5 Fakta Unik Rogue Planets, Planet yang Melayang Bebas Tanpa Bintang Induk!

- Planet pengembara tidak mengorbit bintang mana pun, hidup tanpa cahaya atau panas dari bintang, dan mungkin terbentuk di awan gas di ruang antarbintang.
- Jumlah planet pengembara bisa lebih banyak dari bintang, berukuran sebanding dengan Bumi, dan ditemukan melalui survei microlensing.
- Planet pengembara tetap bisa menyimpan panas dan atmosfer, sulit dideteksi karena hampir tidak memancarkan cahaya, dan menyimpan petunjuk tentang kelahiran sistem planet.
Selama ini, planet kerap dibayangkan mengorbit sebuah bintang, laksana Bumi yang setia mengelilingi Matahari. Namun, alam semesta ternyata jauh lebih liar dan tidak selalu mengikuti pola yang rapi. Di antara miliaran objek kosmik, ada planet yang hidup tanpa “rumah”, mengembara sendirian di ruang antarbintang. Objek inilah yang dikenal sebagai rogue planets atau planet pengembara. Mereka tidak memancarkan cahaya sendiri dan nyaris tak terlihat di tengah gelapnya kosmos. Meski begitu, jumlahnya diperkirakan sangat besar, bahkan bisa melebihi jumlah bintang di galaksi. Lantas, seperti apa sebenarnya dunia-dunia kesepian ini? Yuk, simak empat faktanya lewat poin-poin berikut!
1. Planet pengembara tidak mengorbit bintang mana pun

Planet pengembara adalah planet yang tidak terikat oleh gravitasi bintang induk mana pun. Mereka melayang bebas di ruang antarbintang dan bergerak mengikuti dinamika galaksi. Kondisi ini membuat planet pengembara begitu gelap karena tidak menerima cahaya atau panas dari bintang. Akibatnya, suhu permukaannya dapat mencapai tingkat ekstrem yang sulit dibayangkan.
Para ilmuwan meyakini bahwa planet pengembara awalnya terbentuk di dalam sistem bintang layaknya planet pada umumnya. Namun, interaksi gravitasi yang kacau—baik dengan planet lain maupun dengan bintang tetangga—dapat melempar mereka keluar dari sistem asalnya, terutama pada tahap awal pembentukan sistem keplanetan yang masih belum stabil. Di sisi lain, pengamatan astronomi menunjukkan kemungkinan jika sebagian planet pengembara lahir langsung dari awan gas di ruang antarbintang (mirip dengan cara bintang terbentuk), sehingga mereka tidak pernah mempunyai bintang induk sama sekali.
2. Jumlah planet pengembara bisa lebih banyak dari bintang

Salah satu fakta mengejutkan tentang planet pengembara adalah jumlahnya yang melimpah. Penelitian memperkirakan di Bima Sakti, populasi planet pengembara bisa menyamai atau bahkan melampaui jumlah bintang. Artinya, galaksi kita mungkin dipenuhi dunia-dunia gelap yang tidak memiliki matahari.
Temuan tersebut diperoleh melalui survei microlensing, sebuah teknik yang mendeteksi objek tak kasatmata lewat pengaruh gravitasinya terhadap cahaya bintang latar. Studi yang dirilis tahun 2023 dengan melibatkan tim internasional, mengindikasikan keberadaan miliaran hingga triliunan planet pengembara hanya di galaksi kita. Tim tersebut juga menemukan bahwa planet pengembara berukuran sebanding dengan Bumi, jauh lebih umum dibandingkan planet bermassa besar seperti Jupiter.
3. Tetap bisa menyimpan panas dan atmosfer

Meski hidup tanpa bintang, planet pengembara tidak selalu jadi bongkahan es mati. Beberapa di antaranya menyimpan panas internal dari proses pembentukan dan peluruhan unsur radioaktif. Panas ini cukup untuk mempertahankan atmosfer tebal dalam jangka waktu lama.
Sejumlah ilmuwan berhipotesis mengenai keberadaan lautan bawah permukaan di planet pengembara, merujuk pada proses yang terjadi di Europa dan Enceladus, bulan Saturnus. Lapisan es tebal di bagian luar berperan sebagai isolator, sedangkan panas dari interior menjaga air tetap cair. Energi internal ini bertugas menggantikan fungsi bintang menjadi sumber energi utama. Oleh sebab itu, planet pengembara kerap dibahas dalam kajian astrobiologi sebagai lingkungan ekstrem yang berpotensi menopang kehidupan mikroba.
4. Sulit dideteksi, tapi bukan tak terlihat

Mendeteksi planet pengembara adalah tantangan besar karena mereka hampir tidak memancarkan cahaya. Metode paling efektif untuk menemukannya adalah gravitational microlensing, yaitu ketika gravitasi planet membelokkan cahaya bintang di belakangnya. Efek ini bersifat sementara serta membutuhkan pengamatan yang sangat presisi. Makanya, hanya sebagian kecil planet pengembara yang berhasil terdeteksi.
Selain microlensing, teleskop inframerah juga digunakan untuk mendeteksi panas sisa dari planet pengembara muda. Objek yang masih hangat akan memancarkan radiasi inframerah lemah. Teknologi ini membantu ilmuwan menemukan planet pengembara di wilayah kosmik terdekat. Seiring perkembangan teleskop, jumlah penemuan diprediksi akan terus meningkat.
5. Menyimpan petunjuk tentang kelahiran sistem planet

Planet pengembara bukan sekadar planet tersesat, melainkan arsip alami proses pembentukan planet. Kehadiran mereka merupakan bukti kalau sistem planet dapat mengalami fase kekacauan ekstrem. Dari interaksi gravitasi hingga tabrakan besar, semua meninggalkan jejak dalam bentuk planet yang terlempar.
Data terkait massa, suhu, dan distribusi planet pengembara membantu memverifikasi teori pembentukan planet modern. Mereka juga memberi gambaran seberapa sering sistem planet mengalami instabilitas. Tanpa mereka, pemahaman kita tentang evolusi planet bisa jadi lebih sempit.
Keberadaan planet pengembara mengingatkan kita bahwa alam semesta tidak selalu berjalan rapi dan teratur. Di balik kegelapan ruang antarbintang, dunia-dunia sunyi ini menyimpan kisah penting tentang kekacauan dan kelahiran sistem planet. Semakin banyak kita mempelajarinya, semakin jelas betapa luas serta tak terduganya semesta yang kita huni.



















