Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Unik Antelop Saiga, si Hidung Belalai dari Stepa

5 Fakta Unik Antelop Saiga, si Hidung Belalai dari Stepa
antelop saiga (Andrey Giljov, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Antelop saiga dikenal dengan hidung besar mirip belalai yang berfungsi menghangatkan udara dingin, menyaring debu, serta membantu komunikasi dan pemilihan pasangan di habitat stepa Asia Tengah.
  • Saiga merupakan hewan nomaden yang bermigrasi ribuan kilometer setiap tahun, hidup berkelompok besar, dan mengalami musim kawin intens yang sering menyebabkan kematian pejantan karena kelelahan.
  • Populasi saiga kini kritis akibat perburuan tanduk untuk pengobatan tradisional, penyakit massal, perubahan iklim ekstrem, serta kerusakan habitat dan hambatan migrasi alami.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di tengah padang rumput dan semi-gurun yang luas membentang di Asia Tengah, ada seekor makhluk unik yang mencuri perhatian dengan penampilan tidak biasa. Antelop saiga, dengan hidung besar dan menggembung yang menjuntai di atas mulutnya, seringkali disamakan dengan unta berukuran kambing atau domba kecil karena fitur tersebut. Namun, di balik rupa yang khas itu, tersembunyi sebuah kisah perjuangan yang memilukan.

Populasi antelop saiga saat ini hanya ditemukan di beberapa wilayah di Rusia, Kazakhstan, dan Mongolia, padahal jangkauan mereka dulunya sangat luas hingga ke Eropa Timur dan Tiongkok. Spesies yang dulunya melimpah ini kini menghadapi ancaman serius yang menempatkannya dalam status Kritis Terancam Punah. Berbagai faktor, mulai dari perburuan ilegal hingga perubahan iklim ekstrem, turut berkontribusi pada penurunan drastis jumlah mereka.

1. Hidung belalai yang multi-fungsi membantu saiga bertahan hidup

antelop saiga
antelop saiga (Navinder Singh, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Salah satu fitur paling mencolok dari antelop saiga adalah hidungnya yang besar, lentur, dan menggembung, mirip belalai kecil yang menjuntai ke bawah. Hidung ini bukan sekadar pajangan unik, melainkan adaptasi luar biasa yang sangat penting untuk bertahan hidup di habitatnya. Struktur internal hidung saiga sangat kompleks, dilapisi dengan rambut halus, kelenjar, dan saluran lendir.

Fungsi utama hidung ini adalah untuk menghangatkan udara dingin yang dihirup saat musim dingin ekstrem di stepa, serta menyaring debu yang beterbangan selama musim panas yang kering. Kemampuannya dalam menyesuaikan suhu dan membersihkan udara menjadikan hidung saiga alat bertahan hidup yang sangat efisien. Menurut laporan San Diego Zoo Wildlife Alliance, hidung ini juga berperan dalam komunikasi dan pemilihan pasangan. Suara sengauan keras yang dihasilkan jantan diduga digunakan untuk menunjukkan ukuran tubuh dan kondisi kesehatan mereka, yang membantu menarik betina.

2. Nomaden sejati yang menempuh ribuan kilometer

antelop saiga
antelop saiga (Andrey Giljov, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Antelop saiga adalah hewan sosial yang hidup dan bermigrasi dalam kawanan besar. Mereka dikenal sebagai pengembara ulung yang mampu menempuh jarak sangat jauh untuk mencari padang rumput dan menghindari bencana alam. Beberapa populasi saiga bahkan bisa melakukan perjalanan hingga 80-120 kilometer dalam sehari.

Migrasi besar-besaran ini biasanya terjadi di awal musim semi, di mana kawanan jantan bisa mencapai ribuan individu dan bergerak di depan kawanan betina. Kawanan betina kemudian akan berkumpul di area tertentu untuk melahirkan secara bersamaan (synchronized birthers). Setelah musim kawin yang berlangsung sekitar Desember hingga Januari, saiga jantan akan sangat kelelahan karena harus mempertahankan haremnya yang berisi 30 hingga 50 betina dari pejantan lain. Perkelahian brutal sering terjadi dan bisa berakhir fatal bagi yang kalah, dan banyak pejantan yang mati karena kelelahan setelah musim kawin.

3. Ancaman kepunahan mengintai di setiap sudut

antelop saiga
antelop saiga (Лариса Артемьева, CC0, via Wikimedia Commons)

Meskipun terlihat tangguh, populasi saiga antelop mengalami penurunan drastis, salah satu yang tercepat di antara mamalia besar dalam sejarah baru-baru ini. Saat ini, spesies ini terdaftar sebagai Kritis Terancam Punah oleh IUCN Red List. Salah satu penyebab utama adalah perburuan berlebihan, baik untuk diambil dagingnya maupun tanduknya yang sangat berharga.

Selain itu, saiga juga menghadapi ancaman dari penyakit. Pada Mei 2015, sekitar 200.000 individu saiga mati di Kazakhstan akibat bakteri Pasteurella multocida, yang biasanya tidak berbahaya, namun menjadi mematikan akibat perubahan iklim ekstrem yang membuat cuaca dingin menjadi hangat dan lembab secara tiba-tiba. Perusakan habitat, persaingan dengan ternak, dan pembangunan pagar pembatas migrasi juga memperparah kondisi mereka.

4. Tanduknya menjadi incaran dalam pengobatan tradisional

antelop saiga
antelop saiga (U.S. Fish and Wildlife Service Headquarters, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Hanya saiga jantan yang memiliki tanduk. Tanduknya berwarna lilin kekuningan, sedikit transparan, dengan cincin-cincin di sekitar dua pertiga pangkalnya, dan bisa tumbuh antara 15 hingga 25 sentimeter. Tanduk ini adalah alasan utama mengapa saiga menjadi target perburuan ilegal.

Diperdagangkan dengan nama cornu antelopis, tanduk saiga sangat dicari dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk berbagai ramuan dan diyakini mampu menurunkan demam. Fakta Animal menyebutkan bahwa pelarangan tanduk badak pada tahun 1993 semakin mendorong pergeseran permintaan ke tanduk saiga, menjadikannya alternatif yang logis dan terjangkau. Meskipun perburuan dan perdagangan tanduk saiga ilegal, produk-produk ini masih mudah ditemukan dan dijual secara terbuka di berbagai tempat.

5. Adaptasi fisik untuk lingkungan ekstrem

antelop saiga
antelop saiga (Vladimir Yu. Arkhipov, Arkhivov, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Saiga antelop memiliki panjang tubuh antara 100 hingga 140 sentimeter dan berat 25 hingga 70 kilogram. Mereka memiliki kaki yang panjang dan ramping, yang memungkinkan mereka berlari sangat cepat, mencapai kecepatan 80 kilometer per jam saat melarikan diri dari predator seperti serigala. Penglihatan saiga sangat tajam, bahkan mereka bisa mendeteksi bahaya dari jarak satu kilometer, meskipun indra pendengaran dan penciuman mereka tidak terlalu berkembang.

Bulu saiga juga menyesuaikan diri dengan musim. Saat musim panas, bulunya berwarna krem kekuningan hingga kemerahan kecokelatan di bagian atas tubuh dan lebih terang di bagian bawah. Namun, saat musim dingin, bulu mereka menjadi sangat tebal, padat, dan warnanya lebih pucat atau abu-abu kusam, bahkan bisa dua kali lebih panjang dan 70 persen lebih tebal untuk melindungi dari suhu ekstrem. Anak saiga yang baru lahir sangat mandiri, bahkan bisa berlari lebih cepat dari manusia pada hari kedua kelahirannya.

Kisah antelop saiga adalah pengingat betapa rentannya kehidupan liar di hadapan aktivitas manusia dan perubahan lingkungan. Berbagai organisasi konservasi global, seperti San Diego Zoo Wildlife Alliance dan Saiga Conservation Alliance, terus berupaya melindungi spesies ini melalui pendidikan, patroli anti-perburuan, dan perencanaan strategis. Harapannya, dengan upaya kolektif, si hidung belalai dari stepa ini dapat terus berlarian bebas di habitat aslinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More