Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Kota Kolmanskop di Namibia Benar-Benar Dikubur Pasir Hidup?

Apakah Kota Kolmanskop di Namibia Benar-Benar Dikubur Pasir Hidup?
Kolmanskop (commons.wikimedia.org/GIRAUD Patrick)
Intinya Sih
  • Kolmanskop dulunya kota tambang berlian kaya buatan Jerman, kini ditinggalkan sejak 1950-an dan perlahan tertelan pasir gurun Namib yang terus bergerak tanpa henti.
  • Bangunan di Kolmanskop tidak runtuh, tapi ruang-ruangnya terisi pasir halus hingga setinggi jendela akibat angin konstan dari Samudra Atlantik yang membawa butiran pasir setiap hari.
  • Kini Kolmanskop dijaga untuk wisata dan riset ilmiah, menjadi laboratorium alami bagi peneliti geomorfologi dan iklim guna memahami proses desertifikasi serta dampak lingkungan ekstrem pada permukiman manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kolmanskop pernah jadi salah satu kota terkaya di Afrika bagian selatan. Kota ini penuh gedung mewah, rumah sakit, bahkan lapangan bowling di tengah gurun Namibia. Kota ini dibangun Jerman pada awal 1900-an setelah ditemukannya berlian di kawasan tersebut.

Tapi begitu tambang berlian mulai habis sekitar tahun 1950-an, penduduknya pergi begitu saja dan meninggalkan semua yang ada. Sekarang yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan tua yang perlahan tenggelam ke dalam pasir. Lantas, apakah kota ini benar-benar dikubur pasir hidup?

1. Gurun Namib menggerakkan pasirnya secara aktif setiap hari

Kolmanskop
Kolmanskop (commons.wikimedia.org/Johan Jönsson)

Gurun Namib di Namibia adalah salah satu gurun tertua di dunia dengan usia sekitar 55 juta tahun dan anginnya tidak pernah benar-benar berhenti bertiup. Angin dari Samudra Atlantik mendorong pasir halus masuk ke daratan dengan kecepatan rata-rata 20 hingga 30 kilometer per jam setiap harinya. Pasir di kawasan ini tergolong sangat halus sehingga mudah tersapu angin dan masuk ke celah sekecil apa pun termasuk jendela, pintu, bahkan retakan di dinding bangunan.

Dalam satu tahun, tumpukan pasir di dalam beberapa rumah di Kolmanskop bisa mencapai setengah tinggi ruangan. Tidak ada yang memperlambatnya karena tidak ada vegetasi di sekitar kota yang bisa menahan laju pasir. Proses ini berlangsung konsisten tanpa jeda musim, menjadikan Kolmanskop salah satu contoh paling ekstrem dari apa yang disebut sebagai aeolian deposition yaitu penumpukan material oleh angin.

2. Bangunan di Kolmanskop tidak runtuh, tapi tertelan dari dalam

Kolmanskop
Kolmanskop (commons.wikimedia.org/Johan Jönsson)

Sebagian besar struktur bangunan di Kolmanskop masih berdiri karena dibangun dengan bata dan semen berkualitas tinggi oleh insinyur Jerman. Namun, yang terjadi bukan keruntuhan, melainkan pengisian ruang interior oleh pasir yang masuk terus-menerus. Beberapa ruangan sudah terisi pasir sampai setinggi kusen jendela bagian atas, sementara ruangan lain baru terisi sepertiganya tergantung arah bukaan dan posisi bangunan terhadap angin.

Fenomena ini membuat Kolmanskop tampak seperti bangunan yang sedang "dimakan" dari dalam. Pasir tidak menghancurkan tembok, tapi secara bertahap mengambil alih fungsi ruang yang pernah ada di dalamnya. Ini yang membuat foto-fotonya selalu dramatis di media sosial seperti kursi, lemari, dan sisa furnitur masih ada tapi sudah setengah tertimbun pasir seolah waktu berhenti di satu titik.

3. Pasir di sana bergerak dalam pola yang bisa diprediksi

Kolmanskop
Kolmanskop (commons.wikimedia.org/Olga Ernst)

Pergerakan pasir di Kolmanskop bukan terjadi secara random. Ke mana pasir akan bergerak berdasarkan data angin, ukuran butiran pasir, dan topografi kawasan sekitarnya semua bisa diprediksi. Butiran pasir di gurun Namib berdiameter rata-rata 0,2 hingga 0,3 milimeter, termasuk kategori fine sand yang sangat responsif terhadap perubahan kecepatan angin. Sand drift di kawasan ini bergerak dominan dari arah barat daya mengikuti pola angin yang sudah berlangsung ribuan tahun.

Karena polanya konsisten, bisa diestimasi seberapa cepat satu bangunan akan penuh pasir dalam jangka waktu tertentu. Tanpa intervensi manusia, sebagian ruangan di Kolmanskop akan terisi penuh dalam kurun 30 hingga 50 tahun ke depan. Hal ini juga digunakan untuk memahami bagaimana desertifikasi bekerja di kawasan lain di Afrika yang masih berpenghuni.

4. Kolmanskop secara resmi dijaga tapi pasirnya tetap tidak bisa dihentikan

Kolmanskop
Kolmanskop (commons.wikimedia.org/Johan Jönsson)

Kolmanskop sekarang dikelola oleh perusahaan bernama Namdeb Diamond Corporation dan masuk dalam kawasan yang memerlukan izin khusus untuk dikunjungi. Sebagian bangunan direstorasi untuk keperluan wisata dan ada tim yang secara rutin membersihkan pasir dari beberapa titik agar akses pengunjung tetap aman. Tapi upaya ini hanya memperlambat proses di titik-titik tertentu, bukan menghentikannya secara keseluruhan.

Di luar area yang dijaga, pasir terus bergerak tanpa gangguan. Bangunan-bangunan yang tidak masuk dalam program restorasi dibiarkan dan kondisinya berubah setiap tahun. Para fotografer yang datang dua hingga tiga tahun sekali melaporkan perbedaan ketinggian pasir yang cukup signifikan bahkan dalam jeda waktu yang singkat.

5. Kolmanskop jadi laboratorium alami untuk studi erosi dan perubahan iklim

Kolmanskop
Kolmanskop (commons.wikimedia.org/Johan Jönsson)

Kolmanskop digunakan sebagai semacam laboratorium terbuka untuk mempelajari bagaimana lingkungan gurun berinteraksi dengan struktur buatan manusia dalam jangka panjang. Kondisinya ideal untuk riset karena variabelnya relatif terkontrol. Yakni kondisi tidak ada aktivitas manusia yang mengacaukan data, bangunannya dari material yang diketahui spesifikasinya, dan catatan sejarahnya lengkap sejak awal pembangunan.

Banyak peneliti dari bidang geomorfologi dan klimatologi dari seluruh dunia yang menggunakan data dari kawasan ini untuk memahami laju desertifikasi di wilayah gurun lain yang lebih aktif secara demografis. Selain itu, Kolmanskop juga jadi referensi yang kuat untuk memahami apa yang bisa terjadi pada kawasan permukiman manusia jika aktivitas manusia berhenti dan alam dibiarkan mengambil alih. Beberapa model proyeksi perubahan iklim menggunakan kondisi Kolmanskop sebagai titik acuan untuk menggambarkan skenario abandonment atau peninggalan kota akibat kondisi lingkungan ekstrem di masa depan.

Kolmanskop bukan sekadar kota hantu yang fotogenik untuk konten traveling. Di balik estetikanya, ada proses geologi yang berlangsung setiap hari dengan kecepatan yang bisa diukur dan diprediksi. Apakah ada kota lain di dunia yang sedang mengalami proses serupa?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Science

See More