Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Unik Keong Horntail, Siap Kawin pada Usia 130 Hari

5 Fakta Unik Keong Horntail, Siap Kawin pada Usia 130 Hari
keong horntail (inaturalist.org/Douglas Meyer)
Intinya Sih
  • Keong horntail berasal dari India namun kini tersebar luas hingga ke Brazil, Jepang, Amerika Serikat, dan Mesir berkat adaptasinya yang tinggi.
  • Memiliki cangkang kecil berdiameter sekitar 16–18,5 milimeter serta ciri khas berupa tanduk di bagian ekor dan lipatan daging bernama lobus dorsal.
  • Berperilaku sebagai herbivor pemakan detritus yang bisa menjadi hama tanaman, serta mencapai kematangan seksual pada usia sekitar 130 hari dengan sifat hermaprodit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Keong terkenal karena cangkang kerasnya dan ukurannya yang mungil. Tubuhnya juga berlendir dan lembek sehingga memberikan kesan yang menjijikan. Menariknya, keong termasuk hewan yang sukses, lho. Spesies keong juga ada banyak dan salah satunya adalah Tanychlamys indica atau keong horntail.

Salah satu keunikan keong horntail adalah kehadiran "tanduk" di bagian belakang tubuhnya. Hewan bercangkang bulat tersebut juga sangat aktif di semak-semak. Ia termasuk herbivor yang rakus, bahkan bisa menjadi hama karena sering merusak tanaman di ladang. Yuk, cari tahu berbagai fakta unik keong horntail lewat artikel berikut.

1. Keong horntail punya penyebaran yang luas

keong horntail
keong horntail (inaturalist.org/Cressent PH)

Dilansir Molluscabase, keong horntail sebenarnya merupakan spesies asli India. Meski begitu, penyebarannya sudah meluas ke belahan dunia lain dan akhirnya keong tersebut menjelma menjadi spesies introduksi. Berdasarkan berbagai penelitian, tercatat bahwa keong horntail sudah menyebar ke Brazil, Jepang, Amerika Serikat, hingga Mesir.

Di Brazil keong tersebut pertama kali terlihat pada 2017, tepatnya di Negara Bagian Santa Catarina dan Paraná. Pada 2024 populasinya terus meluas hingga ke 16 Negara Bagian, termasuk Amazon. Pada 2020 keong ini pertama kali terlihat di Amerika Serikat, tepatnya di Florida. Terakhir, keberadaanya di Jepang pertama terlihat pada awal 2000an, tepatnya di wilayah Okinawa.

2. Lebar cangkangnya sekitar 18 milimeter

keong horntail
keong horntail (inaturalist.org/Edson Guilherme)

Keong horntail merupakan spesies berukuran kecil dengan cangkang membulat berwarna cokelat. Dilansir iNaturalist, lebar cangkangnya bervariasi, yaitu sekitar 16-18.5 milimeter. Kemudian, tinggi cangkangnya sekitar 8.5 milimeter. Cangkangnya punya tekstur yang halus, transparan, dan memiliki pola lekukan yang memutar dari luar hingga dalam. Badan keong horntail sendiri terhitung ramping dengan warna yang serupa dengan cangkangnya. Selain itu, matanya panjang dan posisinya menghadap ke depan.

3. Keong horntail punya "tanduk" di ekornya

keong horntail
keong horntail (inaturalist.org/張智偉)

Salah satu fitur unik di keong horntail adalah kehadiran "tanduk" kaudal di pangkal kaki atau belakang ekornya. Selain tanduk, ia juga memiliki satu lipatan daging kecil yang memanjang keluar dari cangkang dan membungkus sisi cangkang. Nah, lipatan daging tersebut disebut dorsal lobe atau lobus dorsal. Keduanya merupakan ciri khas anatomi yang membedakan keong horntail dengan spesies keong lain yang ada di habitatnya.

4. Keong horntail merupakan herbivor yang menjadi hama

keong horntail
keong horntail (inaturalist.org/Liu Idárraga Orozco)

Laman Picture Insect menjelaskan bahwa makanan utama keong horntail adalah detritus atau material yang membusuk. Daun busuk, buah busuk, atau bangkai hewan kecil menjadi makanan kesukaannya. Selain detritus, keong horntail juga kerap memakan dedaunan, khususnya daun di tanaman kecil atau daun buah seperti pepaya. Kebiasaan makannya tersebut cukup merugikan karena bisa merusak tanaman. Alhasil, keong horntail dianggap sebagai hama yang sangat merugikan di beberapa daerah.

5. Keong horntail siap kawin pada usia 130 hari

keong horntail
keong horntail (inaturalist.org/Kevin Huang)

Artikel di jurnal Molluscan Research menerangkan bahwa keong horntail akan siap kawin dan mencapai kematangan seksual pada usia 130 hari. Keong ini juga termasuk spesies hermaprodit atau berkelamin ganda. Uniknya, organ yang pertama mencapai kematangan seksual adalah organ reproduksi jantan. Setelah itu, barulah organ reproduksi betina akan menyusul. Ada beberapa aspek yang berpengaruh terhadap reproduksi keong horntail, yaitu suhu, kelembapan, musim, serta curah hujan.

Keong horntail memang bukan spesies berukuran besar atau bisa menyebarkan penyakit. Namun, berbagai fakta unik keong horntail menjadi bukti kalau ia adalah spesies kecil yang memiliki segudang perbedaan dengan keong lain. Semua perbedaan tersebut juga bukan bualan semata karena sudah terbukti dari observasi hingga penelitian yang mendalam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More