interior masjid demi menjaga kelestarian sejarah dan keindahan arsitekturnya yang unik.
2. Perpaduan arsitektur Timur dan Barat

Meskipun gaya arsitekturnya disebut sebagai "Masjid Turki", bangunan ini sebenarnya memiliki perbedaan mencolok dengan masjid pada umumnya. Jika masjid asli biasanya memiliki eksterior sederhana dengan halaman dalam yang mewah, Masjid Schwetzingen justru tampil sebaliknya. Arsitekturnya merupakan perpaduan unik karena memiliki serambi yang mirip biara Kristen, desain kubah yang meniru Katedral St. Paul di London, serta menara yang secara keseluruhan lebih mengingatkan pada gaya Gereja St. Charles di Wina daripada tempat ibadah Muslim tradisional.
Bangunan ini juga memiliki filosofi yang mendalam dalam konteks spiritual dan mental. Peneliti seperti Jan Snoek mengaitkan desainnya dengan simbolisme Masonik, di mana langit-langit yang dihiasi motif bintang melambangkan keindahan malam dan langit. Dekorasi tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan sebuah simbol tentang kehidupan setelah kematian dan perjalanan spiritual manusia dalam mencari pencerahan.
3. Bukan dibangun untuk ibadah

Masjid Schwetzingen memiliki perbedaan mendasar dengan masjid pada umumnya, terutama pada tata letak dan fasilitas ibadahnya. Jika biasanya sebuah masjid memiliki eksterior sederhana dengan halaman dalam yang dihiasi indah, bangunan ini justru tampil sebaliknya. Selain itu, gedung ini tidak dilengkapi dengan fasilitas ritual utama seperti tempat wudu, mimbar untuk ceramah, maupun mihrab yang berfungsi sebagai penanda arah kiblat menuju Mekah.
Meskipun secara fisik tidak memiliki perlengkapan liturgi yang lengkap, bangunan ini tetap memiliki ciri khas berupa ruang salat berkubah dan dua menara tinggi. Menariknya, terlepas dari desainnya yang lebih menonjolkan fungsi estetika taman, bangunan ini sempat digunakan untuk ibadah yang sebenarnya dalam catatan sejarah. Hal ini terjadi saat tawanan perang asal Afrika Utara (Maghreb) ditempatkan di sana setelah Perang Prancis-Prusia, serta kembali difungsikan sebagai tempat salat pada tahun 1980-an.
4. Ada pesan universal dalam prasasti Arab yang unik

Masjid Schwetzingen dihiasi dengan 23 prasasti Arab yang unik, di mana sebagian besar teksnya berisi pesan moral dan etika universal, bukan sekadar ajaran agama tertentu. Prasasti-prasasti ini tersebar di bagian luar maupun dalam bangunan, biasanya disusun dengan aksara Arab di bagian atas dan terjemahan bahasa Jerman di bawahnya. Menariknya, para peneliti menemukan banyak kesalahan penulisan tanda baca pada ukiran tersebut, yang menunjukkan bahwa seniman pembuatnya kemungkinan besar tidak menguasai bahasa Arab dan hanya menyalin teks dari contoh cetakan yang sudah ada.
Meskipun mayoritas teksnya berbicara tentang nilai kemanusiaan seperti ketekunan dan kebijaksanaan, sisi barat bangunan memiliki kekhasan tersendiri karena hanya menggunakan aksara Arab tanpa terjemahan. Bagian ini mengandung pesan keagamaan yang kuat, termasuk kalimat syahadat "Tiada Tuhan selain Allah" serta potongan ayat Al-Qur'an dan doa-doa pendek. Pesan-pesan tersebut mengajak pengunjung untuk merenungi konsep ketuhanan, pentingnya berbagi melalui sedekah sebelum ajal menjemput, serta permohonan ampun kepada Sang Pencipta.
5. Simbol toleransi dan pencerahan

Atas perintah Pangeran Charles Theodore, Masjid Schwetzingen dibangun sebagai simbol toleransi dan penghormatan terhadap kekayaan budaya dunia Islam. Sebagai satu-satunya masjid taman dari abad ke-18 yang masih tersisa, bangunan ini dirancang untuk menunjukkan bahwa kebijaksanaan bersifat universal dan bisa datang dari mana saja. Pengunjung yang datang dapat menikmati keindahan tiang-tiang marmer, ukiran bintang di langit-langit yang melambangkan dimensi spiritual, serta membaca berbagai kutipan bijak dalam dua bahasa yang menghiasi dinding dan kubahnya.
Saat ini, masjid tersebut menjadi daya tarik wisata utama, terutama pada musim semi dan panas ketika taman di sekitarnya bermekaran dengan indah. Suasana di sana menawarkan perpaduan unik antara taman bergaya Turki yang tenang dengan kemegahan arsitektur Barok Eropa. Menjadi bagian penting dari kompleks istana Schwetzingen, masjid ini berdiri berdampingan dengan situs bersejarah lainnya seperti teater Rococo dan taman klasik, menjadikannya ruang refleksi yang memadukan keindahan visual dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Masjid Schwetzingen berdiri sebagai bangunan masjid tertua di Jerman yang keindahannya tetap terjaga selama lebih dari dua abad meski awalnya hanya dibangun sebagai elemen dekoratif taman. Meskipun saat ini statusnya masih terdaftar sebagai calon (daftar tentatif) dan belum resmi menjadi situs Warisan Dunia UNESCO secara mandiri, tetapi situs ini tetap diakui sebagai salah satu warisan budaya paling penting dan paling dijaga di wilayah Jerman.

















