Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Keunikan Gerhana Bulan 3 Maret 2026, Bikin Langit Ramadan Dramatis

6 Keunikan Gerhana Bulan 3 Maret 2026, Bikin Langit Ramadan Dramatis
ilustrasi gerhana bulan yang punya keunikan (pexels.com/Andrew Cutajar)
Intinya Sih
  • Gerhana bulan total akan terjadi pada 3 Maret 2026, bertepatan dengan pertengahan Ramadan 1447 H dan dapat diamati langsung dari sebagian besar wilayah Indonesia tanpa alat khusus.
  • Fenomena ini menampilkan efek “blood moon” dengan warna merah tembaga akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi, menciptakan pemandangan langit yang dramatis dan unik setiap kali terjadi.
  • Durasi totalitasnya diperkirakan lebih dari satu jam, memberi kesempatan luas bagi pengamat untuk menikmati perubahan warna sekaligus memahami geometri tata surya secara nyata di malam Ramadan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Langit Ramadan 1447 Hijriah nggak cuma syahdu karena doa dan Tarawih. Tapi, juga karena kosmos sedang menyiapkan panggungnya sendiri. Pada 3 Maret 2026, kita akan menyaksikan gerhana bulan total. Sebuah fenomena ketika bulan perlahan berubah menjadi merah tembaga di tengah malam. Bukan sekadar romantis, tapi juga ilmiah, langka, sekaligus sarat makna.

Buat kamu yang doyan pop-sains tapi tetap ingin merasakan getar spiritualnya, gerhana ini layak masuk bucket list pengamatan langit 2026. Mengutip data resmi dari NASA melalui katalog Five Millennium Canon of Lunar Eclipses, 3 Maret 2026 memang tercatat sebagai gerhana bulan total yang bisa diamati dari sebagian Asia, termasuk Indonesia. Lalu, apa saja keunikannya? Yuk, kita telusuri satu per satu!

1. Terjadi tepat di tengah Ramadan

ilustrasi gerhana matahari yang terjadi di Ramadan
ilustrasi gerhana matahari yang terjadi di Ramadan (pexels.com/chandra diantara)

Gerhana ini berlangsung sekitar 13 hingga 14 Ramadan 1447 H. Secara astronomi, ini terjadi karena gerhana bulan selalu bertepatan dengan fase purnama—ketika matahari, Bumi, dan bulan berada dalam konfigurasi hampir segaris. Ramadan 1447 H yang jatuh pada Maret 2026 membuat purnama bulan tersebut otomatis berpotensi menjadi gerhana jika orbit bulan cukup presisi memotong bayangan Bumi.

Menurut penjelasan Badan Antariksa dan Penerbangan Nasional, gerhana bulan terjadi saat bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Tidak setiap purnama menjadi gerhana karena orbit bulan miring sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi. Jadi, ketika gerhana benar-benar terjadi di tengah Ramadan, bukanlah hal rutin, melainkan pertemuan langka antara kalender lunar dan geometri kosmik.

Bagi masyarakat muslim, fenomena ini juga berkaitan dengan praktik salat gerhana (kusuf). Walau sains menjelaskan mekanismenya secara matematis, pengalaman menyaksikan bulan memerah di bulan ibadah menghadirkan dimensi reflektif yang unik; langit seperti ikut “berpuasa”, meredup sejenak sebelum kembali terang.

2. Termasuk gerhana bulan total, bukan setengah-setengah

ilustrasi gerhana bulan total
ilustrasi gerhana bulan total (pexels.com/Jaqor Q.I.)

Banyak orang masih menyamakan semua gerhana bulan. Padahal ada tiga jenis utama; penumbra (bulan hanya masuk bayangan samar), sebagian (sebagian cakram gelap), dan total (seluruh bulan masuk umbra). Pada 3 Maret 2026, kita akan mendapatkan versi paling dramatis dari gerhana bulan total.

Penjelasan dari National Geographic menyebutkan bahwa fase totalitas inilah yang membuat bulan tampak merah menyala. Saat seluruh cakram bulan berada dalam umbra, tidak ada cahaya matahari yang langsung mengenainya—yang tersisa hanyalah cahaya hasil pembiasan atmosfer Bumi.

Data teknis dari NASA menunjukkan bahwa totalitas gerhana jenis ini bisa berlangsung lebih dari satu jam, tergantung lintasan bulan terhadap pusat bayangan Bumi. Semakin dekat ke pusat umbra, semakin lama totalitas berlangsung, dan semakin dramatis pula perubahan warnanya.

3. Efek blood moon bisa lebih dramatis dari biasanya

ilustrasi gerhana bulan blood moon
ilustrasi gerhana bulan blood moon (unsplash.com/Jonny Clow)

Kenapa bulan berubah merah? Fenomena ini dijelaskan melalui proses Rayleigh scattering, yaitu hamburan cahaya biru oleh molekul atmosfer Bumi, menyisakan spektrum merah-oranye yang kemudian dibiaskan ke arah Bulan. Proses ini identik dengan yang membuat langit senja tampak kemerahan.

Dalam penjelasan edukatifnya, Natural History Museum menerangkan bahwa warna merah pada gerhana bulan total bukanlah “pantulan api” atau efek mistis, melainkan hasil filter alami atmosfer Bumi. Jika Bumi tidak memiliki atmosfer, bulan saat gerhana total akan tampak gelap hampir tak terlihat.

Menariknya, intensitas warna sangat bergantung pada kondisi atmosfer global. Jika ada partikel debu akibat letusan gunung berapi atau polusi tinggi, cahaya yang lolos bisa lebih redup, membuat bulan tampak merah gelap bahkan kecokelatan. Artinya, setiap gerhana total punya “tanda tangan warna” yang unik dan tidak pernah identik satu sama lain.

4. Bisa diamati dari Indonesia tanpa alat khusus

ilustrasi gerhana bulan yang bisa dilihat di Indonesia
ilustrasi gerhana bulan yang bisa dilihat di Indonesia (pexels.com/Emre Ayata)

Salah satu faktor yang bikin fenomena ini spesial adalah visibilitasnya dari Indonesia. Berdasarkan peta jalur gerhana yang dirilis NASA, sebagian besar wilayah Asia termasuk Indonesia berada dalam area pengamatan yang memungkinkan melihat fase total. Tentunya dengan catatan cuaca cerah.

Berbeda dengan gerhana matahari yang memerlukan kacamata khusus, gerhana bulan sepenuhnya aman dilihat dengan mata telanjang. Ini karena yang kita lihat hanyalah pantulan cahaya matahari dari bulan, bukan cahaya langsung yang membahayakan retina.

Bagi masyarakat yang menjalani Ramadan. Momen ini bisa terjadi setelah Tarawih atau menjelang sahur—waktu ketika aktivitas malam memang sedang hidup. Bayangkan suasana masjid atau kampung yang sunyi, lalu langit perlahan memerah. Pengalaman visual ini bisa menjadi momen kolektif yang jarang terjadi.

5. Bertepatan dengan purnama maret yang disebut worm moon

ilustrasi gerhana bulan bertepatan dengan purnama
ilustrasi gerhana bulan bertepatan dengan purnama (unsplash.com/Sora Sagano)

Purnama bulan Maret di Amerika Utara dikenal dengan sebutan Worm Moon, istilah tradisional yang didokumentasikan dalam publikasi Royal Museums Greenwich tentang penamaan bulan. Nama ini merujuk pada mencairnya tanah setelah musim dingin, saat cacing mulai muncul kembali ke permukaan.

Meski istilah ini berakar pada budaya agraris belahan bumi utara, secara astronomi fase purnamanya sama di seluruh dunia. Artinya, ketika kita menyaksikan gerhana 3 Maret 2026, kita juga sedang melihat purnama khas Maret yang memiliki sejarah penamaan panjang.

Kombinasi antara gerhana total dan purnama bermakna musiman membuat fenomena ini terasa lebih “bercerita”. Ia bukan hanya peristiwa langit, tetapi juga bagian dari tradisi pengamatan manusia terhadap siklus alam selama ribuan tahun.

6. Durasi totalitasnya cukup panjang untuk observasi mendalam

ilustrasi gerhana bulan yang durasinya panjang
ilustrasi gerhana bulan yang durasinya panjang (pexels.com/Duc Nguyen)

Salah satu daya tarik utama gerhana bulan total adalah durasinya yang relatif lama dibanding gerhana matahari total yang biasanya hanya beberapa menit. Berdasarkan parameter orbit dalam katalog gerhana NASA, totalitas 3 Maret 2026 diperkirakan berlangsung sekitar satu jam atau lebih.

Durasi ini memberi kesempatan bagi pengamat amatir maupun profesional untuk memotret perubahan warna secara bertahap. Dari awal memasuki umbra hingga puncak totalitas, kamu bisa menyaksikan transformasi warna dari putih terang menjadi merah tua.

Bagi dunia pendidikan, ini juga momen ideal menjelaskan geometri tata surya secara langsung. Tanpa teleskop mahal, tanpa laboratorium canggih, hanya dengan menengadah ke langit. Kamu bisa melihat bagaimana posisi matahari, Bumi, dan bulan membentuk bayangan kosmik yang presisi.

Gerhana bulan 3 Maret 2026 bukan cuma fenomena langit biasa. Ia adalah pertemuan antara geometri tata surya, dinamika atmosfer Bumi, dan momen kultural Ramadan yang penuh refleksi. Sains memberi kita penjelasan rasional; pengalaman memberi kita rasa takjub.

Di antara sahur, doa malam, dan langit yang perlahan memerah, mungkin kita diingatkan bahwa semesta bergerak dengan hukum yang presisi. Dan, kita, meski kecil, tetap diberi kesempatan untuk menyaksikannya.

Referensi

Barry, C. (2026). “March 2026 Total Lunar Eclipse: Your Questions Answered”. Article Earth’s Moon of NASA. Diakses dari https://science.nasa.gov/solar-system/moon/march-2026-total-lunar-eclipse-your-questions-answered/

Espenak, F. (2026). “Lunar Eclipse 2021—2030”. NASA Eclipse Web Site. Diakses dari https://eclipse.gsfc.nasa.gov/LEdecade/LEdecade2021.html

Fazekas, A. (2026). “A ‘blood moon’ total lunar eclipse is coming—here’s when to watch”. Article Science of National Geographic. Diakses dari https://www.nationalgeographic.com/science/article/see-blood-moon-lunar-eclipse

Gohd, C. (2026). “What’s Up: March 2026 Skywatching Tips from NASA”. Article Skywatching of NASA. Diakses dari https://science.nasa.gov/solar-system/whats-up-march-2026-skywatching-tips-from-nasa/

O’Callaghan, J., & Hendry, L. (2026). “Lunar eclipse guide: what they are, when to see them and where”. Article Space of Natural History Museum. Diakses dari https://www.nhm.ac.uk/discover/lunar-eclipse-guide-what-they-are-when-to-see-them-and-where.html

Royal Museums Greenwich (RMG). (2026). “Why do we have special names for full moons?”. Article Space and Astronomy. Diakses dari https://www.rmg.co.uk/stories/space-astronomy/what-are-names-full-moons-throughout-year

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More