5 Fakta Unik Junco Bermata Gelap, Mampu Hidup di Wilayah Arktik!

Burung jadi salah satu hewan yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Bagaimana tidak, hewan yang bisa terbang ini kerap dipelihara, dimakan, sampai berkeliaran di taman dan area pemukiman. Karena hal tersebut orang-orang tidak takut dan sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran burung. Tentunya semua hal tersebut juga berlaku bagi spesies burung kecil bernama junco bermata gelap atau Junco hyemalis.
Junco bermata gelap tergolong sebagai burung berukuran kecil yang terkadang memakan serangga. Dengan ukurannya yang kecil ia juga bisa terbang dengan cepat dan lincah. Bahkan tubuhnya yang berwarna gelap juga mudah dikenali dan bisa digunakan untuk berkamuflase, lho. Namun tak hanya itu, nyatanya burung ini punya banyak keunikan yang dapat dilihat dari klasifikasinya, kebiasaannya, perawakannya, habitatnya, sampai penyebarannya!
1. Punya banyak subspesies dengan warna yang bervariasi

Jika berbicara tentang keanekaragaman subspesies, mungkin burung kecil ini jadi salah burung dengan subspesies paling banyak. Bagaimana tidak, sampai saat ini saja tercatat kalau junco bermata gelap memiliki 15 subspesies, jelas IOC World Bird List. Beberapa subspesiesnya adalah Junco hyemalis hyemalis, Junco hyemalis aikeni, Junco hyemalis oreganus, Junco hyemalis pinosus, dan Junco hyemalis dorsalis. Bahkan ia juga punya subspesies hybrid, yaitu J. h. hyemalis x J. h. oreganus.
Tiap subspesies secara khusus memang punya ciri fisik yang berbeda, namun untuk kemudahan identifikasi subspesiesnya dibagi lagi menjadi enam kategori. Kategori-kategori tersebut adalah subspesies bersayap putih, subspesies bertubuh cokelat, subspesies berwarna abu-abu, subspesies berwarna pink, subpesies berwarna merah, dan subspesies kepala abu-abu. Tak hanya dari warna, tiap subspesies juga bisa dibedakan berdasarkan wilayah penyebarannya.
2. Mampu hidup di daerah Arktik yang sangat dingin

Dilansir GBIF, junco bermata gelap hanya menghuni empat wilayah, yaitu Amerika Serikat, Kepulauan Bahama, Meksiko, dan Kanada. Habitatnya cukup bervariasi, ia bisa ditemukan dari dataran rendah, rawa, area pemukiman, dan kebun yang hangat. Bahkan burung ini juga tak jarang terlihat di pegunungan dan wilayah Arktik yang sangat dingin. Dari hal tersebut dapat terlihat kalau junco bermata gelap merupakan hewan yang adaptif karena bisa hidup di berbagai tipe habitat.
Populasi yang hidup di wilayah utara biasanya akan bermigrasi ke wilayah selatan pada bulan September sampai November. Namun populasi di daerah lain biasanya lebih suka menetap di satu tempat. Perbedaan kebiasaan tersebut sepertinya cukup normal karena suhu, lingkungan, dan kondisi antar daerah yang berbeda. Mungkin populasi di selatan tidak butuh bermigrasi namun populasi di utara justru wajib melakukan migrasi saat suhu terlampau dingin.
3. Punya mata kecil berwarna hitam

Sekilas burung ini mudah dikenali dari tiga hal, yaitu matanya yang kecil dan berwarna hitam, warnanya yang tidak mencolok, dan perawakannya yang mungil dan gemuk. Seperti namanya, burung ini punya mata berwarna gelap, tepatnya berwarna hitam. Warnanya juga tak terlalu mencolok seperti putih, cokelat, jingga, kekuningan, dan hitam. Tubuhnya juga mungil dengan tubuh membulat, kaki kecil, ekor panjang, paruh pendek, kepala kecil, dan bulu yang halus.
Ukurannya sendiri cukup bervariasi, yaitu berkisar antara 13 sampai 17 cm dan bentang sayapnya ada di angka 18 sampai 25 cm. Jika berbicara bobot tiap individu memang punya bobot beragam, tapi jika dikalkulasi bobot rata-rata hewan ini ada di angka 18 sampai 30 gram. Ukuran kecil sepertinya tak menjadi masalah bagi burung ini karena dengan ukuran tersebut junco bermata gelap justru bisa terbang dengan lebih cepat dan lincah.
4. Sarangnya dibangun di atas tanah

Dilansir iNaturalist, junco bermata gelap biasanya akan membangun sarang di atas tanah, sarangnya sendiri berbentuk cup dan sedikit membulat. Penempatan sarang tersebut juga tak sembarangan karena biasanya akan ditaruh di tempat tersembunyi seperti di sekitar semak-semak atau di sekitar pohon yang sudah mati. Layaknya burung lain, sarang burung ini terbuat dari sisa-sisa tanaman, seperti kayu kering, ranting kering, dan rumput kering.
Ukuran sarangnya juga tak seberapa dengan diamater luar sekitar 10 cm. Telur-telurnya berukuran kecil dan akan menetas dalam waktu 12 sampai 13 hari. Setelah menetas anakan burung ini juga tak langsung bisa terbang dan hidup mandiri. Setidaknya mereka harus menunggu 11 sampai 14 hari sebelum meninggalkan sarang dan hidup mandiri tanpa pengawas induknya.
5. Buah beri jadi camilan bagi hewan ini

Laman Avibase menerangkan kalau makanan utama burung ini adalah biji-bijian dan serangga. Terkadang ia juga memakan buah beri, namun buah beri hanya berfungsi sebagai camilan atau makanan pendamping saja. Di banyak kesempatan junco bermata gelap lebih suka berjalan di tanah sembari mencari biji-bijian atau serangga yang ada di rumput atau tanah. Ia tidak terlalu suka mencari makanan di tempat tinggi seperti di atas pohon. Malah daerah tinggi seperti atas pepohonan hanya digunakan burung ini untuk dua hal, yaitu bersantai dan bersembunyi dari predator.
Tak mau kalah dari burung raksasa seperti elang burung kecil seperti junco bermata gelap juga punya segudang fakta unik. Kebiasaan burung ini cukup unik karena ia suka mencari makan di bawah tanah. Reproduksinya juga tak biasa dikarenakan ia lebih suka membangun sarang di tanah dan bukan di atas pohon. Ketahanan tubuhnya juga tak bisa diremehkan karena bisa hidup wilayah di Artktik yang dingin. Tak hanya itu, bahkan hewan ini juga punya 15 subspesies yang sangat beragam, lho.



















